Category: Artikel dan Berita

Status Facebook 8 September 2016

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi:https://goo.gl/X7dKov


anak SDSebenarnya cerita ini pernah saya tulis dalam buku “Pendidikan Anak ala Jepang”. Tapi saya merasa perlu menulis lagi di sini agar bisa makin mencerahkan kita semua.
Dulu saat masih menetap di Jepang, kami pernah tinggal di daerah pegunungan. Jalannya naik turun. Bahkan beberapa jalan sangat menukik tajam. Tidak ada sama sekali angkutan umum menuju SD anak saya. Untuk menuju ke sekolah, anak saya harus berjalan kaki sekitar 40-45 menit (kecepatan sedang-cepat). Jadi total 80-90 menit PP.
Anak saya tidak sendiri. Anak2 Jepang lain dan anak2 warga asing lainnya juga berjalan kaki ke sekolah. Peraturan jalan kaki tersebut adalah peraturan dari sekolah dan pemerintah kota setempat.
Kalau hujan bagaimana? Apakah kemudian membolos atau orangtua diam2 mengantar anak dengan mobil? Tidak. Kalau hujan, anak-anak memakai sepatu boots, jas hujan, dan payung. Anak-anak TETAP berjalan kaki ke sekolah.
Kalau turun salju dan udara sangat dingin menggigit tulang? Apakah membolos atau orangtua diam2 mengantar dengan mobil? Tidak juga. Anak-anak memakai sepatu boots, jas hujan/payung, kopyah, mengenakan jaket tebal, sarung tangan, atau perlengkapan winter lainnya. Mereka TETAP jalan kaki.
Jepang memang saya acungi jempol dalam mendidik kemandirian dan kedisiplinan anak. Kasus tersebut di atas adalah salah satu contohnya.
OK, banyak orangtua yg komplain saat saya mengatakan hal tersebut di seminar2 yang saya berikan. Kondisi Indonesia dan Jepang memang tidak sama. Jepang lebih aman dan memiliki infrastruktur nyaman bagi pejalan kaki. Sehingga, orangtua tidak khawatir membiarkan anak berangkat sekolah berjalan kaki.
Tentu saja, semua yg ada di Jepang tidak bisa kita tiru PLEK sama persis. Perlu kita modifikasi, sesuai kondisi kita. Yang WAJIB kita contoh adalah usaha mereka dalam membangun kemandirian dan kedisiplinan anak. Kalau tidak memungkinkan anak kita berangkat ke sekolah berjalan kaki, paling tidak kita bisa memberikan kesempatan kepada anak-anak dalam membangun kemandirian dan kedisiplinannya dengan cara meminta mereka BERJALAN KAKI atau BERSEPEDA jika ingin ke tempat-tempat yg tidak terlalu jauh. Kalau anak sudah cukup mengerti, biarkan mereka NAIK ANGKUTAN UMUM.
Tidak perlu naik ojek kalau hanya ingin masuk/keluar komplek perumahan, tidak perlu mengantar anak terus-menerus, APALAGI mengizinkan mereka mengendarai kendaraan bermotor. Selain sangat membahayakan dirinya sendiri, mereka juga sangat membahayakan nyawa ORANG LAIN.
Foto kiri atas adalah foto anak saya bersama kawan2 Jepangnya ketika berangkat ke sekolah saat kami sudah pindah dari kota berpegunungan-Nara- ke kota besar Fukuoka. Mau di pegunungan, mau di kota, semua daerah mewajibkan anak berjalan kaki ke sekolah. Di luar sekolah, selain berjalan kaki, anak hanya diizinkan bersepeda.
Foto kanan atas adalah rombongan anak2 Jepang kelas 1-2 SD berangkat sekolah dengan berjalan kaki.
Foto bawah adalah potret anak-anak di Indonesia. Sudah dimanjakan dengan kendaraan bermotor meskipun secara fisik dan psikis BELUM SIAP mengendarainya.
Sebagai warga dari negara yang masih berkembang ini dan melihat perbandingan foto2 di atas, seharusnya kita MALU dan segera BERBENAH DIRI. Agar Indonesia tidak selamanya tertinggal di belakang. Karena anak yang terbiasa MELANGGAR PERATURAN pada saat kecil, maka mereka akan SENANG melanggar peraturan pada saat DEWASA nanti.
Setelah tertabraknya sahabat saya beberapa waktu lalu oleh pengendara anak2, saya membuat petisi kepada pemerintah agar segera dibuat undang-undang yang bisa memenjarakan orangtua yang lalai maupun dengan sengaja mengizinkan anak di bawah usia mengendarai kendaraan bermotor. Petisi tersebut kini sudah ditandatangani oleh lebih dari 6.000 orang.
Karena petisi tersebut, kemarin hingga hari ini, saya berturut-turut dihubungi olehdetik.com, TV Berita Satu, dan TV Trans7. Mereka menyatakan sangat mendukung petisi tersebut agar undang2 yang mengatur pelanggaraan tsb bisa segera direalisasikan oleh pemerintah. Ulasan daridetik.combisa dibaca di sini:http://bit.ly/2bZXOWB
Dan bagi yang belum menandatangani petisi ini, mari ramai2 tandangani dan sebarkan petisi ini :http://chn.ge/2ak7d7L
Demi Indonesia yang LEBIH BAIK dan LEBIH AMAN.#nodrivingunder17
Salam hangat,
Saleha Juliandi
——
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahanbersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 19 November 2016

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi: https://goo.gl/gKSYMB


bersih-bersihFoto aktivitas murid-murid Jepang di bawah sampai sekarang masih menjadi impian saya untuk Indonesia. Dimana PENDIDIKAN KARAKTER anak digembleng habis dan diutamakan di seluruh sekolah di Indonesia. Termasuk salah satunya dalam membangun tanggung jawab anak dalam menjaga KEBERSIHAN dan FASILITAS UMUM secara bersama-sama.
Tidak mengherankan jika toilet-toilet umum di Jepang sangat bersih dan nyaman. Bahkan, bisa saya katakan sangat nyaman digunakan untuk ruang makan dan tidur (!). Yap, memang demikian toilet di sana karena saking bersih dan nyamannya. Tidak pesing, tidak amis, tidak becek, tidak berceceran tisu (meski tidak ada petugas cleaning service yang menjadi penunggu toilet😁).
Semua anggota masyarakat menjaga kebersihan toilet umum bersama-sama. Tentu, semangat tersebut merupakan buah dari perjalanan panjang pendidikan karakter yang digembleng sejak kecil-yang tergambar pada foto di bawah.
Jepang memang bukan negara yang menjadikan agama sebagai landasan. Tapi, kita patut menyontoh cara mereka agar Indonesia yang beragama ini juga memiliki toilet-toilet yang bersih dan nyaman.
“Selamat Hari Toilet Sedunia. Mari kita jaga toilet umum bersama-sama.”
-Saleha Juliandi-
—–
Catatan tentang nilai2 edukasi di Jepang: setiap harinya, anak-anak SD hingga SMA di Jepang memiliki kewajiban membersihkan sekolah (catat! bukan hanya membersihkan skala “kelas”. Tapi skala “sekolah” termasuk kelas, lorong sekolah, kandang hewan, lapangan outdoor-indoor, hingga TOILET). Tugas membersihkan sekolah tersebut dilakukan SETIAP SISWA dan SETIAP HARI (bukan setiap siswa hanya dapat jatah piket sehari dalam seminggu). Tidak ada yang mengeluh atau diam-diam mangkir dari tugas. Karena guru, orangtua, dan pemerintah bersama2 mendukung dan memotivasinya.
——
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 19 Februari 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi:https://goo.gl/aR5w98


SD
~Oleh-Oleh dari Jepang untuk Indonesia~
Kami ke Jepang bukan hanya untuk bersenang2 dan mencari keuntungan semata. Tapi ada misi dan visi yang sangat kuat kami pikul dalam membantu membangun karakter bangsa.
Kalau Indonesia ingin menjadi negara yang maju, maka ubahlah terlebih dulu karakter masyarakatnya. Untuk mengubah karakter masyarakat sebuah bangsa, maka mulailah membentuk karakter tersebut sejak mereka masih anak-anak.
Foto di bawah adalah oleh-oleh kami dari Jepang. Pesan dari anak-anak Jepang untuk anak-anak Indonesia. Pesan sederhana yang merupakan kunci dasar kesuksesan sebuah negara.
– Jagalah Kebersihan
– Mengantrilah dengan Benar
– Jagalah Fasilitas Umum
– Taatilah Peraturan
– Jagalah Kedisiplinan
– Cintailah Alam dan Makhluk Hidup Lain
– Gunakan Waktumu untuk Aktivitas yang Produktif
Kalau Jepang saja bisa, Indonesia pun pasti Bisa! Tergantung dari kemauan keras dalam mewujudkannya.
Silakan dishare jika dianggap penting

Jika tulisannya kurang jelas terbaca, bisa diperbesar gambarnya😊
——
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 27 April 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi: http://bit.ly/2yCmSOs


papa mertua saat mengatur lalu lintas
Dalam perjalanan kami di Lampung beberapa waktu lalu, kami dihadapkan dengan kemacetan yang amat parah. Lalu lintas total berhenti, tidak bisa bergerak sama sekali.
Papa mertua saya (sudah sepuh, usia 60an) turun dari mobil dan jalan jauuuh menjauhi kendaraan kami untuk mencari sumber kemacetan dan mengatur lalu lintas sehingga sumber kemacetan terurai. Kami yang tetap di dalam kendaraan bahkan sampai cemas karena sosok beliau tidak kunjung terlihat lagi.
Dengan kondisi fisik di usia sepuhnya, tentu lebih nyaman bagi beliau tetap duduk di dalam kendaraan yang ber-AC dan tanpa kepulan asap knalpot yang meradang di luar. Beliau tidak berniat ingin mencari ucapan “terima kasih” atau penghormatan dari para pengguna jalan, apalagi mencari uang receh😄. Di usianya yang sudah cukup senja itu, beliau hanya ingin bisa lebih banyak berbuat baik dan bermanfaat untuk orang lain.
Tapi, tak terelakkan masih ada saja pengendara yang tidak punya kesabaran justru memaki dan memarahi beliau karena tidak rela diatur secara bergantian. Padahal, mereka pengendara2 yang lebih muda dan perkasa ketimbang papa mertua.
Memang tidak selamanya niat baik selalu dikenang baik. Tidak selamanya juga kontribusi baik selalu dinilai baik.
Sebaik apapun yang kita lakukan, nantinya tetap saja akan ada omongan sumbang mengenai kita.
Jadi ibaratnya kalau berjalan, lempeng-lempeng saja. Selama yang kita lakukan benar, tidak perlu menghiraukan pendapat negatif orang.
Dan sebaliknya, semoga kita bukan termasuk golongan yang sering mengeluarkan nada sumbang atas usaha seseorang.
—-
Foto: lokasi papa mertua saat mengatur lalu lintas akhirnya kami temukan juga.
—–
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahanbersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 18 Mei 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi: http://bit.ly/2yDpeeE


salehajuliandiSudah kangen ingin ke Jepang lagi. Selain ingin kembali mempelajari budaya positif mereka, yang tidak kalah seru karena ingin belanja di toko secondhand lagi (hehe…)
Masyarakat Jepang sangat terkenal dengan pribadi yang sangat menjaga dan merawat barang. Sehingga walaupun telah mendapat predikat “barang bekas”, tapi kualitasnya masih OK. Barang-barang tersebut mereka jual biasanya bukan karena alasan rusak tapi biasanya karena alasan lain seperti ingin pindah rumah, ingin menyortir barang lama agar tidak memenuhi rumah, karena telah memiliki barang yang baru, karena bosan, atau alasan lain.
Kacamata hitam yang saya kenakan pada foto bermerk PRADA, harga barunya sekitar 4 jutaan rupiah. Di toko secondhand ini hanya saya beli dengan harga Rp. 300,000. Awalnya 3,500 yen atau sekitar Rp. 350,000. Saya tawar dengan nada melas, akhirnya dikasih hehe.
Sweater coklat muda yg saya kenakan saat kencan dengan suami juga barang secondhand Jepang, loh.. (Duh blak-blakan banget nih jadinya😁). Sweater tersebut hanya saya beli seharga Rp. 20,000 padahal tanpa cacat sedikit pun.
Daan… Coat yang beberapa waktu lalu ditaksir oleh banyak teman saat saya upload foto dengan coat yang sama, hanya saya beli dengan harga Rp. 70,000. Saya searching2, harga barunya sekitar 3 juta rupiah. Bukan hanya teman2 yang naksir dgn coat tersebut. Saya pun sukaa dengan coat tersebut. Sama sekali tidak terlihat barang bekas dan saya tidak menemukan cacat sedikit pun pada coat tersebut.
InsyaaAllah kami beserta rombongan tur akan kembali ke Jepang akhir tahun ini. Selain kunjungan ke sekolah dan daycare di Jepang, Toko Secondhand terbesar dan terlengkap menjadi salah satu prioritas kunjungan kami.
Siapa sih yang tidak mau barang bagus dengan harga sangat murah? Untuk tampil menarik, tentu tidak harus yang mahal, bukan?😊
Berhemat lah untuk kebutuhan benda-benda mewah dan non produktif. Sementara itu, jangan ragu berinvestasi sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan ilmu dan celengan di akherat👍🏼
Ingin bergabung dengan tur kami? Hubungi : salehajuliandi.secretary@gmail.com
—–
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 21 Mei 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi:http://bit.ly/2zDAWG5



Mungkin karena sudah 38 tahun (heading to 40yo😅), tulang kadang tidak mau diajak kompromi. Biasanya bersepeda rutin setiap pagi tidak masalah, sekarang menjadi bermasalah di persendian lutut.
Akhirnya beberapa hari yg lalu saya putuskan ke dokter orthopedi. Saya pikir karena mereservasi malam hari, antrian makin sepi. Ternyata tidak. Antrian tetap saja masih banyak.
Dengan kaki yang terasa ngilu, saya tidak kuat berdiri lama dan mencoba mencari-cari kursi kosong untuk duduk. Akhirnya mata saya tertuju pada kursi yang setengah kosong. Saya sebut “setengah kosong” karena ada seorang pasien (pengantar pasien?) yang duduknya memenuhi 2 kursi. Bukan karena badannya gemuk sehingga memenuhi 2 kursi, tapi karena posisi duduknya di tengah-tengah antara 2 kursi. Posisi badannya juga miring dengan kaki melebar sehingga nyaris memenuhi 2 kursi sekaligus.
Saya mendekati kursi tersebut dengan langkah kaki pincang. Saya pikir dengan sendirinya orang tersebut akan menggeserkan duduknya dengan cepat. Tapi ternyata tidak. Posisinya tidak geser sedikit pun. Akhirnya saya duduk nyempil, terasa pan*at hanya menempel di pinggiran kursi. Sementara orang tersebut, cuek tidak peduli atau tidak sadar (?)😁.
Saya tidak menganggap orang lain buruk sementara saya sempurna. Ini hanya menjadi pengingat buat saya sendiri dan kita semua, bahwa banyak sekali hal-hal kecil yang kita lakukan dalam kehidupan, seringkali tidak kita sadari telah merugikan dan menyusahkan orang lain. Sementara kita merasa sudah menjadi orang yang paling benar dan suci.
Saya ingat prinsip Jepang tentang meiwakushinai (迷惑しない), yaitu prinsip memberikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain. Kalau belum bisa memberikan manfaat baik untuk orang lain, setidaknya kita tidak menyusahkan yang lainnya. Ini sangat terlihat dari perilaku2 orang jepang dalam hal-hal sepele, salah satu contohnya adalah selalu melap tangan dan cipratan air di washtafle umum setelah mencuci tangan sehingga air tidak membasahi lantai dan menyebabkan orang lain terpleset.
Prinsip “meiwakushinai” tersebut sebenarnya sangat islami (agamis). Dan sepertinya kita harus banyak2 instrospeksi diri. Sudahkah kita menjadi pribadi yang benar2 islami (agamis)?
-Saleha Juliandi-
—–
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 12 Juli 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi:https://goo.gl/5YPWyS


kaiko
Keiko (6 tahun), walau dulu pas belajar baca lebih lambat daripada saudara kembarnya, tapi sekarang malah terlihat lebih gemar membaca. Membacanya sudah sangat lancar, bahkan buku2 saya dia baca (buku full text, tanpa gambar). Kalau saya sodorkan buku anak (banyak gambar, sedikit tulisan), katanya: “gak mau baca buku itu. Itu buku buat anak2.”😄Oalah, memang kamu itu udah dewasa to😅
Orangtua tidak perlu khawatir apabila anak lambat dalam membaca. Keterlambatan membaca bukan berarti anak bodoh/terbelakang. Banyak sekali faktor penyebabnya. Salah satunya adalah belum adanya “kesiapan” anak menerima pelajaran membaca atau “metode belajar” yang kurang pas untuk anak. Telitilah kesiapan anak serta metode pengajaran yang diterapkan. Cepatnya anak bisa membaca tidak ada korelasinya terhadap kegemaran anak membaca.
Menumbuhkan kegemaran membaca pada anak sebenarnya tidak sulit. Kita sebagai orangtua, Perbanyak lah Membaca. Maka anak otomatis akan mengikuti.
Foto: Keiko baca buku saya berjudul “Totto-chan” sambil menunggu pesanan.
——
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 25 Mei 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi:https://goo.gl/gu5jtG



Daftar pertanyaan untuk Ibu sebelum membuka sosmed atau mengambil jatah “me time” :
1. Sudahkah mengecek bacaan salat anak-anak?
2. Sudahkah mengecek hafalan surah anak-anak?
3. Sudahkah mengecek bacaan iqro (Al-Quran) anak-anak?
4. Sudahkah mengecek pelajaran (kemampuan akademis-kognitif) anak-anak?
5. Sudahkah mengecek ketrampilan penunjang lain yang akan membantu anak mampu bersaing di zamannya nanti?
6. Sudahkah menemani anak-anak bermain at least membacakan buku untuk mereka?
7. Sudahkah berbicara dari hati ke hati kepada anak at least menanyakan kabarnya hari ini?
8. … bisa diisi sendiri menyesuaikan kondisi masing2.
Ternyata banyak banget ya tugas wanita. Tidak sekedar urusan dapur dan kasur😊. Tapi juga tidak kalah penting adalah tugas dalam mendidik anak-anak. Tentu daftar tugas di atas gak harus “brug” dilakukan dalam satu waktu. Bisa dipotong2, diselingi dengan “me time” atau tugas lain. Agar anaknya tidak bosan juga. Yang penting dalam sehari harus dilakukan semua Tugas Ibu tsb. Kalau saya, saya selingi mengurus bisnis dan dapur. Kadang saya selingi baca buku atau nonton tv sebagai me time. Tergantung mood dan target lain😁.
Tips Ibu agar tidak lupa pada peraturan:
1. sign out dari seluruh akun sosmed agar tidak tergoda membukanya sebelum tugas-tugas mendidik anak dilakukan.
2. Catat “Peraturan untuk Ibu” di tempat yang gamblang bisa dilihat setiap saat. Kalau perlu ditempel di casing HP dan laptop😊
“Tidak hanya anak yang memerlukan peraturan, tapi orangtua pun memerlukannya”
-saleha juliandi-
—-
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 24 Agustus 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi:https:http://bit.ly/2xagYkD



Hatarakeee… Hatarakeee…
(Bekerjalah… Bekerjalah…)
Penasaran dengan pertunjukan seni yang diselenggarakan SD di Jepang? Video di bawah ini kami ambil saat Tur Edukasi Jepang Februari 2017.
Yang saya suka di setiap pertunjukan anak-anak SD di Jepang adalah :
– Sederhana: TANPA make up setitik pun namun TOTAL dalam menyuguhkan kualitas pertunjukan (mereka hanya mengenakan seragam sekolah yang biasa dipakai sehari-hari). Kalaupun ada kostum yang dikenakan, mereka membuat sendiri kostumnya.
– SEMUA anak mendapatkan peran. Bukan hanya anak yang berprestasi saja yang boleh unjuk gigi di panggung. Anak dengan prestasi akademik terburuk pun tetap ikut manggung. Sehingga tidak ada anak yang merasa paling hebat, tidak ada juga anak yang merasa tersisihkan. Bahkan, ABK (anak berkebutuhan khusus) tetap diberikan peran di panggung.
– Anak2 lain yang menonton sangat tenang menyaksikan pertunjukan (tidak berisik sendiri). Ini menunjukkan mereka sangat menghormati sebuah karya.
– lagu2 yang dibawakan dalam pentas seni umumnya menyampaikan pesan-pesan moral (note: gak ada lagu cinta-cintaan😊). Contohnya dalam video ini mereka menyerukan: “Hatarakeeee… Hatarakeeee… (Bekerjalah…. Bekerjalah….)”💪🏼💪🏼💪🏼. Pantas saja kalau mereka terkenal sebagai pekerja yang sangat ulet. Lha wong dari kecil dicekokinya sama lagu-lagu seperti ini.
Berikut tulisan apik dari salah satu peserta tur – MbaAida Ulya Yuzaimaa – bisa dibaca sebagai referensi👇🏼😊. Thanks alot mba Aida😘
========
Bukan duta, bukan endorse, bukan lagi tapi late post😁. Sebuah cerita perjalanan bersama Mami Saleha Juliandi, salah satu penulis heitzzz Indonesia. Tulisan ini murni untuk berbagi pengalaman, sebagai catatan pribadi, sekaligus untuk memenuhi cuitan request dari mami dan kakak-kakak sholehah (Decy Sahriani Nasution, Geo Wahyuni Panjaitan) untuk memindahkan catatan ini dari laman instagram saya.
Semoga berkenan.🙏🙏🙏
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Tebak ini dimana?😎
Yap ! Ini di Jepang, tepatnya di salah satu sekolah dasar, Nara Prefecture yang masuk dalam Kansai Area. Saya dan kakak-kakak sholehah serta satu adik sholeh😝, kali ini berkesempatan melihat school performance dari anak kelas 6 SD yang akan segera lulus di tahun ini. Pertunjukan yang membuat kami tak henti berdecak kagum. Penasaran apa yang membuat kami segitu lebay-nya?
(1). Murid-murid memiliki andil sangat besar dalam pertunjukan. Mereka saling bahu-membahu mempersiapkan hal-hal yang menunjang keberhasilan pertunjukan. Guru kesenian hanya sekali-kali memberikan bantuan. Selama pertunjukan berlangsung, saya speechless. Dalam hati, saya bolak-balik bilang, “gilak ! Ini sih keren abis”😍. Para murid mengganti setting-an panggung pertunjukan sesuai tema dengan gerakan yang sangat cepat tapi gak berantakan. Empat jempol buat mereka👍— duanya pinjem jempol Kakak Ecy *sendermanjaaa😝
(2). Mereka lebih mengutamakan kualitas pertunjukan dibandingkan “penampakan”. Dari foto yang saya lampirkan ini, minasan bisa lihat panggung pertunjukan diisi oleh barisan anak-anak dengan kostum seragam sekolah. No need riasan atau kostum menawan. Dengan kesederhanaannya, mereka tetap dapat menyajikan pertunjukan yang sangat memukau.👏👏👏
(3). Para penonton terlihat sangat tertib dan tenang selama pertunjukan berlangsung. Kalau ada siswa yang datang terlambat, maka mereka akan bergabung dengan barisan penonton sambil berjalan dan sedikit merunduk. Orang Jepang terkenal sangat menghargai dan menjaga kenyamanan orang lain. — kayak akoohh, yang suka gak enakan😝😂
(4). Kepala sekolah beserta guru-guru lainnya tidak diberikan tempat khusus, di area paling depan pertunjukan. Lagi-lagi ini membuat kami semakin respek. Mereka semua berdiri dibagian belakang area pertunjukan, tidak jauh dari tempat kami berkumpul. Bahkan ketika harus memberikan sambutan, Kepala Sekolah harus sedikit berlari kecil untuk bisa sampai podium.🏃🏃🏃
(5). Oleh karena ini farewell-nya anak kelas 6, maka isi dari pertunjukan sarat dengan pesan-pesan positif untuk adik-adik kelas. Sebagai kakak, mereka mengingatkan agar adik-adiknya terus semangat dalam menuntut ilmu dan mengejar cita-citanya. How sweet ya😍😍😍
Sebagai penutup, mereka melantunkan lagu Hana wa Saku — the flower will bloom — yang merupakan salah satu proyek NHK untuk men-support proses recovery pasca bencana yang terjadi di Jepang. Kami pun kembali hanyut dalam pertunjukan.🎶🎶🎶
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sekali lagi, bukan duta, bukan endorse, bukan lagi tapi late post. Tapi kalau kepo, pengen ngerasain langsung, sila contact langsung Mami Saleha Juliandi, Japan edu tour tahap 2 In syaa Allah akan berangkat November 2017. Wow ! Jepang lagi cantik-cantiknya tuh. Momiji🍁🍁🍁
Selamat beraktivitas minasan😍😍😍
Salam.
——
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 30 Agustus 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi: https://goo.gl/RtPN8t


Cerita antara Kentut dan Usaha
 
– Cerita antara Kentut dan Usaha –
Dulu setelah melahirkan caesar si kembar, saya merasakan sakit luar biasa di dalam perut. Bukan sakit akibat jahitan caesar, melainkan sakit karena banyak angin yang terjebak dalam perut.
Ketika itu adalah pertama kalinya saya merasakan sakit perut luar biasa akibat tidak bisa kentut. Hehe.. gak elit banget penyakitnya. Dokter bilang: “ibu harus segera turun dari kasur dan banyak jalan kaki.”
Wow.. menggeserkan sedikiiit kaki dan pinggul saja, rasa sakit akibat caesar masih luar biasa. Nah ini bukan hanya menggeserkan kaki dan pinggul tapi disuruh turun kasur dan jalan-jalan di rumah sakit. Demi biar bisa kentut!😱
“Dok, tapi badan bagian bawah saya masih sakit semua. Saya sulit menggerakkan kaki dan pinggul. Apa tidak ada obat minum yang bisa membantu saya buang angin?” Saya tiba-tiba ingat di indonesia kan banyak tuh obat-obat untuk buang angin. Tinggal minum beberapa butir, sambil tiduran pun langsung deh d*t…😷
“Tidak ada. Ibu harus segera turun dari kasur dan jalan. Dengan banyak berjalan, ibu akan kentut.” Lalu sang dokter mengulurkan tangan membantu saya bangun dari kasur, kemudian dia memberikan tiang infusnya pada saya. Maksudnya biar saya bisa jalan-jalan dengan infus yang masih melekat di tangan😩. Tiang infus juga diharapkan dapat berfungsi sebagai pegangan.
Wow itu kenangan yang sepertinya bakal sulit saya lupakan. Karena luarrr biasa sakit, bahkan untuk maju satu langkah saja saya memerlukan waktu 2-3 menit.
Herannya, ramainya dokter/suster yang lalu-lalang melalui saya sama sekali tidak menggubris. Tidak ada sapaan: ‘ibu baik-baik saja kok berdiri di tengah-tengah jalan?’ Atau ‘masih sakit bu? Sini saya bantu papah.’ Yang ada malah mereka bilang: ‘ganbatte ne okaasan (semangat ya ibu)’😊.
Dan… setelah saya berhasil berjalan, memang benar angin perut pun deras keluar😷dan proses penyembuhan lain menjadi sangat cepat. Bahkan saat pulang ke apartemen, saya sudah bisa langsung melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri tanpa PRT.
Waktu itu saya merasakan betul bagaimana mencapai sebuah impian kecil (dalam hal ini ingin bisa kentut) melalui “perjuangan nyata” bukan “cara instan”. Perjuangan nyata memang memberikan hasil yang lebih NYATA.
Tidak hanya dalam urusan kentut ini, perjuangan nyata diterapkan juga Jepang dalam belajar. Kalau mau bisa, ya usaha. Ya belajar. Tidak ada cara instan. Tidak ada keajaiban cinderella di dunia nyata.
Alat belajar hanya sebagai media bantu. Seperti “Kartu Hitung Cepat ala Jepang” yang kami produksi hanyalah sebagai ALAT BANTU yang MEMUDAHKAN untuk anak-anak belajar. Bukan berarti dengan membeli “kartu hitung cepat ala Jepang” anak otomatis lancar berhitung seperti mendapatkan sihir dari ibu peri.
Seperti tangan sang dokter yang membantu saya. Seperti tiang infus yang menjadi tumpuan saya berjalan. Seperti ucapan penyemangat hati “Ganbatte ne Okaasan”. Tangan dokter, tiang infus, dukungan moril adalah MEDIA (ALAT) BANTU. Mereka MEMUDAHKAN saya. Tapi, hasil akhir tetap tergantung pada usaha.

Foto: 1 jam sebelum operasi caesar dengan berat bayi masing-masing 3 kg dan 2,8 kg.
——
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.