Senja di Persimpangan

Rp55,000.00

die Dreieckgeschichte

- +
SKU: 229 Category: Tag:

Description

Novel berjudul Senja di Persimpangan yang diilhami dari kisah nyata yang dialami penulis ini bercerita tentang cinta segitiga para sukarelawan yang tengah menjalankan sebuah misi. Kisah bermula saat para mahasiswa yang berjumlah 15 orang ini mendaftarkan diri dalam sebuah kegiatan pengabdian pada masyarakat di sebuah desa yang terisolasi dari hiruk-pikuk ibu kota, Desa Biji Wening. Kelima belas mahasiswa ini berasal dari berbagai jurusan dan kampus yang berbeda. Mereka digabungkan dalam satu kelompok yang fokus utamanya yaitu meningkatkan kualitas warga desa di bidang pendidikan, budaya, dan sastra. Kelompok mereka bernama Kelompok Teratai.

Sejak awal mereka berkumpul, Rei, pria tertampan yang ada dalam kelompok telah jatuh hati pada Kia, teman perempuan yang di awal pertemuan mereka selalu menyumbangkan gagasan-gagasan brilian. Wajar saja jika Rei mencintai Kia, mengingat prestasi yang telah ditorehkan Kia di bidang akademik telah membuat banyak teman-temannya terkagum-kagum.

Saat awal kedatangan mereka di Desa Biji Wening, tak ada pasangan lain yang lebih mesra selain Rei dan Kia. Meskipun saat itu sesungguhnya mereka masih bersembunyi dari kenyataan perasaan yang dialami keduanya. Rei dan Kia memang sama-sama memiliki kemampuan menerawang hati orang lain, termasuk rekan sekelompok mereka.

Seiring berjalannya waktu, Mia yang terpesona oleh ketampanan dan kecerdasan Rei lama-lama juga menaruh harapan untuk menjadikan pria itu sebagai kekasihnya. Di lain pihak, Mia merasa iri saat mengetahui bahwa Kia adalah sosok yang cerdas selain dirinya yang dimiliki oleh Teratai. Sejak Mia tahu bahwa IP Kia hampir menyamai miliknya yang selalu sempurna, Mia menetapkan Kia sebagai saingannya.

Setiap para mahasiswa itu berdiskusi tentang program-program yang mereka susun, Mia selalu memiliki pandangan yang berbeda dengan Kia. Kebencian Mia semakin jelas ditampakkannya setelah dia tahu bahwa diam-diam Rei dan Kia telah lebih dulu menjalin hubungan yang intensif satu sama lain. Mia selalu geram melihat Rei selalu membantu dan menolong Kia saat penyakit yang diderita gadis itu kambuh. Sejak awal, Kia memang menceritakan perihal penyakitnya pada semua teman-teman kelompoknya. Tapi tidak dengan Mia.

Meskipun Mia tahu bahwa penyakit alergi dingin yang diderita Kia sudah semakin parah, Mia tak pernah bisa berbesar hati saat melihat Rei mencurahkan perhatiannya pada Kia. Sejujurnya, Mia pun mengidap anemia. Dia bisa pingsan seketika saat hatinya tertekan dan kelelahan.

Semakin lama mereka tinggal dalam satu atap yang sama, mereka semakin mengenal sifat-sifat buruk teman mereka. Begitu pun dengan Mia dan Kia. Meskipun begitu, terkadang keegoisan mereka telah menghancurkan sikap toleransi yang telah dibina. Berkali-kali Mia memojokkan Kia dan membuat Kia hampir pingsan karena tugas-tugas yang dibebankan padanya. Kia jadi banyak menghabiskan waktu di posko, sedang Mia seenaknya bisa melenggang ke mana saja dikawal oleh Rei karena dia meminta pada Aldi untuk membebaninya tugas sebagai staf divisi hubungan masyarakat.

Kedekatan di antara Mia dan Rei nyatanya secara perlahan telah menumbuhkan hasrat terdalam dalam hati keduanya. Sehingga para warga pun yakin bahwa di antara dua sukarelawan ini telah tumbuh benih-benih cinta. Mereka tak henti membicarakan cinta lokasi yang terjalin di posko sukarelawan. Padahal sesungguhnya justru saat itu Rei tengah mendekati Kia dan berharap bisa secepat mungkin memiliki gadis itu.

Malang tak dapat ditolak. Obrolan warga akhirnya sampai ke telinga orang tua Mia yang beberapa kali datang menjenguk anaknya yang sedang sakit. Mendengar penuturan warga, orang tua Mia akhirnya menjodohkan puterinya dengan Rei. Perjodohan konyol itu semakin menguatkan cinta Mia pada Rei dan selalu menghalangi hubungan Rei dan Kia.

Atas permintaan orang tua Mialah, Rei selalu berada di dekat Mia. Hingga suatu hari Kia tak bisa lagi menahan sakit hatinya. Kia benar-benar meninggalkan Rei setelah gadis itu tahu bahwa Rei memilih menemani Mia dibanding Kia. Padahal saat itu Kia juga sedang terkapar akibat kambuhnya penyakit yang dia derita. Rei memang telah menyia-nyiakan Kia yang sejak beberapa minggu ke belakang telah menjadi miliknya.

Tak terima diperlakukan tak adil oleh kekasihnya, Kia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Rei. Dia pergi ke Inggris untuk meneruskan program pascasarjana. Tuhan memang maha adil. Di kampus tempat Kia menyelesaikan studi pascasarjana, gadis itu bertemu sosok yang diidamkannya. Dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya dan menetap bersamanya. Kia menerima lamaran pria itu dan tak berniat melanjutkan hubungan dengan Rei.

Menjelang datangnya konfirmasi penerimaan beasiswa S3 yang Kia ajukan, gadis itu memutuskan untuk menikah terlebih dahulu. Dia kembali pulang ke Indonesia. Tujuannya hanya satu, menyerahkan kartu undangan pernikahannya pada Rei yang telah lama dia tinggalkan sejak berakhirnya program yang dijalankan Kelompok Teratai. Balasan setimpal telah Rei terima. Sakit hatinya kini bisa dikatakan sepadan dengan sikap plin-plan yang dulu dia tujukan pada Kia dan Mia.

Kisah cinta segitiga ini diilhami dari kisah yang penulis alami selama penulis melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik Pos Pemberdayaan Keluarga (KKN Tematik POSDAYA) yang berlangsung selama dua bulan. Namun, berbagai perubahan termasuk beberapa permasalahan yang dimunculkan adalah mutlak kisah fiksi penulis. Novel Senja di Persimpangan sejatinya adalah campuran kisah nyata dengan sedikit bumbu percintaan untuk membuat alur cerita menjadi berwarna dan tidak datar.

Additional information

Penulis

Ana P

ISBN

978-602-1277-06-5

Tebal Buku

vi + 223

Harga E-Book

Rp 30.000