Tag: menulis

6 Kesalahan dalam Menulis Buku dan Solusinya

Untuk menulis buku, ternyata modal semangat saja tidaklah cukup. Harus tahu ilmunya, biar proses penggarapannya bisa terarah, nyaman, dan cepat.
Sekarang, apakah Anda ingin menulis buku dengan baik dan benar? Lalu coba cek apakah Anda pernah melakukan enam kesalahan ini? Jika iya, segera cari tahu solusinya di tulisan berikut ini:
Kesalahan pertama adalah tidak merancang naskah atau konsep buku tidak dipikirkan sejak awal. Jadi langsung menulis saja sampai sepuasnya. Hasilnya, bahasan tulisan akan melebar dan tidak tahu akan berakhir pada pembahasan apa. Solusinya, tentukanlah outline terlebih dahulu. Buatlah kerangka tulisan, seperti daftar isi yang disertai pokok bahasan singkat setiap babnya.
Dari outline itu akan terlihat jelas batasan atau ruang lingkup pembahasan. Di sinilah Anda harus bisa lebih kreatif saat menyusun konsep bukunya. Bukan asal-asalan saja, asal nulis dan asal jadi. Pada tahapan ini juga, setidaknya kita sudah membaca beberapa buku setema sehingga bisa dijadikan rujukan sekaligus pembanding. Jangan sampai Anda mengulang-ulang bab/sub-bab (bahasan) yang sudah banyak dibahas di buku lain.
Jangan pernah beranggapan bahwa membuat outline hanya akan menghabiskan waktu Anda. Karena Anda akan memerlukannya kemudian untuk mempermudah pekerjaan Anda. Terlebih lagi, biasanya outline menjadi hal pertama yang akan dibaca oleh editor. Buatlah outline semenarik mungkin sehingga editor tertarik membaca naskah Anda. Apabila outline Anda tidak menarik, jangan berharap editor akan membaca naskah beratus-ratus lembar yang telah Anda kirimkan.
Kesalahan kedua, tidak fokus pada sasaran pembaca tertentu. Jadi saat merancang buku tidak ditentukan berbagai hal tentang pembaca sasarannya. Artinya buku tersebut seolah-olah bisa dibaca oleh semua usia. Padahal cara seperti itu akan berpengaruh pada minat baca dan gaya bahasa. Tentunya buku remaja dan buku dewasa akan berbeda gaya bahasa dan bobot materinya. Jika kita mencampur-aduk semuanya, maka yang terjadi justru buku tersebut akan menjadi tidak tepat sasaran dan terkesan “bimbang”.
Solusinya, tentukan terlebih dahulu apakah buku tersebut termasuk buku untuk anak-anak, untuk remaja, atau untuk dewasa. Klasifikasi usia pembaca tersebut akan lebih memudahkan kita untuk memilih diksi dan gaya bahasa. Terutama bobot materinya juga disesuaikan dengan sasaran pembaca. Selain itu juga memudahkan kita untuk mengirimkan naskahnya ke penerbit yang sesuai dengan naskah tersebut.
Kesalahan ketiga, Anda tidak menguasai bidang keilmuan/materi yang ditulis. Hanya berbekal akses internet saja. Alhasil, yang terjadi justru hanya copy paste. Sama sekali tidak menulis, justru menyusun tulisan orang lain. Memang tidak masalah jika mau jujur dengan mencantumkan sumber atau referensinya (footnote). Hanya saja, buku yang dihasilkan hanya terkesan seperti kliping! Efeknya akan buruk sendiri untuk nama baik Anda. Biasanya pihak editor dari penerbit akan langsung menegur jika ada naskah yang hanya disusun dari tulisan di internet. Sebab hal itu bisa menyalahi hak cipta tulisan orang lain. Selain itu juga tidak melatih kita untuk benar-benar menulis dengan benar. Sekali lagi ingat, bahwa copy paste itu bukanlah bagian dari teknik menulis.
Solusinya, mulailah menulis dari bidang keilmuan yang benar-benar dikuasai. Sesuai dengan keilmuan yang dipelajari di sekolah/kampus atau sesuai pengalaman Anda. Seperti buku Pendidikan Anak Ala Jepang dan Best of Kyoto, saya tulis bukan karena saya memiliki background ilmu kesastraan Jepang. Melainkan karena saya memiliki pengalaman di bidang pendidikan dan traveling selama menetap di Jepang. Jika Anda menguasai terhadap apa yang Anda tulis, tentu Anda akan lancar menuliskannya, dan pembaca pun akan semakin percaya kalau Anda memang kompeten di bidang tersebut. Begitu juga penerbit akan yakin menerbitkan buku tersebut sebab ditulis oleh orang yang benar-benar paham ilmu tersebut.
Kesalahan keempat, tidak punya jadwal menulis. Lalu apa artinya jika sudah merancang outline, sudah tahu sasaran pembaca, sudah menguasai keilmuannya, tapi tidak konsisten dalam menulis? Ya pasti naskah buku tidak akan selesai dan bahkan Anda lupakan. Sayang sekali. Seakan-akan menggarap naskah buku adalah pekerjaan sampingan yang kapan saja bisa disentuh dan kapan saja bisa dilupakan. Kalau memang begitu, maka urungkan saja cita-cita menulis buku itu.
Solusinya, buatlah tabel waktu penggarapan yang jelas. Tentukan batas waktunya (jadwal). Tuliskan juga di tabel itu tanggal berapa setiap bab harus diselesaika. Dengan begitu, kita akan termotivasi untuk menggarap per babnya sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Lalu jangan lupa berikan hadiah tersendiri jika kita bisa menepati jadwal itu. Misalnya akan membeli bakso 3 mangkuk jika Anda bisa merampungkan 1 bab :D. Hadiah itu untuk memotivasi kita dan mengobati rasa lelah.
Kesalahan Kelima, menulis sekaligus mengedit. Ini kesalahan paling sering dilakukan oleh siapa pun yang baru pertama belajar menulis naskah. Yakni dalam satu waktu sedang menulis lalu melihat tulisan di atasnya dan mengeditnya. Sehingga tulisan selesainya lama sekali. Ada rasa cemas jika tidak melihat tulisan yang sudah dibuat. Padahal cara menulis seperti itu akan membuat Anda mudah lelah dan capek sendiri. Bahkan menulis 2 halaman saja memakan waktu sampai berjam-jam.
Solusinya, menulislah dengan cepat dan jangan pedulikan dulu kesalahan ketik atau ejaan. Biarkan proses menulis berjalan dengan alami. Nanti setelah tulisan selesai, baru Anda edit. Jadi antara aktivitas menulis dan edit itu adalah dua aktivitas yang berbeda. Misalkan hari ini menulis, lalu besok mengeditnya. Dengan begitu, kita tidak akan kehabisan banyak energi dan waktu. Lagipula, jangan terlalu merisaukan masalah editing ini. Selama tulisan Anda mudah dipahami, tidak alay, dan tidak terlalu banyak salah ketik, no problem. Editor bisa menerima dan mereka akan mengeditnya sebelum naskah Anda diterbitkan.
Kesalahan Keenam, menginginkan buku Anda banyak yang membaca, namun Anda malu atau bahkan tidak mengerti cara berjualan. Tidak peduli buku Anda dijual di rak toko buku atau hanya dijual secara online/via sms, Anda harus gencar mempromosikan buku Anda jika ingin buku Anda banyak dibaca orang (read: laku). Jangan mengandalkan penerbit untuk mempromosikan buku Anda. Tugas utama promosi adalah Anda sendiri selaku penulisnya. Buku Pendidikan Anak Ala Jepang merupakan produk yang bisa saya contohkan. Buku ini bahkan bisa terjual setidaknya 1000 kopi dalam sebulan melalui penjualan non-toko (penjualan di toko malah kalah dengan penjualan non-toko. Melalui fakta ini, saya sekaligus ingin menyadarkan kepada siapa saja yang masih meremehkan penerbitan indie dimana buku hanya dijual online/via sms).
Sekali lagi saya sampaikan, bahwa “Tidak peduli buku Anda dijual di rak toko buku atau hanya dijual secara online/via sms, Anda harus gencar mempromosikan buku Anda jika ingin buku Anda laku. Karena penjualan buku Anda sangat tergantung dari proses promosi penulisnya”. Tapi tentu juga ditambah konten yang menarik ya… Meskipun promosi gencar, tapi kalau konten hancur, ya sama saja 😀
Nah, proses marketing buku tidak harus Anda lakukan setelah buku terbit. Anda dapat melakukan marketing bahkan sebelum buku terbit dan justru teknik inilah yang terbaik dalam promosi Anda. Siapkan pasar Anda sebelum buku Anda terbit. Baca selengkapnya tips marketing online buku Anda di artikel Strategi Pemasaran Online untuk Produk Anda
Apakah sekarang Anda sudah tahu letak kesalahan dalam menulis naskah buku dan tahu solusinya? Maka segera perbaiki cara Anda dalam menggarap naskah buku. Selamat berkarya!

Teknik Sederhana Menulis Cerita Anak

Oleh’ Susanti Hara Jv
Masa kanak-kanak adalah dunia yang pernah seorang dewasa lewati. Masa di mana mereka memiliki kebebasan imajinasi untuk bermain peran bersama teman menjadi apa saja. Saya ingat ketika masih kecil bisa berperan menjadi penjahat, polisi, guru, dan seluruh teman saya menokohkan karakter lainnya. Kami menikmati semua permainan itu tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Saking asyiknya bermain. Begitu sekarang berada dalam dunia pendidikan anak luar biasa, rasanya masih tetap saja dunia anak adalah dunia bermain untuk memerankan karakter yang mereka lihat dan juga rasakan. Saya sering melihat peserta didik di sekolah saya memanfaatkan waktu bermain peran menjadi ayah, ibu, dan juga anak. Bahkan, seringkali mereka bermain peran menirukan beberapa profesi yang mereka baca dari buku, ataupun mereka lihat dari tayangan televisi. Semua itu bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Tetapi, bukan tulisan biasa jika ingin dimuat di media, terbit, dan dibaca milyaran anak Indonesia. Cerita di atas semoga bisa menjadi gambaran, betapa luasnya nanti teknik dalam menulis cerita anak. Sesuatu yang berawal dari diri sendiri, kisah masa kecil, bisa dituangkan menjadi cerita anak. Bagi penulis yang sudah malang melintang dalam dunia kepenulisan, mungkin akan banyak menemukan teknik menulis. Proses kreatif yang tentunya berbeda antara penulis yang satu dengan penulis lainnya. Namun, intinya adalah jika ingin menulis cerita anak, kita harus “liar” dalam menulis, dan menuangkannya. Sehingga kita punya banyak kreatifitas dalam mengungkapkan bahasa tulisan. Tulisan benar-benar berkesan bahkan berpengaruh bagi pembaca cilik. Contohnya saja untuk menulis tema “Keluarga”. Maka setidaknya ada beberapa orang yang kita ingat, seperti: “Ayah”,  “Ibu”,  “Kakek”,  “Nenek”, “Kakak”, “Adik”,  dst. Dari karakter di atas, tentu akan ditemukan berbagai fenomena berbeda. Seperti ide menuliskan “Kakek”, maka setidaknya ada beberapa hal terkait dengan ide itu, seperti: – Siapa Kakek? – Di mana tempat tinggalnya? -Seberapa jauh jarak rumah Kakek dengan Anak? – Apa pekerjaan Kakek? – Bersama siapa Kakek tinggal? – Adakah pengalaman mengesankan bersama Kakek?
– Adakah pengalaman memalukan bersama Kakek? – Cerita apa yang menarik tentang Kakek?  -dst Sangat sederhana, bukan? Benar-benar “liar” dan tanpa batas. Semakin banyak keterkaitan ide dengan peristiwa atau pengalaman, tentu semakin mudah menulis.
Pertanyaannya, bagaimana mulai menulis cerita anak? Bagaimana memulai kata atau kalimat di awal paragraph? Semoga beberapa teknik yang saya dapat dari beberapa guru, baik itu belajar secara langsung maupun media sosial, cukup membantu untuk mulai menulis cerita anak. Kalau masih dirasa kesulitan, sila kirim pertanyaan. Dengan senang hati akan saya berikan tanggapan. Inilah beberapa teknik yang menurut saya memudahkan untuk memulai menulis cerita anak.

  1. Teknik Deskripsi Waktu Ini bisa digunakan untuk menggambarkan keadaan tertentu dengan menggunakan setting waktu. Bisa menunjukkan detik, menit, jam, hari,tanggal, bulan, tahun, siang hari, tengah malam dan seterusnya seiring waktu berjalan. Misalnya: Malam semakin gelap, Ayah belum juga pulang. Kudengar jam berdentang sepuluh kali. Hatiku tidak tenang. Biasanya, pukul 06.00 WIB, Ayah sudah sampai rumah. Aku jadi bertanya-tanya, apakah terjadi sesuatu dengan Ayah di tempatnya bekerja?
  2. Teknik Deskripsi Tempat Memulai tulisan dengan menggunakan setting tempat, tentu akan cukup mudah. Banyak sekali tempat yang pernah kita lewati dalam kehidupan sehari-hari. Teknik ini berhubungan dengan di mana terjadinya kisah atau peristiwa. Tempat dalam cerita anak sangat luas. Bahkan, sampai ke negeri dongeng, peri, dan sebagainya. Tidak hanya melulu tempat itu sebuah rumah, bangunan, toko, pedesaan, kota, negara, lautan, dan seterusnya. Anak-anak perempuan pada masa kini, lebih menyukai kisah putri dan kerajaan. Hal ini tentu berhubungan dengan dunia mereka yang liar.  Misalnya: Di sebuah kerajaan yang tenang, Putri Anti duduk sendirian. Dia tidak mau ke luar kamar. Ketika Bi Asih, pengasuhnya datang, Putri Anti mengunci mulutnya. “Ada apa Tuan Putri?” tanya Bi Asih, “Kenapa mengurung diri terus?” Dst.
  3. Teknik Deskripsi Orang Teknik mulai menulis deskripsi orang ini digunakan dengan menggambarkan sosok tokoh. Baik itu tokoh utama maupun tokoh pembantu. Intinya, ada orang, hewan, tumbuhan, atau karakter lain seperti peri yang terlihat dalam dunia anak dan bisa digambarkan melalui kata-kata. Misalnya: Tangan Peri Para, peri pengantar debu memerah. Peri paling cantik di negeri Hijau itu terkejut bukan main. Dia berteriak, “Tolong!” Dst… 4. Teknik Memulai Cerita Anak dengan Konflik Konflik dalam cerita anak sebenarnya sangat banyak. Tetapi, dalam menuangkannya, terutama cerita pendek yang sekali duduk dibaca anak dapat tuntas, sebaiknya hanya menceritakan satu konflik. Tulislah konflik yang benar-benar berkesan meskipun hasil rekayasa penulisnya. Misalnya:  “Aku tidak mau berteman lagi sama kamu,” bentak Dita seenaknya saja. Anggi melongo tak percaya, “Tapi Dit, memangnya aku salah apa?” Dst…. 5. Teknik Memulai dengan Aksi Untuk teknik ini, saya yakin sudah banyak yang bisa menebaknya. Tokoh dalam cerita melakukan suatu tindakan, gerak, atau sikap yang berhubungan dengan aksi. Misalnya: Andi membelokkan sepedanya ke kiri. Dia menghindari tabrakan dengan sepeda Tito. Tapi, sayang, begitu berbelok, Andi tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya. Akhirnya, Andi terjerembap di dalam kolam ikan Pak Saswi. Dst….
  4. Teknik Memulai dengan Dialog Teknik ini saya anggap paling mudah di antara sekian banyak teknik. Menulis menggunakan teknik ini, rasanya dari awal sudah terbangun cerita, tinggal memoles deskripsinya. Misalnya: “Siapa yang membawa baju bergambar Ultraman ini, Dit?” tanya Anto. Bukannya menjawab, Anto malah bertanya, “Memangnya kenapa?” “Aku suka baju ini. Aku ingin membelinya, tapi belum punya uang.” Dst…

Itulah beberapa teknik memulai menulis cerita. Silakan gunakan yang mana saja. Seiring berkembangnya kemampuan, maka akan semakin terampil dalam menulis. Awalnya, mungkin akan terasa begitu sulit. Tetapi jika sudah sering menulis, tanpa melihat lagi teknik apapun, insya Allah menulis tinggal menuangkan isi kepala ke dalam bentuk cerita. Selamat mengaplikasikan. Mari terus berlatih, berlatih, dan berlatih. Berlatih untuk menghasilkan karya berkesan. Berpengaruh positif bagi generasi penerus bangsa.