Tag: turmurah

Status Facebook 25 Mei 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi:https://goo.gl/gu5jtG



Daftar pertanyaan untuk Ibu sebelum membuka sosmed atau mengambil jatah “me time” :
1. Sudahkah mengecek bacaan salat anak-anak?
2. Sudahkah mengecek hafalan surah anak-anak?
3. Sudahkah mengecek bacaan iqro (Al-Quran) anak-anak?
4. Sudahkah mengecek pelajaran (kemampuan akademis-kognitif) anak-anak?
5. Sudahkah mengecek ketrampilan penunjang lain yang akan membantu anak mampu bersaing di zamannya nanti?
6. Sudahkah menemani anak-anak bermain at least membacakan buku untuk mereka?
7. Sudahkah berbicara dari hati ke hati kepada anak at least menanyakan kabarnya hari ini?
8. … bisa diisi sendiri menyesuaikan kondisi masing2.
Ternyata banyak banget ya tugas wanita. Tidak sekedar urusan dapur dan kasur😊. Tapi juga tidak kalah penting adalah tugas dalam mendidik anak-anak. Tentu daftar tugas di atas gak harus “brug” dilakukan dalam satu waktu. Bisa dipotong2, diselingi dengan “me time” atau tugas lain. Agar anaknya tidak bosan juga. Yang penting dalam sehari harus dilakukan semua Tugas Ibu tsb. Kalau saya, saya selingi mengurus bisnis dan dapur. Kadang saya selingi baca buku atau nonton tv sebagai me time. Tergantung mood dan target lain😁.
Tips Ibu agar tidak lupa pada peraturan:
1. sign out dari seluruh akun sosmed agar tidak tergoda membukanya sebelum tugas-tugas mendidik anak dilakukan.
2. Catat “Peraturan untuk Ibu” di tempat yang gamblang bisa dilihat setiap saat. Kalau perlu ditempel di casing HP dan laptop😊
“Tidak hanya anak yang memerlukan peraturan, tapi orangtua pun memerlukannya”
-saleha juliandi-
—-
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 30 Agustus 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi: https://goo.gl/RtPN8t


Cerita antara Kentut dan Usaha
 
– Cerita antara Kentut dan Usaha –
Dulu setelah melahirkan caesar si kembar, saya merasakan sakit luar biasa di dalam perut. Bukan sakit akibat jahitan caesar, melainkan sakit karena banyak angin yang terjebak dalam perut.
Ketika itu adalah pertama kalinya saya merasakan sakit perut luar biasa akibat tidak bisa kentut. Hehe.. gak elit banget penyakitnya. Dokter bilang: “ibu harus segera turun dari kasur dan banyak jalan kaki.”
Wow.. menggeserkan sedikiiit kaki dan pinggul saja, rasa sakit akibat caesar masih luar biasa. Nah ini bukan hanya menggeserkan kaki dan pinggul tapi disuruh turun kasur dan jalan-jalan di rumah sakit. Demi biar bisa kentut!😱
“Dok, tapi badan bagian bawah saya masih sakit semua. Saya sulit menggerakkan kaki dan pinggul. Apa tidak ada obat minum yang bisa membantu saya buang angin?” Saya tiba-tiba ingat di indonesia kan banyak tuh obat-obat untuk buang angin. Tinggal minum beberapa butir, sambil tiduran pun langsung deh d*t…😷
“Tidak ada. Ibu harus segera turun dari kasur dan jalan. Dengan banyak berjalan, ibu akan kentut.” Lalu sang dokter mengulurkan tangan membantu saya bangun dari kasur, kemudian dia memberikan tiang infusnya pada saya. Maksudnya biar saya bisa jalan-jalan dengan infus yang masih melekat di tangan😩. Tiang infus juga diharapkan dapat berfungsi sebagai pegangan.
Wow itu kenangan yang sepertinya bakal sulit saya lupakan. Karena luarrr biasa sakit, bahkan untuk maju satu langkah saja saya memerlukan waktu 2-3 menit.
Herannya, ramainya dokter/suster yang lalu-lalang melalui saya sama sekali tidak menggubris. Tidak ada sapaan: ‘ibu baik-baik saja kok berdiri di tengah-tengah jalan?’ Atau ‘masih sakit bu? Sini saya bantu papah.’ Yang ada malah mereka bilang: ‘ganbatte ne okaasan (semangat ya ibu)’😊.
Dan… setelah saya berhasil berjalan, memang benar angin perut pun deras keluar😷dan proses penyembuhan lain menjadi sangat cepat. Bahkan saat pulang ke apartemen, saya sudah bisa langsung melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri tanpa PRT.
Waktu itu saya merasakan betul bagaimana mencapai sebuah impian kecil (dalam hal ini ingin bisa kentut) melalui “perjuangan nyata” bukan “cara instan”. Perjuangan nyata memang memberikan hasil yang lebih NYATA.
Tidak hanya dalam urusan kentut ini, perjuangan nyata diterapkan juga Jepang dalam belajar. Kalau mau bisa, ya usaha. Ya belajar. Tidak ada cara instan. Tidak ada keajaiban cinderella di dunia nyata.
Alat belajar hanya sebagai media bantu. Seperti “Kartu Hitung Cepat ala Jepang” yang kami produksi hanyalah sebagai ALAT BANTU yang MEMUDAHKAN untuk anak-anak belajar. Bukan berarti dengan membeli “kartu hitung cepat ala Jepang” anak otomatis lancar berhitung seperti mendapatkan sihir dari ibu peri.
Seperti tangan sang dokter yang membantu saya. Seperti tiang infus yang menjadi tumpuan saya berjalan. Seperti ucapan penyemangat hati “Ganbatte ne Okaasan”. Tangan dokter, tiang infus, dukungan moril adalah MEDIA (ALAT) BANTU. Mereka MEMUDAHKAN saya. Tapi, hasil akhir tetap tergantung pada usaha.

Foto: 1 jam sebelum operasi caesar dengan berat bayi masing-masing 3 kg dan 2,8 kg.
——
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.