admin
admin

Kenaikan Harga Buku "Pendidikan Anak Ala Jepang"

Para Agen dan Pelanggan yang terhormat, semoga dalam keadaan sehat dan tak kurang suatu apapun.
Buku “Pendidikan Anak Ala Jepang” terbit sejak tahun 2014 dan sudah 3x mengalami kenaikan biaya produksi karena meningkatnya harga bahan-bahan pokok penerbitan.
Namun demikian, dengan 3x peningkatan harga produksi tersebut, kami selaku penerbit tidak pernah menaikkan Harga Umum buku.
Oleh karena itu, melalui broadcast ini kami ingin menginfokan bahwa mulai tanggal 4 Agustus 2016harga buku“Pendidikan Anak Ala Jepang”mengalami kenaikan dari Rp 55.000 menjadi Rp 60.000.
Khusus untuk Agen/Dropship, masih bisa membeli dengan harga yang sangat kompetitif, yaitu:
– Pembelian 1-100 eks: Rp 45.000/eks
– Pembelian 101-200eks: Rp 39.600/eks
– Pembelian >200eks: Rp 35.200/eks
Demikian informasi yang ingin kami sampaikan, terutama utuk sosialisasi para agen kepada para pelanggan.
Terima kasih,

Pengumuman Pemenang Lomba Resensi Buku "Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura"

Setelah melewati proses penjurian, akhirnya dewan juri memutuskan siapa pemenangLomba Resensi Buku “Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura”

Berikut adalah nama-nama pemenangnya:
Juara 1 (Hadiah Uang Tunai Rp 1.250.000) : Muhammad Rizal B. Firmansyah
Juara 2 (Hadiah Uang Tunai Rp 1.000.000) : Muhammad Rezky Rahmansyah
Juara 3 (Hadiah Uang Tunai Rp 750.000) : Moh. Mizan Asrori
Kami selaku tim penerbit mengucapkan selamat kepada pemenang. Semoga para pemenang bisa lebih termotivasi dalam dunia tulis menulis.?
Terima kasih kepada rekan-rekan pelajar dan mahasiswa yang telah membaca buku “Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura” dan telah berpartisipasi dalam lomba ini. Untuk yang belum berkesempatan menjadi pemenang, semoga lebih bersemangat lagi dalam menulis.?
Info selengkapnya bisa dicek melalui link berikut: http://bit.ly/1SDbcxc
 

Talkshow Pengen Kuliah Ke Luar Negeri

SEMINAR PENGEN KULIAH KE LUAR NEGERI (19 Maret 2016)
Pengen Kuliah ke luar negeri…?
Yuk bincang-bincang bersama para penerima beasiswa berikut untuk mengupas tips-tips cerdas menembus kampus-kampus di negara maju.
Waktu dan Tempat:
Sabtu,19 Maret 2016
09.00 – 12.00 WIB
IONS International Education
Jl. C. Simanjuntak No. 50, Terban, Daerah Istimewa Yogyakarta 55223, Indonesia
Pembicara:
I Made Andi Arsana, Ph.D (Penerima Beasiswa Australia Awards Scholarship dan Penulis Buku “Berguru ke Negeri Kangguru)
Murni Handayani, Ph.D(Penerima Beasiswa Monbukagakusho dan Penulis Buku “Japan, I am Coming…!)
Rizqi N. A’yuninnisa, M.Sc(Peraih Beasiswa StuNed Belanda)
HTM:
Rp 45.000
Contact Person:
Dina: 0857-4370-7015
Yuk, segera pesan tiketnya. Jangan sampai kelewatan, ya…?

Kepada Siapa Dulukah Sedekah Kita Berikan?

Ditulis oleh: Pristina (Mahasiswi Biologi IPB)

sumber gambar: santrigaul.net
sumber gambar: santrigaul.net

Ketika kebanyakan dari kita masih menganggap sedekah yang paling utama itu di kotak amal masjid. Ya kita tahu itu adalah amal jariyah yang tidak terputus bahkan setelah kita meninggal. Sedekah di masjid sebagian besar digunakan untuk pembangunan masjid, biaya oprasional masjid, bahkan beberapa masjid sudah menyediakan beasiswa bagi yang membutuhkan. Namun sedekah tidak sebatas itu, ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain itu juga sedekah.
Ketika kita berniat bersedekah kepada orang lain paling tidak kita akan sedikit berpikir dan belajar. Berpikir pantas tidak pemberian saya, apakah dengan pemberian ini akan membuat orang lain tersinggung meskipun niat kita baik. Kadang memberi tidak selalu dapat dinilai sebagai kebaikan. Seperti mungkin kita berniat baik ingin memberikan pakaian kita kepada orang lain, namun kita memberikan pakaian kita yang paling lusuh. Hal tersebut juga dapat menyinggung orang lain yang kita beri. Mungkin orang tersebut akan berpikiran serendah ini kah saya dipandang, sehingga hanya pakaian lusuh ini yang pantas saya kenakan. Bahkan ada yang berpendapat ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain, sesuatu tersebut sebelumnya telah kita gunakan terlebih dahulu dinilai kurang ikhlas. Meskipun keikhlasan itu hanya dapat dinilai oleh hati. Selain itu kita juga akan banyak belajar. Belajar tentang kehidupan orang tersebut, bagaimana cara membantunya, bantuan apa yang paling dibutuhkan dll.
Sedekah tidak hanya memberikan sesuatu kepada siapa saja, bahkan dalam Islam hal tersebut ada aturannya. Prioritas sedekah yang pertama adalah kepada orangtua. Orangtua disini tidak hanya orangtua kandung namun juga mertua. Sebelum kita bersedekah lebih jauh, mungkin kita bisa memerhatikan kehidupan orangtua kita terlebih dahulu. Masihkah kekurangan, apa yang bisa kita bantu untuknya. Sedekah kepada orangtua ini menjadi sangat utama bagi kita, wujud rasa bakti kita kepadanya. Hal yang perlu diingat jangan sampai kita bersedekah ke berbagai masjid, kepada orang lain tapi kita bahkan terlupakan kepada orangtua kita sendiri.
Ketika kita rasa orangtua kita telah hidup layak, mungkin kita berpikir tidak perlu bersedekah kepada orang tua. Hei… sedekah tidak hanya berupa materi, loh. Bukankah senyum yang tulus adalah sedekah? Bukankah bahasa tubuh yang baik adalah sedekah? Bukankah tatakrama atau sopan santun kita adalah sedekah? Orangtua kita mungkin tidak perlu materi dari kita namun dimasa tua, perhatian seorang anak sangat diperlukan oleh orang tua. Bahkan orang tua kita jauh lebih memerlukan senyum tulus, bahasa tubuh yang baik, sopan santun, tutur kata yang lemah lembut, perhatian, menjadi pendengar dan teman bercerita yang menyenangkan dibandingkan materi dari kita. Mungkin kita bisa memberikan materi yang banyak kepada orang tua, tapi memberinya dengan wajah cemberut, bahasa tubuhnya menandakan lelah bekerja, kata-katanya menyakitkan hati, hal tersebut justru menyinggung perasaan orang tua.
Beruntunglah orang-orang yang mengerti bahasa daerah. Seperti misalnya bahasa jawa yang mempunyai klasifikasi penggunaan kepada orang tua dengan bahasa yang lebih halus sebagai ungkapan rasa hormatnya. Kita bisa menggunakan bahasa tersebut kepada orang tua sehingga ketika berkomunikasi akan lebih terasa dekat, orang tua merasa dihargai dan tidak dinilai lupa terhadap apa yang diajarkan sejak kecil. Banyak anak muda yang sekarang bahkan tidak mengenal bahasa daerahnya. Padahal orang tua kita adalah generasi yang menjunjung tinggi bahasa daerah, mungkin juga lebih paham dengan bahasa daerah sehingga bahasa daerah ini akan lebih efektif digunakan kepada orang tua kita ketika berkomunikasi karena kadang ada suatu istilah yang susah mencari padanannya dalam bahasa Indonesia.
Prioritas kedua adalah keluarga atau kerabat. Sebelum bersedekah kesana kemari terlalu jauh, kita bisa mengamati keluarga atau kerabat dekat kita. Selain bernilai sedekah pemberian kepada keluarga ini juga dapat meningkatkan silaturrahmi dan keakraban. Ketika dalam sebuah keluarga besar saling membantu sama lain sehingga saling rukun akan menciptakan banyak kebaikan-kebaikan lain yang dapat diteruskan. Tidak hanya berhenti pada keluarga ini. Rasanya kurang etis kalau bersedekah mencari yang jauh namun banyak kerabat dekat kita yang kekurangan.
Anak yatim dapat menjadi target sedekah kita selanjutnya. Sedekah pada golongan ini mempunyai dampak yang luar biasa. Misalnya saja seorang anak yatim yang tidak bisa bersekolah lalu kita membantunya untuk bersekolah. Mungkin hal kecil saja misalnya seorang anak yatim yang bisa bersekolah dengan keadaan pas-pasan tidak bisa membeli buku. Kita bisa membantu dengan buku-buku kita dahulu yang tidak digunakan atau syukur-syukur bisa memberikan buku baru untuknya. Dapatkah kita membayangkan betapa anak ini bersyukur dengan senyumnya yang begitu indah dan bersinar. Rasa syukurnya menjadikan ia lebih semangat dan rajin belajar, hal ini dapat mendongkrak prestasinya, memperbaiki kualitas keluarganya dan dalam jangka panjang anak ini akan membangun mata rantai kebaikan. Mungkin bukan kita nanti yang akan menerima kebaikan tersebut, namun ada anak-anak yatim lain bahkan lebih banyak yang mendapat dampak dari mata rantai ini. Sederhana bukan hanya bermodal sebuah buku kita bisa membangun mata rantai kebaikan.
Orang yang membutuhkan (kaum miskin) prioritas kita yang keempat. Kelompok ini juga berpeluang membangun rantai kebaikan. Misalnya kita bersedekah kepada bapak petugas kebersihan (tukang sampah atau pemulung) yang berpenghasilan rendah sekali sehingga tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Golongan ini kira-kira mempunyai pendapatan 25rb per hari sehingga hanya mampu menyediakan makanan nasi dan tempe. Ketika kita bersedekah keluarga ini bisa membeli daging dan buah untuk konsumsi sehingga dapat meningkatkan kualitas gizi dalam keluarga. Ketika kebutuhan gizinya tercukupi, peluang penyakit akan lebih rendah.
Golongan terakhir adalah orang yang dalam perjalanan, tentunya perjalanan dalam kebaikan. Orang yang dalam perjalanan panjang tanpa keluarga ketika terjadi sesuatu maka ia hanya bergantung pada Allah. Apabila ia menerima pertolongan rasa syukurnya luar biasa sehingga bisa menjadika golongan ini lebih yakin dengan pertolongan Allah. Mungkin pertolongan Allah diberikan melalui perantara kita. Ketika kita enggan memberikan pertolongan pada golongan ini artinya kita menahan hak orang lain sehingga menghambat rasa syukur dan keyakinan seseorang terhadap pertolongan Allah. Kita tidak pernah tahu ketika kita menolong golongan ini ia bisa menebar kebaikan dan pertolongan kepada banyak orang lain sepanjang perjalanannya.
Namun saya ingin menegaskan dalam tulisan ini saya tidak bermaksud melarang sedekah di masjid atau tempat ibadah. Mungkin dengan sedekah di masjid kita bisa lebih ikhlas karena tidak banyak orang yang mengetahui. Saya hanya miris ketika dari sedekah tersebut banyak dibangun masjid yang megah namun hanya ramai ketika hari raya, sholat jumat dan ketika ada acara pernikahan. Namun disisi lain banyak saudara kita yang kekurangan yang justru berpeluang untuk membangun rantai kebaikan. Ketika suatu pertolongan ini berkesan maka seseorang tersebut akan lebih mudah menolong orang lain. Disisi lain orang yang menerima sedekah ini akan lebih bersyukur kepada Allah dan menyakini bahwa rezeki dan pertolongan Allah itu selalu ada untuk hambanya. Hal yang paling penting ketika kita bersedekah kepada sesama, kita dapat membangun interaksi sehingga kita akan banyak belajar tentang kehidupan orang lain yang akan membuat kita lebih banyak bersyukur. Jadi ketika kita membantu orang lain dampak sosial dan psikologi akan lebih terasa.

Seminar Parenting Pendidikan Anak ala Jepang

poster fix 20 des
Para calon bunda dan ayah, para bunda dan ayah, serta para pendidik, anda ingin mengetahui rahasia dan fakta tentang pendidikan anak ala jepang?
Dalam rangka menyambut hari ibu, kami mengundang anda menghadiri Seminar Parenting yang akan mengupas “Rahasia dan Fakta Pendidikan Anak ala Jepang” bersama Ibu Walikota Bogor (Hj. Yane Bima Arya) dan Saleha Juliandi (Penulis buku best seller “Pendidikan Anak Ala Jepang”).
Seminar ini akan membahas :
Pendidikan TK, SD, dan daycare di Jepang
Sistem pendidikan di Jepang
Penerapan Pendidikan Jepang di Indonesia
Tak hanya itu, dalam seminar ini pun akan ada lomba mewarnai dan menggambar dengan kategori :
Lomba Mewarnai kategori usia 3-5 tahun
Lomba Mewarnai kategori usia 6-8 tahun
Lomba Menggambar kategori usia 9-11 tahun
Waktu dan tempat :
Minggu, 20 Desember 2015 pukul 08.00-12.00
Di Aula Rapat 1 Gedung Balai Kota
Pendaftaran :
Seminar Rp 75.000/orang
Mewarnai dan menggambar Rp 35.000
Biaya termasuk snack, modul, sertifikat, dan piala juara
Kontak dan informasi :
Sdr. Qoba: 0813-8325-6927
Sdr. Lisda: 0856-7565-129
Kami tunggu kehadirannya, ya…?

Lomba Resensi Buku "Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura"

mmkns
Dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda dan Hari Guru, Taiyou Indonesia Foundation (TIF) menggelar Lomba Menulis Resensi Buku Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura.
LOMBA RESENSI BUKU MMKNS
Penerimaan naskah: 15 September 15 Desember 2015
Pengumuman Pemenang: 22 Desember 2015

KRITERIA LOMBA
1. Peserta terbuka untuk pelajar (SMP/SMA/SMK) dan mahasiswa (undergraduate), termasuk yang berdomisili di Indonesia maupun luar negeri.
2. Lomba ini bersifat GRATIS alias tidak dipungut bayaran apa pun.
3. Naskah resensi harus asli (original) karya sendiri, bukan jiplakan atau terjemahan dan sedang tidak diikutsertakan pada lomba lain yang bersamaan.
4. Naskah resensi diketik sepanjang 4000-6000 karakter, ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
5. Peserta menuliskan resensinya di blog, website pribadi atau akun media sosial (facebook) dan mengirimkan link nya ke email taiyouindonesia@gmail.com dengan judul : Lomba Resensi MMKNS. Jika peserta mengirimkan resensinya ke media massa dan dimuat akan ada nilai plus dalam penjurian. Lampirkan bukti dimuatnya resensi di media massa dalam bentuk scan/foto artikel.
6. Isi resensi harus berimbang, komunikatif, mengulas sisi kelebihan dan kekurangan isi buku, serta saran-saran yang bersifat membangun dengan menampilkan foto/gambar sampul buku yang diresensi.
7. Peserta menuliskan Biodata (ditulis dalam bentuk narasi) dan dibubuhkan di bagian terakhir naskah serta menyertakan scan/foto kartu pelajar dan mahasiswa serta kontak yang bisa dihubungi : email dan akun facebook.
8. Peserta diwajibkan me-like Fan Page Taiyou Indonesia Foundation (TIF) dan Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura (MMKNS) di facebook.
Fanpage TIF : https://www.facebook.com/taiyouindonesiafoundation?fref=ts
Fanpage Buku MMKNS: https://www.facebook.com/pages/Menghidupkan-Mimpi-ke-Negeri-Sakura/267728426741646?ref=hl
9. Update Peserta dan Pengumuman Pemenang akan diposting di fanpage TIF.
HADIAH-HADIAH:
Juara 1:
– Uang Tunai Rp 1.250.000
– Piagam Penghargaan
Juara 2:
– Uang Tunai Rp 1.000.000
– Piagam Penghargaan
Juara 3:
– Uang Tunai Rp 750.000
– Piagam Penghargaan
KRITERIA PENILAIAN
1. Penjurian akan dilakukan berdasarkan kriteria berikut:
Pemahaman isi buku;
Kualitas analisis isi buku;
Pemikiran kiritis serta saran atas isi buku;
Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Poin plus : dimuat dimedia massa
2. Penilaian akan dilakukan oleh Dewan Juri yang ahli dibidangnya.
3. Keputusan Dewan Juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
CP : Fajar +8180-9479-6946 (WA)
Catatan:
Bagi Anda yang ingin mengikuti lomba ini namun tidak memiliki buku tersebut, silakan membelinya di toko buku gramedia dan toga mas di kota anda, atau jika kesulitan menemukan di toko buku bisa membeli secara online dengan menghubungi Ibu Saleha di – WA: +818040169369 (sertakan tanda + nya) atau BB: 52281402
 

Ibu, Aku Ingin Pulang

pulang

sumber gambar:

http://4.bp.blogspot.com/

=================================================================

Peluncuran novel ke-10 ini sukses! Ratusan pengunjung berjubel di toko buku terbesar se-Indonesia itu demi mendapat diskon novel tersebut serta tanda tangan dari penulisnya langsung. Di luar dugaan, pengunjung toko buku tak juga berhenti barang sejenak saja. Semakin siang, semakin ramai.

Setelah kurang lebih lima jam, akhirnya ajang promosi novel ke-10 nya selesai. Tangannya bisa merasakan kelegaan. Jemarinya sudah pegal mengukir tanda tangan di halaman pertama novelnya. Tak jarang bahkan ada pengunjung yang meminta tanda tangan di kaus atau di buku harian yang sengaja mereka bawa.

Gadis berambut ikal itu membenarkan posisi duduknya dengan agak bersandar ke sandaran kursi. Sesekali ia melakukan stretching ringan pada tangannya.

Nona Kia sudah menjadi penulis terkenal.
Suara itu. Panji, desainer di penerbitan tempat di mana Kia mengabdikan diri lewat tulisan.

Gadis itu hanya menyunggingkan senyum tipis sambil merapikan mejanya. Dari raut wajahnya tampak gurat-gurat lelah. Belum lagi lingkaran di bawah matanya. Sangat menunjukkan bahwa dia butuh istirahat.

Kamu perlu refreshing, Kia. Lihat, nih, mata kamu kayak panda.

Lelaki gondrong yang selalu mengikat rambutnya itu menggoda Kia. Ia membuka fitur kamera depan ponsel pintarnya. Lalu mengarahkannya ke hadapan gadis itu. Kia hanya malu-malu sembari mengernyitkan mata. Menyadari bahwa matanya memang seperti mata panda.

Panji! Kia menutup layar ponsel sahabatnya itu. Ia memberengut manja.
Istirahatlah, kamu sudah lelah berlomba dengan deadline.

Sejak Kia masih duduk di bangku kuliah, ia sudah mulai meniti karirnya dengan menulis buku solo. Walaupun awalnya ia menerbitkan secara self-publishing, bukan berarti ia tidak bisa sukses. Mulanya Kia hanya dikenal sebagai mahasiswi pintar tapi pasif. Namun, karena ia menerbitkan buku secara indie, gadis itu mendadak bertransformasi menjadi seorang yang energik. Ia selalu menyelipkan promosi bukunya lewat percakapan dengan teman-temannya hingga ia dijuluki Miss Buku. Ia juga gencar mengikuti kegiatan organisasi di kampusnya demi kelancaran pemasaran buku-bukunya. Usahanya berbuah manis. Selain dikenal se-antero kampus, bukunya laku keras. Royalti pun lancar mengalir ke kantongnya. Ia menamatkan kuliah dengan keringatnya lewat menulis buku.

Tak puas hanya itu, Kia menulis lagi. Saat itu, Kia mencoba peruntungan dengan mengajukan naskah ke penerbit mayor. Dan ternyata dewi fortuna sedang berpihak padanya! Penerbit mayor menerima naskahnya dengan tangan terbuka. Berkat kepiawannya mengolah tema, membuat cerita yang memotivasi banyak orang, serta gencarnya promosi melalui sosial media, penjualan bukunya pun boleh dibilang fantastis, dibuktikan dengan bukunya tidak hanya sekali atau dua kali cetak. Melainkan sampai cetakan ke-tujuh. Karena itulah ia kembali diundang menulis oleh penerbit. Hingga kini, siapa yang tak kenal dengan sosok Kiana Adisty?

Kiana membalikkan badan ke arah Panji. Panji masih di situ, di belakangnya.

Panji, buatku menulis bukan hanya sebuah pekerjaan, menulis adalah sebuah pencarian jawaban dari masalahku. Menulis juga refreshing bagiku. Melihat wajah-wajah yang bahagia karena membaca karyaku, di situlah letak kepuasan sebuah peristirahatan.

Panji hanya tertawa kecil mendengar celoteh sahabat dari SMAnya itu. Diam-diam ia mengagumi kegigihan seorang Kiana.

Well, baiklah Miss Penulis, mari temani aku beristirahat sambil minum teh. Aku yang traktir. Panji menarik lengan Kia.

Tapi belum juga Kia meneruskan kalimatnya, Panji sudah mengajaknya berjalan terburu-buru. Tak menghiraukan penolakan Kiana.

*****

Kenapa kita enggak ke kedai kopi kayak biasa sih?
Karena aku gak ingin kamu menyembunyikan kantuk lewat secangkir kopi. goda Panji.
Desainer puitis! ejek Kia.

Teh itu menenangkan. Aromanya, rasanya. Kangen kebun teh. Kangen masa kecil. Matanya menerawang teduh ke wajah gadis yang tengah menikmati tehnya.
Kangen pulang sambung Panji.

Mata Kiana yang tadinya menyipit karena tengah menghirup aroma teh, kini menajam. Cangkir teh yang tadi diraihnya, ditaruh kembali dengan agak kasar ke atas meja.

Panji sudah tidak asing melihat sikap Kiana yang sensitif tiap kali ia membahas tentang pulang. Panji tahu, Kiana adalah sosok yang teguh berpendirian. Ia belum bisa mengubah keputusan Kiana untuk segera pulang ke kampung halamannya.

Kiana kehilangan selera minum tehnya. Haus yang ia rasakan hilang entah ke mana. Yang ia inginkan adalah pergi dari hadapan Panji, tanpa berdebat lagi.

Panji menghela nafas panjang. Ia mengumpulkan kosa kata untuk memecah kebisuan. Lelaki itu tidak ingin membuat Kiana marah, atau bahkan membuat persahabatannya renggang karena pertengkaran kecil.

Kiana.
Hmm.

Kiana mengarahkan pandangannya ke jendela. Memperhatikan rintik hujan yang membuat jendela lebih tebal dari biasanya. Jari-jari lentiknya mengetuk-ngetuk meja pelan-pelan.

Apa kamu tidak rindu pulang? Rindu rumah? Rindu Ibu? suara Panji terdengar hati-hati.

Gadis itu menghentikan ketukan jemarinya di meja. Pandangannya belum beranjak dari jendela. Ia masih enggan melihat wajah Panji.

Hening mencuat lagi. Yang bertanya menunggu jawaban. Yang ditanya tak kunjung memberi jawaban.

Bagi Kiana, Panji tidak mengerti apa yang ia rasakan. Tentang rasa perih, rasa terbuang, rasa tersisihkan. Pikirannya mengawang pada peristiwa lima tahun lalu.

Masih berjangkar kenangan menyakitkan itu di kepalanya.

Lima tahun lalu. Saat itu tepat pada pengumuman kelulusan SMAnya. Wajahnya tampak berbinar meski wanita paruh baya yang ia sebut ibu tidak berada di sisinya. Bagaimana tidak, Kia sudah mati-matian mengejar prestasi demi menjadi lulusan terbaik satu angkatan, juga demi menikmati fasilitas sekolah gratis untuk siswa yang berhasil meraih juara umum. Usahanya tidak sia-sia. Dia berhasil menyabet predikat lulusan terbaik. Tak hanya itu, ia juga berhasil tembus PTN tanpa tes dengan jurusan sastra seperti yang ia impikan. Ia kembali ke rumah dengan rona bahagia.

Rona bahagia itu ternyata tak bertahan lama. Ia menyaksikan rumahnya dikepung bodyguard lintah darat. Kiana ketakutan. Ia bersembunyi di pohon jambu besar di depan rumahnya. Ayah tirinya babak belur dalam keadaan mabuk. Uang-uang simpanan ibunya dirampas habis tanpa ampun.

Puas menjarah keluarga Kiana, lintah darat itu berlalu. Kiana yang ketakutan, menghampiri ibunya ke dalam rumah. Tubuhnya bergetar. Matanya terasa panas. Bulir-bulir kepahitan satu persatu membasahi pipinya.

Ibu. Gadis itu menghambur ke pelukan ibunya yang meringkih.

Ibu, kita pergi saja dari sini. Tinggalkan suami ibu. Dia yang buat kita terlilit hutang.
Ibu memandangi wajah anak tunggalnya.

Kita mau tinggal di mana? Mau makan apa? Satu-satunya yang tersisa cuma kebun teh yang tak sampai seperempat hektar.

Tak puas dengan jawaban ibunya, Kia menjawab dengan penuh keyakinan.

Kia bisa menulis bu. Ibu tahu kan selama sekolah Kiana dapat uang jajan dari mengirimkan tulisan? Ibu tahu? Kiana tembus universitas negeri di Jakarta jurusan sastra seperti yang Kia inginkan. Kia juga berhasil dapat beasiswa sampai wisuda. Gak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Gadis itu menatap dalam ke bola mata ibunya.

Ibu menarik nafas dalam.

Kia, maafkan Ibu. Bukan Ibu tidak ingin kamu sekolah tinggi. Tapi, sekarang Ibu ingin kamu mengurus kebun teh kita. Bekerja di sini. Setelah hutang ayah lunas, barulah kamu pergi ke Jakarta. Kejar mimpi-mimpi kamu.

Kiana menatap tak percaya. Apa yang sesungguhnya ada di pikiran Ibu? Mengapa wanita itu tidak yakin akan kesungguhan putri tunggalnya?
Tapi, Bu

Halah. Dasar belagu mau kuliah segala! Urus tuh kebun teh kita.

Tiba-tiba Ayah tirinya menghampiri Kiana. Masih dalam keadaan mabuk sambil mendorong kasar bahu Tiana. Ibu tidak tinggal diam. Ia memeluk kembali putrinya.

Sekarang Ibu pilih ikut aku ke Jakarta atau bertahan di sini dengan Ayah? Kiana tidak ingin berbelit lagi. Ia langsung pada pertanyaan inti. Gadis itu sudah cukup lelah mendekam di rumah itu.
Nak, kalau kita ke Jakarta mau makan apa? mata Ibu berkaca-kaca.
Ibu meragukan aku? Aku bisa menulis. Aku bisa cari uang lewat menulis.
Modal nulis gak akan bisa kaya kamu Ayah menimpali dengan nada mengejek.

Kiana bangkit dari rangkulan ibunya. Ia berdiri dan perlahan mengumpulkan tekad.
Oke. Kiana akan tetap pergi.

Ia bersumpah tidak akan menangis lagi untuk hidupnya. Ia hanya perlu lebih kuat, mengumpulkan nyali setangguh baja, dan mempersiapkan diri menjadi seorang penulis hebat. Gadis itu berlalu menuju kamarnya. Mengambil koper dan membawa baju seadanya. Dengan sisa uang dari honor menulisnya yang tinggal sedikit, tak menyurutkan langkahnya untuk memperbaiki nasib.

Kia mengabaikan ibu yang menahannya pergi. Ia merasa ibu tidak memercayainya, tidak menghargai kesungguhan niatnya. Dan meskipun ia sendiri, ia tak akan mengurungkan niat untuk pergi. Tapi, ia tidak benar-benar sendiri. Diam-diam, Panji, sahabat karibnya di SMA, mengikuti jejaknya, kuliah di Jakarta.

Kiana. Suara Panji memanggil jiwa Kia kembali ke masa kini.

Gadis itu terkesiap. Perih itu makin menggerogoti ulu hati. Perih itu, entah rindu, entah ambisi atau dendam yang menggebu.
Panji, hidupku di sini. Jakarta sudah membesarkan namaku. Aku sudah bisa mengumpulkan uang lewat menulis.

Panji masih menatap lembut Kiana. Mencari-cari sisi kelembutan hati gadis itu. Jauh di lubuk hatinya, ia percaya Kiana bukanlah sosok yang keras kepala. Masih tersisa puing-puing cinta juga rindu untuk ibu, wanita yang sudah membesarkan Kiana. Ya, Panji percaya itu,

Lantas untuk apa aku pulang? Aku sudah titip uang buat Ibu lewat kamu. Kewajibanku selalu kutuntaskan. Bahkan sejak awal kepindahanku di Jakarta. sambung Kiana.

Panji masih terdiam. Ia membiarkan gadis itu meneruskan segala kekatanya.

Hidup itu mesti dinamis, Panji. Bergerak seperti ombak, berani menantang karang yang menantang. Kamu sudah membaca petikan kalimat itu di novelku, kan? Lihat, aku sudah berani menantang nasib, menaikkan taraf hidupku, mengumpulkan uang. Aku sudah berhasil membuktikan pada semua orang, dengan menulis aku bisa sejahtera dan menyejahterakan. Kiana tidak mau kalah, ia meluapkan semua emosinya kepada Panji.

Kiana, kamu bilang menulis bukan cuma sebuah pekerjaan. Itu artinya menulis bukan cuma untuk uang.
Kali ini Kia menatap tajam mata Panji.

Tentu aku sudah membaca novelmu. Hidup itu mesti dinamis. Bergerak seperti ombak, berani menantang karang yang menantang. Tapi, kamu lupa satu hal, Kia. Ombak tak pernah lupa ke mana ia harus pulang.

Panji beranjak dari kursinya. Ia memutuskan untuk pergi sejenak. Membiarkan sahabatnya berpikir, merenung. Lelaki itu berharap masih tersisa kelembutan di hati Kiana.

Perasaan Kia campur aduk. Ia mengepalkan jarinya kuat-kuat. Gadis itu memejamkan mata. Bodohkah ia? Ternyata novelnya belum selesai. Ombak itu memang bergerak. Dinamis, tak pernah takut menghalau karang, tapi ia benar-benar lupa satu hal. Ombak tidak pernah lupa ke mana harus pulang. Ombak selalu pulang ke pantai.

Gadis berambut ikal itu mengendurkan kepalan jemarinya. Kini ia menutup wajahnya dengan tangannya. Tuhan! Perasaan apa ini? Mendadak wajah sang ibu mengelebat dalam pejaman matanya. Suaranya. Suara wanita paruh baya yang ringkih itu mengiang di telinga. Suara ketika ibu menahannya pergi ke Jakarta.

Bayangan masa lalu tentang betapa cintanya sang ibu kepada Kiana kini tergambar jelas. Ibu menahannya bukan karena meragukan Kiana. Wanita itu hanya ingin mewariskan harta satu-satunya kepada putri tunggalnya, kebun teh. Tapi, tanggapan Kia berbeda. Ambisi sudah mendobrak segala keraguannya. Ia mati-matian membuktikan kepada ibunya, ia bisa mencari uang lewat menulis. Namun, setelah itu terbuktikan, gadis itu malah lupa ke mana ia harus pulang. Memaksa lupa akan ibunya. Akan masa lalunya, juga rumahnya.

Hatinya mencelos. Ada sesuatu yang hangat mengalir di kalbu gadis mungil itu. Kia tidak ingin memungkiri lagi. Sekarang ia tahu perasaan apa itu. Rindu. Tak salah lagi. Ia rindu ibu.
Kia beranjak dari tempat duduknya. Tak peduli wajahnya dan rambutnya acak-acakkan. Yang ia mau kini cuma mengejar Panji. Meminta lelaki itu menemaninya pulang ke rumah ibunya. Berterima kasih kepada Panji karena telah meneruskan novelnya yang ternyata belum selesai.

Setelah membayar ke kasir, ia segera bergegas membuka pintu kaca. Tak mempedulikan gerimis yang masih berderai. Ia berlari menuju parkiran, berharap Panji masih di sana.

Deretan mobil ia lewati. Satu, dua, tiga
Panji masih di sana! Lelaki itu sedang akan masuk ke dalam mobilnya.
Panji.
Panji menoleh. Lelaki itu menatap tak percaya, Kia mengejarnya.

Panji, kamu benar. Ombak selalu tahu ke mana harus pulang. Aku ini penulis yang lupa, menasihati orang tapi lupa menasihati diri lewat tulisanku sendiri. suara Kia melembut. Mata sipitnya berkaca.
Panji mendekat. Ia menatap lembut sahabatnya.

Aku mau pulang, Panji. Aku mau menghadiahkan karya-karyaku untuk Ibu. Bukan cuma uang. Ibu harus mendapat cintaku lewat karya-karyaku.
Aku mau pulang, Panji. sambungnya.

Panji mengerlingkan senyumnya. Kelegaan kini menyelimuti kalbunya. Ia sungguh percaya, Kiana masih punya sisi lembut, masih punya cinta dan rindu untuk ibunya. Ia juga mengakui Kiana adalah seorang penulis hebat, mampu menghipnotis banyak orang. Hanya saja gadis itu lupa menerapi diri sendiri. Namun, kini gadis itu berhasil mencairkan hatinya lewat tulisannya sendiri. Panji sungguh bersyukur. Tugasnya selesai, mengantarkan Kiana pulang ke pelukan ibundanya.

Ibu, aku mau pulang. Ke pelukanmu yang paling aman.

Ibu, kini aku mengerti tulisanku sendiri. Hidup memang mesti dinamis, seperti ombak. Tapi tak hanya itu, aku tidak boleh lupa akan rumah untuk pulang. Aku tidak boleh melupakan orang-orang yang mencintaiku setelah mimpi-mimpiku tergapai. Aku tidak boleh bersembunyi dari masa lalu. Meski itu kelam. Sebab jika tidak ada masa lalu tidak akan ada masa kini. Dan jika tanpa engkau, ibu, aku tidak akan pernah sampai di titik ini, tidak akan berambisi menantang kejamnya dunia juga menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya.

Ibu, aku ingin pulang…

Seminar Pra Nikah (Plus) Islamic Parenting

IMG-20151030-WA0001 (1)
“Jodoh dunia akhirat namamu rahasia tapi kau ada di masa depan ku…”
(Jodoh Dunia Akhirat – Kang Abay)
Bismillahhirrohmanirrohim
Kamu yg lagi menanti?
Kamu yg sedang mengikhlaskan?
Atau kamu yg sedang berbahagia dengan kekasih halal?
LDF FORSIA FEMA IPB
Proudly Present :
SEMINAR PRA NIKAH (Plus) ISLAMIC PARENTING
Sabtu, 14 Nov 2015
07.00 – 12.00 WIB
Auditorium Andi Hakim Nasution IPB
Tiket :
Paket IPB
Single : 40K
Paket halal (2 org) : 70K
Paket Samawa (5 org) : 170K
Paket UMUM
Single : 50K
Paket halal (2 org) : 90K
Paket Samawa (5 org) : 220K
Pendaftaran dan pembayaran : 29 Okt-11 Nov 2015
Fasilitas : Seminar Kit, Snack, Sertifikat, Ilmu Bermanfaat dunia akhirat, Hiburan
Siapakah pembicaranya?
Sesi 1 : JOMBLO SAMPAI HALAL
Moderator : Husna Humairah Nurfauziah (Pemenang Muslimah Ambassador 2015)
Kang Abay (Motivasinger, Penulis lagu)
Azka LZ Azra, SP, M.Si (Aktivis, pegiat komunitas Inovasia)
Sesi 2: ISLAMIC PARENTING
Moderator : Gugi Yogaswara, ST (Ketua BEM Fateta 2011-2012)
Saleha Juliandi, M.Si (Author Pendidikan Anak ala Jepang)
Dr. Agr. Eni Palupi, STP, M.Sc (Dosen Gizi Masyarakat IPB)
Wahh kece kan materi dan pematerinya?
Makannya yuk daftar
Caranya :
Nama_IPB/Umum_Institusi_Paket_No.hp kirim ke : 085746531642 (Fitri Dwi Prastyanti)
Untuk yg IPB, bisa langsung datang ke stand kami di Koridor Fema IPB utk pengambilan tiket setelah konfirmasi pendaftaran ya ?
Nah buat umum, silahkan transfer uang pembayaran ke No. Rek BNI atas nama Meliasari 0303756757. Jika telah mentransfer uang pembayaran, silahkan konfirmasi ke 085746531642 (Fitri Dwi Prastyanti)
Tunggu apa lagi guys, ayo segera daftar. Kursi terbatas lohh, sayang banget kalo kamu ngelewatin ilmu-ilmu yg akan kamu dapetin di sini
SPNIP2015
Forsia36
Kemuslimahan36
KabinetElFatih
CP :
Ikhwan : 089638797512 (Gerry)
Akhwat : 085758473958 (Eka PS)
Wassalammualaikum wr.wb

Kenapa Buku yang Anda Tulis Tidak Laku?

mini gathering quanta-elexmedia
Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan undangan dari Quanta-Elexmedia Komputindo dalam acara mini gathering. Acara yang selalu saya tunggu-tunggu, karena bisa berkumpul bareng dengan para penulis dan editor. Berkumpul bersama mereka bagai menelan bubuk mesiu yang bisa meledakkan semangat. Hehe.. 🙂
Selain mendapatkan ledakan semangat, di acara super keren itu, kami juga mendapatkan banyak sekali ilmu. Khusus di mini gathering kali itu, kami mendapatkan ilmu menjual buku. Asyik, kan… :).
Nah, agar ilmu yang saya peroleh di acara tersebut lebih bermanfaat, saya akan membagikannya kepada teman-teman semua. Saya juga akan menyisipkan beberapa pengalaman berbisnis buku yang telah kami geluti selama 3 tahun ini.
Buku merupakan produk dari seorang penulis. Agar opini yang penulis tuangkan ke dalam tulisan bisa sampai kepada masyarakat, maka buku harus dibaca oleh masyarakat. Semakin banyak buku tersebut dibaca oleh masyarakat, maka semakin tersebar pula opini si penulis kepada masyarakat. Sehingga, semakin besar kemungkinan si penulis mempengaruhi masyarakat. Agar hal tersebut dapat tercapai, maka penulis harus bisa menjual bukunya sebanyak mungkin. Kecuali jika si penulis akan membagikan buku-bukunya secara gratis kepada seluruh masyarakat 🙂
Dalam menjual buku, ada beberapa “pintu” yang paling umum dilakukan oleh penulis, yaitu melalui toko buku, toko online, dan melalui kegiatan-kegiatan seperti seminar.
Khusus penjualan buku melalui toko buku, dibahas mendetail di acara mini gathering tersebut oleh Pak Yoyok dari Gramedia Matraman. Jika Anda menerbitkan buku secara mayor, berikut perlakuan buku Anda di toko buku:
Tahap pertama adalah penerimaan. Pada tahap ini, buku Anda yang beroplah sekitar 2.000 eksemplar diterima oleh toko yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap toko mendapatkan sekitar 10 – 30 eksemplar, tergantung PO (permintaan) toko.
Dalam kesempatan tersebut, Pak Yoyok juga mengatakan bahwa toko menerima setidaknya 2.500 – 2.600 JUDUL BARU setiap bulannya! Wow…jumlah yang fantastis. Dan dari hasil pengamatan terhadap arus buku yang masuk, jumlah tersebut diprediksi akan terus bertambah.
Di satu sisi saya bangga dengan meningkatnya jumlah buku yang dihasilkan oleh para penulis. Meningkatnya jumlah buku yang diproduksi, menunjukkan semakin meningkatnya permintaan buku oleh masyarakat. Sehingga, bisa diasumsikan bahwa minat baca masyarakat Indonesia juga mengalami peningkatan. Namun di sini lain, dengan semakin banyaknya jumlah buku dan penulis, menjadi tantangan besar bagi setiap penulis agar tetap eksis dan bisa bersaing di pasar yang sangat ketat. Tips untuk para penulis dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat ini, akan saya jelaskan lebih detil di bawah.
Tahap kedua adalah memajang (men-display) buku Anda di rak-rak toko. Khusus buku baru, akan diletakkan di floor, yaitu meja yang di lantai. Biasanya meja ini berada di dekat pintu masuk sehingga dapat dilihat oleh pengunjung. Setelah dipajang di floor, buku akan dipindahkan ke rak-rak berdasarkan kategori atau rak biasa. Namun harus diingat juga, bahwa tidak semua buku akan dipajang di floor. Hanya buku yang dinilai potensial saja, yang akan dipajang di floor. Buku yang dinilai kurang potensial akan langsung diletakkan di rak biasa berdasarkan kategori genre buku.
Mengenai display (rak) toko ini, ada sedikit rahasia yang akan saya bagikan di bawah. So, terus baca hingga tuntas tulisan ini.
Tahap ketiga adalah Retur, yaitu apabila penjualan buku Anda di toko menunjukkan pergerakan yang lambat (slow moving), yaitu penjualan biasa-biasa saja, stagnan atau bahkan buruk, maka dalam waktu sekitar 2-6 bulan, buku Anda akan diretur (dikembalikan) ke penerbit. Ingat kan, pada paragraf sebelumnya sudah saya sebutkan bahwa ada 2.500-2.600 JUDUL BARU masuk ke toko setiap bulannya. Sementara, jumlah rak buku tetap, tidak bertambah. Sehingga, jika buku Anda kurang prospektif, maka akan segera digusur dari rak.
Sadis, ya. Lama nulisnya, puyeng nulisnya, lama nemuin penerbit mayornya, dan lama nunggu terbitnya, akhirnya diretur hehe… Yah itulah bisnis. Pada akhirnya, mau gak mau keuntungan materilah yang menjadi pertimbangan. Apabila buku Anda tidak dapat lagi memberikan keuntungan yang baik untuk toko, maka toko terpaksa harus meretur buku Anda ke penerbit. Wajar dong ya, karena semua pebisnis termasuk toko harus terus melangsungkan hidup dan terus menggaji para karyawan mereka.
Jadi jangan heran jika royalti yang Anda terima sedikit, meskipun buku Anda sudah “habis” di toko. Hal tersebut bukan karena buku Anda habis laku terjual, tapi habis diretur.
Tahap lainnya adalah Repeat, yaitu apabila stok buku di toko habis, sementara track record penjualan buku Anda dinilai masih bagus, maka toko akan melakukan Repeat Order (RO) kepada penerbit.
Namun, biasanya tidak semua penerbit memenuhi RO dari toko. Sebagian penerbit akan memenuhi RO, tapi sebagian penerbit memutuskan tidak memenuhi RO karena berbagai pertimbangan. Sebagai contoh adalah buku Pendidikan Anak Ala Jepang yang kami terbitkan. Banyak toko yang mengajukan RO kepada kami karena stok buku di toko sudah habis sementara track record penjualan buku tersebut masih sangat bagus. Kami memang memutuskan untuk tidak memenuhi RO toko karena pertimbangan keuntungan yang (jujur) jauh lebih kecil ketimbang penjualan yang kami himpun melalui penjualan online dan melalui Agen (Dropship). Melalui survei yang kami lakukan kepada konsumen, umumnya mereka juga lebih senang jika bukunya diantar ke rumah langsung ketimbang mereka harus pergi ke toko.
Sehingga, jika Anda mencari buku Pendidikan Anak Ala Jepang di toko buku, mungkin sudah mulai sulit menemukannya. Bukan karena habis diretur, tapi habis terjual. Sementara, RO toko belum ingin kami penuhi.
Jadi buat Anda penulis buku, tidak perlu risau juga jika buku Anda tidak ditemukan lagi di toko. Bukan berarti buku Anda habis diretur, tapi bisa jadi memang buku Anda habis terjual sementara RO toko tidak dipenuhi oleh penerbit. Asalkan royalti Anda lancar dan besar, dari ‘pintu’ penjualan manapun, sama saja bukan? Opini Anda tetap tersebar luas dibaca oleh masyarakat dan kantong Anda pun tebal :). Jika Anda mengalami hal serupa, tanyakan perihal tersebut kepada penerbit untuk meminta penjelasan mengenai status buku Anda.
Sampai sini kira-kira sudah dapat gambaran kan, bagaimana perlakuan buku Anda selama di toko buku.
Nah, sekarang giliran saya bertanya kepada Anda. Jangan meneruskan membaca sebelum menjawab pertanyaan saya, ya 🙂
Berikut pertanyaannya:
“Apakah buku yang LEBIH LARIS pasti LEBIH BAGUS dibandingkan buku yang KURANG LARIS?”
Setelah Anda menjawab, silakan lihat gambar di bawah ini:
Slide Presentasi
Yap, buku yang lebih laris BELUM TENTU lebih bagus ketimbang buku yang kurang laris.
Kenapa?
Berikut penjelasan yang saya dapatkan dari mini gathering dan pengalaman kami selama ini.
Penulis adalah KUNCI dari penjualan buku. Penulis tidak hanya harus bisa menulis. Tapi juga harus bisa MENJUAL bukunya.
Menjual yang dimaksud di sini bukan berarti melulu dengan berkoar-koar menyebutkan buku yang Anda tulis serta harganya. Tapi termasuk usaha Anda dalam membranding diri. Semakin brand diri Anda dikenal masyarakat, semakin besar masyarakat mengenal produk Anda dan tertarik membeli buku Anda.
Selain itu adalah istiqomah, yaitu terus menulis tanpa lelah. Jangan baru satu buku, gak laku, lalu malu :). Teruslah menulis, karena Anda akan dikenal sebagai penulis jika Anda terus menulis.
Langkah lain adalah bentuklah ikatan emosional dengan (calon) pembaca buku Anda. Sehingga, mereka “menyukai” dan “membutuhkan” Anda. Ikatan emosional ini bisa Anda rintis dengan berbagai cara, antara lain bisa melalui komunitas yang Anda bangun atau melalui informasi-informasi bermanfaat yang Anda bagikan kepada mereka. Pilihlah informasi-informasi yang berkaitan dengan segmen buku Anda.
Tips lain adalah sering-seringlah mengadakan kegiatan yang melibatkan brand atau buku Anda, seperti seminar, bedah buku, atau aktivitas lainnya. Anda bisa mengadakan kegiatan tersebut secara mandiri atau bisa juga melibatkan penerbit atau lembaga lain.
Selain keempat tips di atas, tentu tulislah buku yang menarik, unik, dan sajikan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya di buku lain. Tidak hanya para scientist dan pengusaha aja loh yang dituntut harus inovatif. Tapi semua orang yang “menjual”, termasuk penulis juga harus bisa inovatif! 🙂
Nah, tentang rahasia display (rak) toko yang di atas saya janjikan akan saya ulas, akan saya ulas pada beberapa paragraf di bawah ini.
Letak rak memang cukup mempengaruhi penjualan buku Anda. Letak yang strategis, tentu akan memancing penjualan yang lebih besar terhadap buku Anda. Berbeda dengan buku-buku yang terletak di rak biasa. Apalagi kalau rak itu berada di pojokan, pula. Kalau pengunjung toko bukan orang yang suka blusukan, dijamin buku Anda tidak akan tersentuh pembeli.
Nah, jika Anda memiliki dana yang cukup, Anda bisa menyewa rak di bagian depan untuk buku Anda sehingga buku Anda dapat dengan mudah dilihat dan ditemukan oleh pengunjung toko. Bahkan, Anda bisa menyewa neon box khusus untuk display buku Anda. Biaya sewa rak “spesial” tersebut berbeda-beda setiap toko, sekitar 1-2 juta per 2 minggu. Semakin potensial toko, biasanya semakin mahal biaya sewa raknya.
Bukan hanya sewa rak “spesial” yang bisa Anda manfaatkan dari toko untuk buku Anda. Anda juga dapat menghubungi pihak toko untuk menyelenggarakan bedah buku, seminar, atau kegiatan apapun untuk buku Anda. Tapi, tentu juga diperlukan syarat khusus dan biaya. Biasanya, untuk bedah buku/seminar, hanya penulis-penulis yang dijamin bisa menghadirkan peserta dalam acara tersebut, yang akan di-ACC permohonannya. Lucu dong ya, kalau pihak toko sudah menyiapkan acara tapi ternyata peserta seminar/bedah buku yang hadir segelintir atau bahkan tidak ada. Pasti tidak enak banget bagi penulisnya sendiri maupun tidak enak juga bagi pihak toko. Selain syarat tersebut, sejumlah biaya tertentu juga diperlukan. Karena toko biasanya harus menyiapkan kursi, sound system, spanduk, dan area khusus untuk acara yang biasanya menyebabkan penurunan penjualan buku lain yang terdisplay di sekitar area tersebut. Biaya pengadaan seminar/bedah buku ini, bisa Anda tanyakan langsung ke toko-toko terkait.
Demikianlah beberapa tips untuk penulis dalam menjual buku agar laris di pasar. Sekali lagi saya katakan bahwa PENULIS adalah KUNCI kesuksesan penjualan buku. Penerbit hanya bisa membantu memfasilitasi penulis. Jadi, jangan pernah memasrahkan penjualan buku Anda hanya kepada penerbit, apalagi menyalahkan penerbit jika buku Anda tidak laku. Setiap penerbit pasti ingin semua buku yang mereka terbitkan laku. Kalau buku Anda laku, penerbit juga akan semakin untung, kok. Mana ada pebisnis yang menolak keuntungan.
Semakin ketatnya persaingan di pasar, mulailah MENJUAL buku Anda semaksimal mungkin sekarang juga. Jangan hanya mengandalkan penjualan toko dimana rotasi buku Anda sangat dibatasi waktunya. Maksimalkan juga pemanfaatan media digital (online) untuk menjual buku Anda dengan tips-tips yang telah saya sampaikan di atas. Tips sukses lain dalam berjualan online bisa Anda baca di artikel yang pernah saya tulis di sini. Apabila Anda ingin mendapatkan pelatihan lebih mendalam dalam menulis hingga memasarkan buku Anda agar laris, bisa bergabung ke dalam Pelatihan Menulis.
Apabila Anda menilai artikel ini bermanfaat, bagikan dan teruskan. Semoga kebaikan terus menyebar bagai virus di negeri ini.