Sumber Cerita: Saleha Juliandi
Saat suami ke Jepang dua minggu yang lalu, dia berkenalan dengan teman baru asal Italia di laboratoriumnya. Dia ini, katanya bersemboyan hidup ingin menghabiskan hidupnya untuk berkelana ke seluruh dunia. Bekerja di laboratorium sebagai researcher hanya bertujuan ingin mengumpulkan uang saja. Setelah uang terkumpul, akan dia habiskan (lagi) untuk bertraveling mengelilingi dunia.
Saat suami saya bertanya, “Dari sekian banyak negara yg pernah kamu kunjungi, mana yang paling berkesan bagimu?”
Suami saya yakin bahwa jawabannya adalah Jepang, Inggris, Prancis, atau negara2 Eropa lainnya.
Lalu si orang Italia tadi menjawab, “Indonesia. Saya sangat terkesan dengan danau tiga warna. Saya juga pernah menyelam di Bunaken. Luar biasa cantik! Tidak ada tandingannya!”
“Oh… saya orang Indonesia. Saya asli orang sana,” bales suami dengan bangga (hehe…)
Pas suami sudah di rumah dan menceritakan itu pada saya, suami bilang begini:
“Aku malu. Ngakunya orang Indonesia. Tapi malah belum pernah ke sana. Aku malah gak tahu kalau ada danau 3 warna di Indonesia. Orang lain yang bukan siapa2, malah lebih mengenal dan mengagumi negeri kita. Semoga, suatu saat nanti kita bisa berkunjung ke tempat2 cantik di Indonesia. Biar Indonesia tidak hanya dekat di mata, tapi juga dekat di hati kita.”
#Loveindonesia #Indonesiabersyukur #goodnewsfromindonesia
admin
~ Anti Kalimat Itu ~
Sumber Cerita: Saleha Juliandi
Beberapa bulan yang lalu, sebelum pulang ke tanah air, si sulung ketakutan. Dia BENAR-BENAR tidak mau pulang ke Indonesia. Takut nggak bisa ngikuti pelajaran di Indonesia yang katanya jauh lebih sulit ketimbang pelajaran di Jepang dan ketakutan2 lainnya.
“Aku nggak mau pulang ke Indonesia. Aku ntar gak bisa dan paling bodoh. Katanya pelajaran di Indonesia kan susah2.”
Hmm.. Saya paling nggak suka setiap dia bilang kalimat2 itu. Kalimat2 yg mengandung pesimisme dan ketidakpercayaan kepada Allah: GAK BISA, PALING BODOH, dan SUSAH. Bahkan kata “DUH” pun, saya tidak suka mendengarnya. Karena itu menggambarkan keluhan dan ragu atas kuasa-Nya.
Setiap dia bilang seperti itu, saya selalu membantahnya:
“Enggak, insyaaAllah BISA. GAK ADA yang susah. Semua MUDAH.”
Alhamdulillah.. Walau baru sekitar 3 bulan beradaptasi di Indonesia, hasil nilai UTS-nya cukup melegakan. Beberapa nilai UTS-nya di atas 80 dan 90 :). Walaupun pelajaran Bhs Sunda dan Bhs Inggris-nya sekitar 55, tapi kami sangat memaklumi. Itu sudah sangat bagus bagi kami. Krn dia sedang mengalami peralihan bahasa dan budaya yang luar biasa.
Saat baru saja tiba di Indonesia 3 bulan yg lalu, membaca huruf romaji saja dia masih sangat kesulitan. Karena selama di Jepang, dia hanya mengenal huruf kanji, katakana, dan hiragana. Bahasa yg digunakan sehari2 pun bahasa Jepang.
Setiap malam saya menemaninya belajar, ikut membacakan buku-bukunya dan mencarikan sumber2 lain dari internet. Alhamdulillah semua keletihan itu rasanya setimpal dengan hasilnya.
Tentu saya dan suami sama sekali tidak melihat besar kecilnya nilai tsb. Nilai itu hanya sebagai tolak ukur kami terhadap perkembangan si sulung dalam memahami pelajarannya di Indonesia.
Pada saat si sulung memberikan berkas2 uts-nya kpd saya, sangat berat saya menahan air mata agar tidak jatuh (tapi gagal, akhirnya jatuh juga hehe…). Dia langsung kebingungan pas melihat saya menyeka mata.
“Kenapa sih kok nangis..?” (Hehe..^^)
Saya hanya bilang begini padanya (sambil sok tegar :D):
“Nak, percaya kan dengan yg Bunda bilang selama ini? Jangan pernah TAKUT. Jangan pernah MERAGUKAN pertolongan Allah. JANGAN PERNAH berkata gak bisa, susah, atau apa saja yang jelek2. Karena setiap perkataan kita (entah itu sadar atau tidak sadar) akan menjadi doa kita kepada Allah. Hati2 dalam bicara. Perbanyak BERDOA, IKHTIAR, dan BERSYUKUR. InsyaaAllah Allah akan membukakan semua jalannya.”
~ Sukses ~
Sumber Cerita: Saleha Juliandi
Beberapa bulan yang lalu sebuah media muslimah Fahima di Jepang mewawancarai saya. Mereka mewawancarai tentang wirausaha (penerbitan) ini, yang saya dirikan sejak saya masih menetap di Jepang dulu.
Sejak wawancara tersebut, beberapa muslimah Indonesia yang tengah menetap di Jepang mengirimi saya email. Mereka mengaku bahwa sejak membaca artikel tersebut, termotivasi ingin mendirikan usaha juga dari jarak jauh. Alhamdulillah beberapa pebisnis muslimah Indonesia kini mulai bermunculan di negeri sakura :). Umumnya mereka adalah para ibu rumah tangga yang sedang menemani suami kuliah di sana.
Tidak hanya di Jepang, teman-teman di Indonesia dan negara lain pun rupanya ikut ter”kompori”. Kalau dulu saya mampu mendirikan dan mengelola penerbitan ini dari jarak jauh, mereka yang sedang di luar negeri pun saya yakin mampu. Apalagi bagi para wanita yang tinggal di tanah air. Pasti lebih mudah bagi mereka mengelola bisnisnya. Kalau saya bisa, pasti wanita lain pun bisa.
Saya senang sekali mendapatkan kabar-kabar gembira tersebut. Sukses bukan melulu soal materi. SUKSES adalah ketika kita tidak sibuk menyukseskan diri sendiri, tapi juga bisa menyukseskan orang lain.
Selamat atas bisnisnya, para Bunda… Semoga SUKSES. Mari kita tulari bunda-bunda lainnya.
———–
Artikel lengkap liputan oleh FAHIMA dapat dilihat pada link berikut:
http://www.fahima.org/en/artikel73/manajemen89/816-pengusaha-muslimah-di-negeri-rantau.html.
LOMBA MENULIS UNTUK REMAJA
Tema:
Perempuan…Kamu Pasti Bisa!
Mimpi, setiap dari kita memiliki mimpi. Mimpi yang hadir sering menjadi cambuk yang terus memanas, membuat kita ingin menggapai cita-cita.
Naah, dalam rangka memperingati Hari R.A. Kartini, kami ingin mengajak para remaja untuk menceritakan bagaimana kisah perjuangan dan perjalanan kalian dalam menggapai impian di era modern saat ini. Seperti R.A.Kartini yang akhirnya bisa mewujudkan impiannya.
Dalam lomba ini, kalian bisa menuliskan kisah tentang perjuangan kalian ketika berusaha masuk ke sekolah favorit, ketika menghadapi ujian, ketika tidak ada biaya sekolah, ketika berusaha menjadi panutan bagi adik di rumah maupun adik-adik kelas di sekolah, dan lain-lain.
Syarat dan Ketentuan Lomba:
1. Peserta laki-laki atau perempuan, usia 15 – 25 tahun.
2. Peserta hanya boleh mengirimkan satu kisah inspiratif.
3. Berupa kisah nyata (based on true story). Boleh pengalaman pribadi ataupun pengalaman orang lain.
4. Registrasikan diri dengan cara membagikan/men-tag lomba ini ke FB Saleha Juliandi (www.facebook.com/saleha.juliandi), FB Pena Nusantara (www.facebook.com/redaksipenanusantara), dan 10 teman kamu di Facebook.
5. Format Naskah: Tebal 15-18 halaman (Biodata tidak dihitung), Ukuran kertas A4, TNR 12, spasi 1.5, Paragraf rata kanan kiri (Justified), margin 3-3-3-3, Naskah diketik di MS. Word 2007.
6. Naskah merupakan karya asli, bukan saduran/jiplakan, dan belum pernah dipublikasikan lewat media manapun serta tidak sedang diikutkan pada lomba lainnya.
7. Tulisan tidak mengandung pesimisme terhadap Indonesia, tidak mengandung SARA, pornoliterasi, atau melanggar hukum.
8. Sertakan biodata dalam bentuk narasi maksimal 75 kata di akhir naskah. Biodata tersebut minimal memuat informasi tentang Nama Asli, Nama Pena, Nama Facebook, dan Email.
9. Berilah nama file naskah yang dilombakan dengan rumus: Nama Facebook+Judul Naskah. Contoh: Diera Alamanda+Tak Ada Biaya
10. Naskah lomba dikirimkan sebagai attachment ke email magnetkuw@yahoo.co.id dengan subyek email Perempuan, Kamu Pasti Bisa!. Kosongkan badan email.
11. Ikuti update dan pengumuman lomba melalui Grup FB Pena Nusantara (www.facebook.com/groups/penanusantara/) dan Fanpage Pena Nusantara (www.facebook.com/PENERBITPENANUSANTARA).
12. Deadline pengiriman naskah: 21 April 2014.
13. Pengumuman lomba: 21 Mei 2014.
Penilaian:
1.Keunikan dan kreativitas ide cerita
2.Alur cerita tidak membosankan
3.Cerita mampu menjadi motivator bagi para remaja
Reward:
Akan dipilih naskah-naskah terbaik untuk dibukukan. Jika naskah yang terkumpul memenuhi syarat penerbitan mayor, maka tidak menutup kemungkinan buku akan didistribusikan ke toko-toko buku besar di Indonesia. Masing-masing kontributor terpilih berhak mendapatkan 1 eksemplar buku terbit, E-sertifikat dan diskon 15% untuk setiap buku yang penulis pasarkan sebagai royalti. Di antara kontributor terpilih, akan dipilih satu kontributor dengan naskah paling menarik untuk mendapatkan hadiah buku-buku LARIS senilai Rp. 300.000 dari Pena Nusantara.
Kami tunggu ya… naskah-naskah kerennya!
Salam,
Gluck Fraulein (Koordinator Lomba)
Testimoni Buku: "Indonesia Bersyukur, Suatu Renungan dari Sebuah Buku"
Sumber Testimoni: http://sekedarcoretanbermakna.wordpress.com/2013/11/17/502/
(Tulisan asli, tidak diubah sedikitpun oleh tim redaksi Pena Nusantara)
Memulai tulisan ini izinkan saya menulis kutipan dari Aidh Al-Qurni, saya rasa kutipan ini sedikit mewakili isi dari buku ini, Orang yang tidak pernah memuji Allah atas nikmat air dingin yang bersih dan segar, maka ia akan lupa kepada-Nya jika mendapatkan istana yang indah, kendaraan yang mewah dan kebun-kebun yang penuh dengan buah-buahan ranum. Bagaimana anda mensyukuri yang banyak, jika mensyukuri yang sedikit saja tak mampu
Alangkah baiknnya bagi saya, anda dan kita semua untuk sejenak merenung, merenungi sudah seberapa besarkah syukur kita. Atau lebih spesifik lagi sudah berapa besarkah rasa Syukur kita dilahirkan sebagai orang indonesia, sehingga kelak sebagaimana yang ditulis di buku ini dengan bangga kita mengatakan tuhan izinkan aku mati di indonesia.
Buku ini sedikit bisa menjadi pemantik renungan kita untuk bersyukur akan keindonesiaan kita, buku ini juga bisa membuat kita melihat keindahan dibalik kejelekan yang selama ini kita dapatkan mengenaik negara tercinta, buku ini bisa menjadi penyeimbang dari berita-berita negatif mengenai bangsa ini yang hampir tiap hari kita temui baik ketika membaca koran, majalah, telivisi bahkan di media sosial seperti facebook dan twitter.
Buku ini adalah kumpulan tulisan-tulisan mengenai keunikan indonesia kalau boleh saya bilang. karena para penulisnnya, mampu mengambil hikmah yang mungkin hanya dimiliki oleh indonesia, dan hikmah itu berasal dari keunikan-keunikan itu sendiri.
Pritha khalida salah satu penulis misalnnya, mengingatkan dalam tulisannya di buku ini bahwa Indonesia sudah merdeka kawan, cobalah bangun dipagi hari lalu keluar rumah. Di negara ini, kita masih bisa menghirup udara segar. Oke, mungkin untuk kota-kota besar berpolusi. Tapi itukan masih jauh lebih bagus daripada mencium bau darah dari jenazah yang bergelimpangan di jalan seperti di jalur Gaza atau myanmar sana. memang harus diakui bahwa masih banyak yang perlu dibenahi dari negara ini, antara lain masalah korupsi yang merajalela sehingga memiskinkan banyak pihak dan menghambat pembangunan. Tapi tentu tidak serta merta kita dengan ini mita menafikan kemerdekaan negeri tercinta ini. ah saya rasa kita memang harus bersyukur karena kita hidup di negara yang lebih baik, kita juga tak harus merasa dibayang-bayangi apakah ketika kita di jalan, di kampus, di sekolah bahkan diimasjid akan ada pasukan militer yang menembaki atau membantai kita seperti saudara-saudara kita di suriah misalnya. Sekali lagi penulis mengajak kita untuk bersyur bahwa kita sudah merdeka.
Berikutnnya ada Saleha Juliandi dalam tulisannya mengajak kita bersyukur terhadapa karakter siap susah, siap melarat, siap hidup miskin Rakyat indonesia. Penulis mengutarakan pengalamannya ketika hidup di negeri sakura, bahwa masyarakat jepang memiliki budaya hidup yang sangat baik. Sekalipun itu tergantung individunya, tapi mayoritas orang jepang berprilaku baik. Ketika penulis bertanya kepada sensei (guru)nya tentang alasan mereka berprilaku demikian, sang guru mengatakan, mungkin, karena prinsipnnya adalah kami jangan sampai menganggu, menyusahkan dan merugikan orang lain.
Melalui prinsip yang telah mendarah daging itu bisa terlihat dikehidupan sehari-hari masyarakat jepang, tidak ada yang membuang sampah sembarangan, karena mereka sadar ketika membuang sampah sembarangan akan menganggu ketenangan orang lain, akan menyebabkan baun busuk, pemandangan yang kurang nyaman, banjir dan mengundang penyakit bagi orang lain. mereka rela mengantongi sampah sampai menemui tempat sampah. bahkan, penulis menceritakan jika mereka menumpahkan sedikit minuman atau remahan makanannya di lantai umum, mereka akan mengelap atau memungut satu persatu.
Sesempurna itukah jepang, penulis mengatakan, ..tak ada gading yang tak retak.., misalnnya, pada akhir tahun 2012, jepang kembali digemparkan dengan berita bunuh diri seorang remaja berusia 17 tahun, setelah sebelumnnya seorang anak berusia 13 tahun melompat dari apartemennya. Sementara ditingkatan dewasa aksi bunuh diri juga marak dilakukan. Padahal pemerintah jepang sudah menyediakan anggaran untuk menanggulangi aksi bunuh diri, baik itu dengan mengadakan penyuluhan atau dengan menjaga ketat tempat-tempat yang biasa digunakan untuk bunuhn diri. Tetapi, tetap saja aksi bunuh diri tetap marak di jepang.
Apa sih yang membuat mereka membunuh diri , menurut saleha di buku ini dari hasil penelitian, faktor untama pemacu bunuh diri di Jepang adalah stres akibat terlalu banyak tuntutan dalam pekerjaan, menganggur, tekanan psikologis, perselisihan, dan tidak adannya tujuan hidup yang jelas. Bagi mereka bunuh diri adalah jalan yang terhormat untuk keluar dari masalah.
Di eropa juga ketika krisis melanda eropa baru-baru ini, tingkat bunuh diri juga meningkat drastis. Mereka tidak kuat untuk hidup sederhan, tidak kuat dengan tekanan hidup, mereka terbiasa hidup manja.
Sementara kita (indonesia) kita bahkan melihat hampir tiap pagi seorang ibu-ibu penjual jamu gendong keliling, bapak-bapak penjual es lilin keliling kampung, ataupu seorang bapak yamg memanggul barang dagang mainan tradisional tidak hanya dari kampung kekampung bahkan bisa dari kabupaten-keabupaten hanya dengan berjalan kaki.
Itu tidak hanya mereka lakoni Cuma dengan setahun dua tahun, sebut saja mbo gina namanya, nenek tua berumur 60 tahunan bahkan lebih mungkin, tiap pagi harus memanggul sayuran, kemudian menjualnya di pasar condong-catur Yogykarta, ketika saya tanya, sudah berapa lama mbah jualan disini? sudah lama mas, saya juga tidak tau sudah berapa lama persisnnya, yang jelas sejak saya masih gadis katanya. Masih banyak mbo-mbo Gina yang lain negeri ini.
seperti kata penulis hidup itu ada yang mengatur neng, saya Cuma menjalani aja, mati juga tidak akan membawa harta benda..
Prinsip seperti ini pastilah berangkat dari keyakinan, sedih ataupun senang, susah ataupun kaya, itu sudah ditakdirkan tuhan. Penulis berkesimpulan bersyukurlah di indonesia kita punya karakter siap menderita dan kita punya karakter religius.
Masih banyak kisah tentang keunikan indonesia yang harus kita syukuri, di buku ini juga menceritakan bagaimana indonesia sangat berperan penting terhadap perdamaian dunia, khusunya keamanan di kawasan ASEAN, bagaimana indonesia mengatasi konflik kamboja thailand, bagaiman indonesia mempercayakan myanmar sebagai tuan rumah SEA Games 2013, ketika semua negara menolak, karena myanmar dinegaranya banyak melanggar HAM, tapi indonesia tetap mempertahankan myanmar, akhirnya Myanmar ditetapkan jadi tuan rumah. Lihatlah dampaknnya Myanmar pun, menjadi lebih terbuka, hubungan dengan negara lain pun jadi lebih aktif dari sebelumnnya yang agak sedikit tertutup. Ingatlah sejak zaman dulu indonesia memang berperan elegan. Konferensi Asia Afrika, Gerakan Non blok, ASEAN, Kelompok selatan-selatan, D8 adalah bukti indonesia adalah pionir.
Akhirnnya tulisan ini saya tutup dengan kutipan dari saleha junaidi di kata pengantar buku ini dengan meningkatnnya rasa syukur kita, semoga kita pun semakin bahagia, damai, dan tenteram hatinnya. Semoga anak-anak kita pun semakin optimis menatap masa depannya.. tentu saja sebagai anak indonesia.
Selepas tengah malam, 18 november 2013
Perpustakaan Pribadi, gang kenari, 113, Mancasan Lor
Balas Dendam
Ditulis Oleh: Ade Tuti Turistiati
Apakah Anda sedang merasa sebal, kesal, benci dengan seseorang?
Merasa dikhianati, dimanfaatkan (dalam konteks negatif)?
Terus Anda berpikir untuk membalas dendam atau dengan bahasa halusnya ingin memberi pelajaran pada orang yang menurut Anda sebagai biang keladinya. Tidak cukup berpikir dan berdialog dengan diri sendiri Anda pun berbagi perasaan dengan membuat status di FB yang ujungnya berbunyi : orang kaya begitu mesti diapain ya ?
Setelah status diposting berhamburanlah komentar dari FB friends Anda mulai dari yang isinya berempati, menasehati plus dalil, sampai yang ikut-ikutan merasa oh I know how you feel ! dan berujung memberi saran bagaimana melampiaskan balas dendam Anda.
Sebagai manusia wajarlah kalau kita merasa sebal, kesal, benci, illfeel, dan sejenisnya tapi bukankah kita selalu punya pilihan untuk menyikapi apa yang terjadi?
Misal Anda merasa dikhianati, dimanfaatkan, atau disakiti oleh seseorang. Pertanyaan kritisnya belum tentu orang tersebut bermaksud menyakiti Anda, bukan? Bisa jadi kita menangkapnya dengan perasaan berbeda. Kalau begitu sebenarnya kita sedang berurusan dengan perasaan kita bukan dengan orang yang menurut kita menyakiti kita. So, kita punya pilihan untuk berdamai dengan perasaan sendiri.
Perasaan sebal, kesal, benci Anda share di media sosial. Pertama, Anda berpotensi mengundang energi negatif berdatangan dari teman-teman Anda. Kedua, orang lain berpotensi menebak-nebak dan penasaran dengan orang yang Anda maksud terus menggali dan mencari-cari kesalahan orang tersebut. Ketiga, sebenarnya Anda sudah dapat mengira-ngira macam komentar apa yang Anda akan dapatkan. Keempat, bisa jadi ada orang yang merasa senang dengan kesusahan Anda dan alih-alih berempati dia malah berpikir bahwa Anda memang pantas diperlakukan demikian oleh orang tersebut siapapun dia. Kelima, hanya menunjukkan bahwa diri Anda lemah.
Ketika kita sedang berusaha untuk menjadi lebih baik, lebih sabar, lebih bijaksana bukankah Tuhan sering menguji kita. Salah satu ujiannya bisa melalui perilaku dari orang-orang yang dekat dengan kita. Tapi bukankah Tuhan juga selalu memberikan ujian dan cobaan tidak lebih dari kemampuan manusia?
So, dengan segala sikap dan perilaku orang kepada kita yang kita merasa kesal, sedih, sebal, benci, mual dan sejenisnya bagaimana kalau kita balas saja dengan menjadikan diri kita lebih baik, buktikan bahwa diri kita lebih kuat dan besar dibanding dengan masalah atau perasaan sakit dan sebal kita.
Orang bijak mengatakan bahwa cara terbaik untuk membalas dendam adalah memaafkan dan menjadikan diri kita lebih baik.
Istiqomah dalam Tujuan Hidup
Ditulis oleh: Saleha Juliandi
Waktu mahasiswa dan sebelum menikah dengannya dulu, saya pernah bertanya begini padanya,
“Nanti setelah lulus, mau kerja apa?”
“Dosen,” begitu jawabnya.
Ternyata benar. Setelah lulus dan menikahi saya, dia langsung mengabdi sebagai dosen, walaupun dimulai sebagai dosen honorer.
Selama 7 tahun suami menjadi dosen honorer di IPB. Kalau boleh jujur, tujuh tahun adalah waktu yg cukup panjang bagi kami bertahan dalam keterbatasaan. Saya dan keluarga besar sempat meminta suami mencari pekerjaan di tempat lain yg “lebih menjanjikan”. Tapi, suami tetap saja menunggu kesempatan agar bisa menjadi dosen PNS seutuhnya sambil ngobyek sana sini agar dapur tetap tercukupi. Alhamdulillah, setelah menunggu cukup lama, peluang menjadi dosen PNS pun terbuka.
Namun, sesaat setelah mjd CPNS, ternyata suami mendapat beasiswa kuliah ke Jepang. Alhamdulillah, kuliah suami di Jepang berjalan lancar dan langsung diminta bekerja sebagai peneliti di negara maju ini.
Setelah mendiskusikan permintaan tersebut dengan saya, akhirnya kami memutuskan mengambil permintaan itu. Selain ingin menambah pengalaman bekerja dan belajar di negera maju, juga karena fasilitas yg ditawarkan cukup menggiurkan.
Tahun pertama, kedua, ketiga, kontrak kerja suami di Jepang selalu saja diperpanjang. Yang tadinya suami hanya berencana bekerja satu tahun, akhirnya mencapai tiga tahun. Setiap suami menyinggung akan mengakhiri kontrak kerjanya, selalu saja tidak disetujui oleh atasannya. Sementara, dalam waktu yg sama, IPB meminta suami segera kembali ke tanah air, untuk memberikan kontribusinya.
“Tidak, tidak. Kami memerlukan kamu di sini. Jika perlu, menetap saja kamu sekeluarga di Jepang untuk selamanya,” kata profesor tersebut, setiap suami menyinggung tentang keinginannya untuk mengakhiri kontrak kerjanya di Jepang.
“Terimakasih atas apresiasinya, Sensei. Tapi saya tidak mungkin menetap di sini selamanya. Karena saya punya tugas mengajar dan meneliti di Indonesia.” Selalu begitu jawaban suami setiap profesor tsb menolaknya.
Berbagai pertimbangan pun kami diskusikan lagi. Tawaran bekerja di Jepang terus terang sangat menggoda. Saya sempat membujuk suami untuk meninggalkan pekerjaannya di Indonesia sebagai dosen PNS dan bekerja serta menetap di Jepang saja. Toh, berkarya untuk bangsa bisa dilakukan dari mana saja. Pun, dapat dilakukan dari Jepang.
Tapi, ternyata suami tidak setuju dengan pendapat saya.
“Enggak, Bunda. Bagi mereka yang belum memiliki kesempatan kerja di Indonesia, mungkin bisa seperti itu. Tapi kesempatan aku bekerja di Indonesia ada. Bahkan sudah sangat terbuka lebar. Ya… walaupun fasilitasnya nggak sama dengan di sini (Jepang). Tapi insyaAllah, Allah akan mengatur dan mencukupkan semuanya. Tidak baik meninggalkan negeri yg sudah mengantarkan kita sampai sini.”
Akhirnya, beberapa bulan yang lalu, permohonan penghentian kontrak kerja KEMBALI suami ajukan.
Tapi sayang, tanggapan profesor tersebut tetap sama. Tidak menyetujuinya.
Dan untuk ke sekian kalinya, akhirnya suami saya menjawab seperti ini:
“Until when, sensei? It has been so long i worked here. I really really have to back to my country now.”
Setelah proses tarik ulur yang cukup panjang bahkan berbulan2, akhirnya… profesor itu MENYETUJUINYA, walau teteepp..mengajukan berbagai syarat :).
“You know, i will miss you so much…” Begitulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut profesor yang terkenal sangat “cuek” itu. Sampai suami sempat kaget mendengarnya:).
—
Terlepas dari kisah panjang kami di atas, ada satu hal penting yang benar-benar saya pelajari di sini, yaitu tentang KEISTIQOMAHAN DALAM TUJUAN HIDUP.
Walaupun harus menunggu hingga tujuh tahun dalam keterbatasan, walaupun harus ngobyek sana sini agar kebutuhan anak istri tercukupi, walaupun tawaran bekerja di Jepang yang memberikan fasilitas “lebih” terbuka lebar, tapi suami tetap ISTIQOMAH dengan tujuan hidupnya selama ini, yaitu ingin menjadi dosen dan bisa membagikan ilmunya kepada para mahasiswa di tanah air.
Tujuan yang teramat sederhana. Tapi, sudah menjadi cita-cita dan tujuan hidupnya selama ini. Sehingga, walaupun tantangan dan iming-iming menggiurkan datang silih berganti, dia TETAP SETIA menuju tujuannya.
Berbicara atau Berkomentarlah yang Baik atau Diam
Oleh: Ade Tuti Turistiati
Mari kita bandingkan 3 kalimat pertama dengan 3 kalimat berikutnya: …
1. Bu Marni itu cantik tapi sayang badannya gemuk.
2. Ustadz itu tausiyahnya bagus dan menyejukkan tapi sayang dia punya masa lalu yang kelam.
3. Anak kecil itu pintar tapi kadang susah diatur.
__
a. Bu Marni itu badannya gemuk tapi dia cantik
b. Ustadz itu punya masa lalu yang kelam tapi tausiyahnya bagus dan menyejukkan
c. Anak kecil itu kadang susah diatur tapi dia anak yang pintar
Saya yakin kita sependapat bahwa kalimat a, b, dan c cenderung bermakna atau mempunyai dampak positif. Jadi jika kita ingin menyampaikan suatu pernyataan lebih baik sampaikan terlebih dahulu apa yang kurang enak didengar atau cenderung negatif diiringi pernyataan positif bukan sebaliknya.
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari bisa jadi kita lebih banyak menggunakan kalimat dengan pola pertama, yaitu berkomentar atau menyampaikan pendapat kita tentang seseorang/sesuatu dengan pernyataan positif terlebih dahulu kemudian diikuti oleh informasi negatif. Kalimat atu pernyataan seperti ini menurut saya mempunyai kecenderungan orang lain atau teman bicara kita menjadi penasaran menggali hal-hal negatif tentang apa yang kita sampaikan. Lebih buruk lagi jika akhirnya kita jadi melupakan hal baiknya tentang orang yang kita bicarakan dan terjebak menggali kekurangan atau hal-hal yang negatifnya.
Pertanyaannya, seberapa penting dan bermanfaatnya informasi atau pernyataan negatif harus disampaikan mengiringi pernyataan positif ? Bisa jadi tidak penting dan tidak punya manfaat sama sekali.
Nah, kalau begitu kita bisa mengatakan pernyataan atau komentar kita cukup seperti ini:
A. Bu Marni itu cantik.
B. Ustadz itu tausiyahnya bagus dan menyejukkan.
C. Anak kecil itu pintar.
Atau kalau kita merasa tidak ada hal-hal yang baik dan bermanfaat untuk disampaikan lebih baik kita diam.
HASIL SELEKSI TAHAP II LOMBA "ANAKKU, MUTIARAKU"
Kawan-kawan Penulis Naskah Pilihan pada Audisi Anakku, Mutiaraku,
Berikut ini dengan hormat kami sampaikan hasil evaluasi dari tim editor kami terhadap dua naskah buku yang telah dijaring melalui seleksi tahap I. Pada seleksi sebelumnya tersebut, seluruh naskah telah dibagi menjadi 2 berdasarkan temanya, yaitu: “Mutiara-Mutiara Istimewa” dan “Anakku, Mutiaraku”
Untuk naskah Mutiara-Mutiara Istimewa, pada dasarnya kami tertarik untuk menerbitkannya secara mayor, namun dengan syarat adanya revisi. Revisi tersebut adalah berupa ulasan medis pada setiap naskahnya. Ada beberapa informasi yang lebih spesifik dan mendalam yang kami inginkan pada ulasan medis tersebut. Sehingga, untuk naskah ini, kami masih menunggu revisi dari dr. Zulham.
Sedangkan untuk naskah Anakku, Mutiaraku, mohon maaf sekali kami belum dapat menerbitkannya secara mayor. Sama sekali bukan karena naskahnya kurang bagus, hanya temanya yang kurang kami minati. Untuk itu, buku ini akan kami terbitkan secara indie.
Demikianlah hasil diskusi dari tim editor kami sampaikan. Semoga semua pihak dapat memakluminya. Semoga proses berikutnya dapat berjalan dengan lancar. Terima kasih.
Wassalam,
Penerbit Pena Nusantara
Pengumuman Lomba Cerpen LDR
Berikut daftar naskah cerpen LDR yang lolos dan akan di bukukan oleh penerbit Pena Nusantara secara indie:
1. Padi dan Kapas – Ali Ahmad
2. Ombak Yang Tersesat – Evi Septiani
3. Kesetiaanku Sekokoh Tembok Ksatriaanmu – Okky Dwi Fitri Aries
4. Saat Tak Hanya Jarak Yang Memisahkan – Andita Radianti
5. Pelukan 10 Menit – Siti Yulianingsih
6. Ketika Aku Mencoba Memeluk Jarak – Lourdes Florentine Mariso
7. Antara – Wiwit Nur Afie Aussy 8.Kejutan Terakhir – Ardita Destiani
9. Email Dari Kaki Merapi – Carolina Ratri
10. Antara Cinta dan Bis Kota – Vita Novian Rondang
11. Pungguk dan Bulan – Bellantinae Briant
12. Tantangan Ezra – Anisa Nur Hani
13. And Covered The Tracks – Zianka Mozza
14. Long Destiny Relationship – Sari Widiarti
15. Karena Jarak Itu (Tak Selalu) Indah – Mifta Faradisa
16. Sepasang Sayap Yang Patah – Wawan Setiawan
17. Cinta Maya – Robianus Supardi
18. Dua Tahun Dengan 15.000 Kilometer – Fadila Istiqa Septiana
19. Serdadu Rindu – Kristiawan Balasa
20. Surat Rindumu – Sarah
21. Raisa Sayang, Mengertilah – Putri Larasati W.
22. Senandung Rindu Dari Melbourne – Rere Zivago
23. Selalu Bersama – Rinrin Indrianie
24. Pemberi Harapan Nyata – Asagi Enpitsu
Untuk naskah yang lolos akan memasuki tahap editing, sedang naskah yang tidak lolos, tidak akan dipublikasikan dalam bentuk apapun. Untuk peserta yang naskahnya lolos, dimohon untuk mengirimkan kembali biodata narasi maksimal 100 kata dalam bentuk dokumen word dan menyertakan satu foto pribadi dalam format .JPG atau .JPEG. Biodata narasi dan foto harap dikirim ke email aiyuchee@yahoo.com dalam bentuk attachment (bukan di badan email). Dalam buku ini akan ditambahkan 2 cerpen dari saya.
Jika ingin menanyakan apapun perihal lomba ini bisa menguhubungi Pena Nusantara melalui FB atau Twitter (@Pena_Nusantara) atau koordinator lomba melalui Line ayucitraningtias (respon lebih cepat), Twitter: @ningaiyu, dan YM: aiyuchee

