admin
admin

Status Facebook 12 Juli 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi:https://goo.gl/5YPWyS


kaiko
Keiko (6 tahun), walau dulu pas belajar baca lebih lambat daripada saudara kembarnya, tapi sekarang malah terlihat lebih gemar membaca. Membacanya sudah sangat lancar, bahkan buku2 saya dia baca (buku full text, tanpa gambar). Kalau saya sodorkan buku anak (banyak gambar, sedikit tulisan), katanya: “gak mau baca buku itu. Itu buku buat anak2.”😄Oalah, memang kamu itu udah dewasa to😅
Orangtua tidak perlu khawatir apabila anak lambat dalam membaca. Keterlambatan membaca bukan berarti anak bodoh/terbelakang. Banyak sekali faktor penyebabnya. Salah satunya adalah belum adanya “kesiapan” anak menerima pelajaran membaca atau “metode belajar” yang kurang pas untuk anak. Telitilah kesiapan anak serta metode pengajaran yang diterapkan. Cepatnya anak bisa membaca tidak ada korelasinya terhadap kegemaran anak membaca.
Menumbuhkan kegemaran membaca pada anak sebenarnya tidak sulit. Kita sebagai orangtua, Perbanyak lah Membaca. Maka anak otomatis akan mengikuti.
Foto: Keiko baca buku saya berjudul “Totto-chan” sambil menunggu pesanan.
——
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 25 Mei 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi:https://goo.gl/gu5jtG



Daftar pertanyaan untuk Ibu sebelum membuka sosmed atau mengambil jatah “me time” :
1. Sudahkah mengecek bacaan salat anak-anak?
2. Sudahkah mengecek hafalan surah anak-anak?
3. Sudahkah mengecek bacaan iqro (Al-Quran) anak-anak?
4. Sudahkah mengecek pelajaran (kemampuan akademis-kognitif) anak-anak?
5. Sudahkah mengecek ketrampilan penunjang lain yang akan membantu anak mampu bersaing di zamannya nanti?
6. Sudahkah menemani anak-anak bermain at least membacakan buku untuk mereka?
7. Sudahkah berbicara dari hati ke hati kepada anak at least menanyakan kabarnya hari ini?
8. … bisa diisi sendiri menyesuaikan kondisi masing2.
Ternyata banyak banget ya tugas wanita. Tidak sekedar urusan dapur dan kasur😊. Tapi juga tidak kalah penting adalah tugas dalam mendidik anak-anak. Tentu daftar tugas di atas gak harus “brug” dilakukan dalam satu waktu. Bisa dipotong2, diselingi dengan “me time” atau tugas lain. Agar anaknya tidak bosan juga. Yang penting dalam sehari harus dilakukan semua Tugas Ibu tsb. Kalau saya, saya selingi mengurus bisnis dan dapur. Kadang saya selingi baca buku atau nonton tv sebagai me time. Tergantung mood dan target lain😁.
Tips Ibu agar tidak lupa pada peraturan:
1. sign out dari seluruh akun sosmed agar tidak tergoda membukanya sebelum tugas-tugas mendidik anak dilakukan.
2. Catat “Peraturan untuk Ibu” di tempat yang gamblang bisa dilihat setiap saat. Kalau perlu ditempel di casing HP dan laptop😊
“Tidak hanya anak yang memerlukan peraturan, tapi orangtua pun memerlukannya”
-saleha juliandi-
—-
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 24 Agustus 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi:https:http://bit.ly/2xagYkD



Hatarakeee… Hatarakeee…
(Bekerjalah… Bekerjalah…)
Penasaran dengan pertunjukan seni yang diselenggarakan SD di Jepang? Video di bawah ini kami ambil saat Tur Edukasi Jepang Februari 2017.
Yang saya suka di setiap pertunjukan anak-anak SD di Jepang adalah :
– Sederhana: TANPA make up setitik pun namun TOTAL dalam menyuguhkan kualitas pertunjukan (mereka hanya mengenakan seragam sekolah yang biasa dipakai sehari-hari). Kalaupun ada kostum yang dikenakan, mereka membuat sendiri kostumnya.
– SEMUA anak mendapatkan peran. Bukan hanya anak yang berprestasi saja yang boleh unjuk gigi di panggung. Anak dengan prestasi akademik terburuk pun tetap ikut manggung. Sehingga tidak ada anak yang merasa paling hebat, tidak ada juga anak yang merasa tersisihkan. Bahkan, ABK (anak berkebutuhan khusus) tetap diberikan peran di panggung.
– Anak2 lain yang menonton sangat tenang menyaksikan pertunjukan (tidak berisik sendiri). Ini menunjukkan mereka sangat menghormati sebuah karya.
– lagu2 yang dibawakan dalam pentas seni umumnya menyampaikan pesan-pesan moral (note: gak ada lagu cinta-cintaan😊). Contohnya dalam video ini mereka menyerukan: “Hatarakeeee… Hatarakeeee… (Bekerjalah…. Bekerjalah….)”💪🏼💪🏼💪🏼. Pantas saja kalau mereka terkenal sebagai pekerja yang sangat ulet. Lha wong dari kecil dicekokinya sama lagu-lagu seperti ini.
Berikut tulisan apik dari salah satu peserta tur – MbaAida Ulya Yuzaimaa – bisa dibaca sebagai referensi👇🏼😊. Thanks alot mba Aida😘
========
Bukan duta, bukan endorse, bukan lagi tapi late post😁. Sebuah cerita perjalanan bersama Mami Saleha Juliandi, salah satu penulis heitzzz Indonesia. Tulisan ini murni untuk berbagi pengalaman, sebagai catatan pribadi, sekaligus untuk memenuhi cuitan request dari mami dan kakak-kakak sholehah (Decy Sahriani Nasution, Geo Wahyuni Panjaitan) untuk memindahkan catatan ini dari laman instagram saya.
Semoga berkenan.🙏🙏🙏
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Tebak ini dimana?😎
Yap ! Ini di Jepang, tepatnya di salah satu sekolah dasar, Nara Prefecture yang masuk dalam Kansai Area. Saya dan kakak-kakak sholehah serta satu adik sholeh😝, kali ini berkesempatan melihat school performance dari anak kelas 6 SD yang akan segera lulus di tahun ini. Pertunjukan yang membuat kami tak henti berdecak kagum. Penasaran apa yang membuat kami segitu lebay-nya?
(1). Murid-murid memiliki andil sangat besar dalam pertunjukan. Mereka saling bahu-membahu mempersiapkan hal-hal yang menunjang keberhasilan pertunjukan. Guru kesenian hanya sekali-kali memberikan bantuan. Selama pertunjukan berlangsung, saya speechless. Dalam hati, saya bolak-balik bilang, “gilak ! Ini sih keren abis”😍. Para murid mengganti setting-an panggung pertunjukan sesuai tema dengan gerakan yang sangat cepat tapi gak berantakan. Empat jempol buat mereka👍— duanya pinjem jempol Kakak Ecy *sendermanjaaa😝
(2). Mereka lebih mengutamakan kualitas pertunjukan dibandingkan “penampakan”. Dari foto yang saya lampirkan ini, minasan bisa lihat panggung pertunjukan diisi oleh barisan anak-anak dengan kostum seragam sekolah. No need riasan atau kostum menawan. Dengan kesederhanaannya, mereka tetap dapat menyajikan pertunjukan yang sangat memukau.👏👏👏
(3). Para penonton terlihat sangat tertib dan tenang selama pertunjukan berlangsung. Kalau ada siswa yang datang terlambat, maka mereka akan bergabung dengan barisan penonton sambil berjalan dan sedikit merunduk. Orang Jepang terkenal sangat menghargai dan menjaga kenyamanan orang lain. — kayak akoohh, yang suka gak enakan😝😂
(4). Kepala sekolah beserta guru-guru lainnya tidak diberikan tempat khusus, di area paling depan pertunjukan. Lagi-lagi ini membuat kami semakin respek. Mereka semua berdiri dibagian belakang area pertunjukan, tidak jauh dari tempat kami berkumpul. Bahkan ketika harus memberikan sambutan, Kepala Sekolah harus sedikit berlari kecil untuk bisa sampai podium.🏃🏃🏃
(5). Oleh karena ini farewell-nya anak kelas 6, maka isi dari pertunjukan sarat dengan pesan-pesan positif untuk adik-adik kelas. Sebagai kakak, mereka mengingatkan agar adik-adiknya terus semangat dalam menuntut ilmu dan mengejar cita-citanya. How sweet ya😍😍😍
Sebagai penutup, mereka melantunkan lagu Hana wa Saku — the flower will bloom — yang merupakan salah satu proyek NHK untuk men-support proses recovery pasca bencana yang terjadi di Jepang. Kami pun kembali hanyut dalam pertunjukan.🎶🎶🎶
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sekali lagi, bukan duta, bukan endorse, bukan lagi tapi late post. Tapi kalau kepo, pengen ngerasain langsung, sila contact langsung Mami Saleha Juliandi, Japan edu tour tahap 2 In syaa Allah akan berangkat November 2017. Wow ! Jepang lagi cantik-cantiknya tuh. Momiji🍁🍁🍁
Selamat beraktivitas minasan😍😍😍
Salam.
——
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Status Facebook 30 Agustus 2017

Tulisan ini pernah dipublish di FB Saleha Juliandi: https://goo.gl/RtPN8t


Cerita antara Kentut dan Usaha
 
– Cerita antara Kentut dan Usaha –
Dulu setelah melahirkan caesar si kembar, saya merasakan sakit luar biasa di dalam perut. Bukan sakit akibat jahitan caesar, melainkan sakit karena banyak angin yang terjebak dalam perut.
Ketika itu adalah pertama kalinya saya merasakan sakit perut luar biasa akibat tidak bisa kentut. Hehe.. gak elit banget penyakitnya. Dokter bilang: “ibu harus segera turun dari kasur dan banyak jalan kaki.”
Wow.. menggeserkan sedikiiit kaki dan pinggul saja, rasa sakit akibat caesar masih luar biasa. Nah ini bukan hanya menggeserkan kaki dan pinggul tapi disuruh turun kasur dan jalan-jalan di rumah sakit. Demi biar bisa kentut!😱
“Dok, tapi badan bagian bawah saya masih sakit semua. Saya sulit menggerakkan kaki dan pinggul. Apa tidak ada obat minum yang bisa membantu saya buang angin?” Saya tiba-tiba ingat di indonesia kan banyak tuh obat-obat untuk buang angin. Tinggal minum beberapa butir, sambil tiduran pun langsung deh d*t…😷
“Tidak ada. Ibu harus segera turun dari kasur dan jalan. Dengan banyak berjalan, ibu akan kentut.” Lalu sang dokter mengulurkan tangan membantu saya bangun dari kasur, kemudian dia memberikan tiang infusnya pada saya. Maksudnya biar saya bisa jalan-jalan dengan infus yang masih melekat di tangan😩. Tiang infus juga diharapkan dapat berfungsi sebagai pegangan.
Wow itu kenangan yang sepertinya bakal sulit saya lupakan. Karena luarrr biasa sakit, bahkan untuk maju satu langkah saja saya memerlukan waktu 2-3 menit.
Herannya, ramainya dokter/suster yang lalu-lalang melalui saya sama sekali tidak menggubris. Tidak ada sapaan: ‘ibu baik-baik saja kok berdiri di tengah-tengah jalan?’ Atau ‘masih sakit bu? Sini saya bantu papah.’ Yang ada malah mereka bilang: ‘ganbatte ne okaasan (semangat ya ibu)’😊.
Dan… setelah saya berhasil berjalan, memang benar angin perut pun deras keluar😷dan proses penyembuhan lain menjadi sangat cepat. Bahkan saat pulang ke apartemen, saya sudah bisa langsung melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri tanpa PRT.
Waktu itu saya merasakan betul bagaimana mencapai sebuah impian kecil (dalam hal ini ingin bisa kentut) melalui “perjuangan nyata” bukan “cara instan”. Perjuangan nyata memang memberikan hasil yang lebih NYATA.
Tidak hanya dalam urusan kentut ini, perjuangan nyata diterapkan juga Jepang dalam belajar. Kalau mau bisa, ya usaha. Ya belajar. Tidak ada cara instan. Tidak ada keajaiban cinderella di dunia nyata.
Alat belajar hanya sebagai media bantu. Seperti “Kartu Hitung Cepat ala Jepang” yang kami produksi hanyalah sebagai ALAT BANTU yang MEMUDAHKAN untuk anak-anak belajar. Bukan berarti dengan membeli “kartu hitung cepat ala Jepang” anak otomatis lancar berhitung seperti mendapatkan sihir dari ibu peri.
Seperti tangan sang dokter yang membantu saya. Seperti tiang infus yang menjadi tumpuan saya berjalan. Seperti ucapan penyemangat hati “Ganbatte ne Okaasan”. Tangan dokter, tiang infus, dukungan moril adalah MEDIA (ALAT) BANTU. Mereka MEMUDAHKAN saya. Tapi, hasil akhir tetap tergantung pada usaha.

Foto: 1 jam sebelum operasi caesar dengan berat bayi masing-masing 3 kg dan 2,8 kg.
——
Jangan lewatkan Tur Jepang Murah Tapi Gak Asal Murahan bersama kami. Atau dapatkan Produk-Produk Best Seller kami.

Mengapa Anak Menyukai Game?

gadget-anakSaya biasanya mulai gerah dan bawel kalau melihat anak-anak mulai kelamaan bermain game. Bukan hanya akan merusak mata karena terlalu lama menatap layar, tapi juga badan menjadi kurang fit karena gerakan fisik berkurang. Terlalu lama bermain game juga akan cenderung menyebabkan menurunnya kreativitas anak serta mengurangi kesempatannya dalam berinteraksi dengan anggota keluarga dan juga teman-temannya.

Kenapa anak-anak cenderung lebih senang bermain game? Bagaimana cara mengatasinya?Simak penjelasan selanjutnya di bawah ini.

Perkembangan teknologi gadget dewasa ini sangat cepat, smartphone, tablet, ipad dan komputer baik pc dan laptop memungkinkan kita untuk mendownload dengan mudah berbagai aplikasi, salah satunya adalah game. Dengan modal sinyal wifi atau paket data yang terjangkau berbagai game dapat diunggah, bahkan anak-anak sudah dapat melakukan unggah atau dengan dibantu orang tua.

Tanpa disadari peran orang tua lah yang membuat kebanyakan anak dan remaja mengalami kecanduan main game lewat gadget yang mereka miliki. Orang tua kadang menghadiahkan gadet terbaru dan terbaik untuk putra-putrinya tanpa menyadari efek atau akibatnya. Kadang orang tua lengah atau bahkan senang bila anak tidak rewel sebab dengan meninggalkan mereka untuk bermain game, orang tua dapat beraktifitas dengan bebas atau beristirahat.

Main game dengan frekuensi yang tidak terlalu sering mungkin baik sebagai pengisi waktu atau saat santai. Namun orang tua patut waspada bila anak-anak mulai terlalu sering main game hingga melupakan tugas utamanya untuk belajar, bersosialisasi, beribadah atau membantu orang tua.

Mengapa seseorang atau anak-anak dapat kecanduan bermain game ? Bila Anda perhatikan banyak permainan game di gadget tersebut menjadikan anak sebagai tokoh utama yang memainkan game. Anak bisa menjadi raja, pemimpin, pembasmi kejahatan, pahlawan yang dihargai dan dihormati. Selain itu bila menang, anak akan mendapatkan reward atau penghargaan baik berupa poin maupun hadiah pulsa atau dapat mendownload game lain secara gratis. Namun sayangnya reward dan penghargaan tersebut hanya didapat dari dunia maya bukan kenyataan.

Orang tua patut waspada dan lebih meluangkan waktu lebih banyak untuk memantau apakah dalam kehidupan nyata anak mendapatkan cukup perhatian dan penghargaan dari Anda sebagai orang dan teman-temannya. Seorang anak yang mendapatkan perlakukan yang tidak adil disekolah, kurang perhatian dari orang tua, kurang penghargaan dari teman-temannya, gagal dalam nilai pelajaran akan melarikan diri dari kenyataan dengan bermain game, sebab dari permainan game tersebut dia mendapatkan reward dan kekuasaan. Sebagai orang tua kita juga harus dapat menerima anak-anak apa adanya, bila mereka tidak menyukai pelajaran tertentu carilah cara yang menyenangkan untuk mengajarinya agar tidak mendapatkan nilai yang buruk di sekolah bahkan membenci pelajaran bahkan guru di sekolah.

Dalam permainan game tersebut, si anak dapat menjadi seseorang yang hebat dan menjadi pahlawan, maka di dunia nyata jadikan anak menjadi sosok yang bermanfaat pula. Hargailah sekecil apapun pekerjaan atau prestasinya. Bahkan ketika dia bersedia membantu menyapu rumah meski tak bersih sempurna tetaplah puji hasil kerjanya dan berikan semangat agar dapat menyapu lebih bersih lagi nantinya. Ketika anak mendapatkan nilai buruk pada pelajaran sekolahnya, tanyakan dengan bahasa yang lembut dan santun dimana letak kesulitannya dan ajari dia dengan baik agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Selalu miliki waktu untuk ngobrol dengannya sehingga lambat laun si anak akan mengurangi kegiatannya main game.

Buatlah aktifitas bermain dengan anak dengan cara-cara yang menyenangkan dan kreatif. Cari tahu kesukaan anak dan ajak dia bersama Anda selaku orang tua untuk melakukan aktifitas tersebut bersama-sama sehingga si anak akan merasa nyaman bermain dengan Anda daripada bermain game.

Berikan pula buku bacaan kepada anak yang menarik yang isinya bermanfaat dan dapat pula dijadikan sebagai sarana belajar apalagi bila turut menunjang pelajaran di sekolah dengan bahasa dan gambar yang mudah dipahami dan menarik.

Salah satu buku yang direkomendasikan adalah Magic Science (Belajar Sains dengan Sulap). Melalui buku ini, anak akan diajak bermain sains yang selama ini dikenal sulit dan hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa. Bersama buku ini anak-anak dapat melakukan 10 jenis permainan sains dan trik sulap yang dilengkapi dengan gambar, dongeng cerita anak dan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat dan murah. Selain buku tersebut, juga bisa memanfaatkan perangkat Edu-colostick 3 Dimensi, dimana anak-anak dapat menggambar dan menempel gambar-gambar pop-up sehingga membentuk lukisan 3 dimensi.

Semoga artikel diatas dapat berguna bagi para orang tua yang memiliki anak keranjingan main game over dosis. Selamat bermain bersama putra putri tercinta.

Tips Bersahabat dengan Anak

IMG_1985Dalam setiap tahap perkembangan, pola pengasuhan anak memiliki cara penerapan yang berbeda. Pola pengasuhan dengan cara bersahabat dengan anak merupakan salah satu cara yang dapat diterapkan orangtua dalam pendidikan anak. Pola seperti ini memang lebih tepat diterapkan ketika anak sudah menginjak usia remaja. Terlebih dengan kondisi pergaulan saat ini, yang membuat psikis remaja lebih labil, sehingga selain membutuhkan teladan, anak juga membutuhkan sosok sahabat yang bisa menjadi partner sehingga ia merasa nyaman dengan diri dan lingkungannya. Berikut tips bagi Ayah-Bunda yang masih kesulitan untuk berteman dengan anak:

  • Menjadi pendengar yang baik
    Jangan interupsi ketika mereka sedang menyampaikan sesuatu. Duduk dan dengarkan dengan tenang keseluruhan cerita meskipun kadang cara berpikir anak sering tidak masuk akal dan tidak sejalan dengan cara berpikir orang dewasa. Paling tidak, tunjukkan sikap menghargai. Berikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan tunjukkan bahwa kita bersedia mendengarkan. Setelah itu, barulah kita bahas dan sampaikan ide/ pendapat kita dan jadikan pembanding.
  • Memahami cara berpikir anak
    Anak-anak biasanya senang meniru, terlebih lagi bagi anak usia remaja. Remaja cenderung bersifat impulsif dan kerap meniru kelakuan orang yang menjadi idolanya. Orang tersebut bisa jadi adalah gurunya, teman, atau bahkan selebrititertentu. Kadang mereka hanya sebatas meniru tanpa memikirkan dampaknya. Cobalah pantau sejauh mana pengaruh idola itu pada diri mereka. Remaja yang punya kontrol diri baik dan tidak impulsif, akan lebih bijak dalam bersikap dan mengambil keputusan. Dengan komunikasi yang baik, orangtua juga bisa memahami cara berpikir anak.
  • Tidak bersikap otoriter
    Anak lebih menyenangi sosok sahabat yang senang mendukung dan mendengarkan. Bersikap menghakimi dan otoriter dalam menentukan harus begini atau begitu, hanya akan membuat anak-anak ragu mempercayakan permasalahannya kepada orangtua. Cobalah untuk tidak mengomentari dengan suara keras atau gayasoktahu. Remaja lebih sukacurhatpada teman karena merasa lebih nyaman.
  • Duduk dan berdiskusi dengan kepala dingin Jangan mengomel panjang lebar atau membentak mereka untuk suatu kekeliruan atau kesalahan. Cobalah selesaikan dengan hati dan kepala dingin. Menjadi sahabat bagi anak bukan berarti membuat mereka menjadi tidak hormat kepada kita sebagai orangtuanya, tapi lebih pada cara berkomunikasi. Anak akan lebih menghargai sikap orang tua apabila teguran disampaikan dengan cara yang lebih elegan. Dengan demikian orantua juga dapat melatih anak bagaimana seharusnya bersikap ketika mendiskusikan sebuah masalah.
  • Minta maaf apabila kita salah
    Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Jangan malu mengakui kesalahan atau kekurangan diri. Jangan ragu untuk belajar kepada anak jika memang mereka memiliki ilmu yang belum kita miliki. Orangtua, harus selalu siap dikoreksi.
  • Buat peraturan yang bijak
    Tentukan peraturan yang disepakati bersama berikut konsekuensinya jika peraturan itu dilanggar. Hal ini untuk mendidik mereka agar disiplin dan menghargai keputusan bersama. Sebagai contoh sederhana dengan menerapkan tugas harian yang dibebankan setiap hari, seperti; menyiram bunga, merapikan rak buku, atau memberi makan binatang peliharaan. Disarankan agar seluruh anggota keluarga di rumah terlibat, sehingga peraturan dan konsekuensinya berlaku adil.
  • Luangkan waktu bersama anak
    Sisihkan just-you-and-me in time secara reguler untukupdate kegiatan mereka selama ini, dengan siapa mereka sekarang berteman, apa yang menjadi kegiatan utama di sekolah atau sekedar bertukar cerita tentang keseharian kita. Ini kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati, hanya kita berdua. Perhatikanlah, meskipun kita selalu menghabiskan akhir minggu bersama keluarga, apakah Anda punya kesempatan duduk berdua saja dengan salah satu anak dan berbicara lebih intens? Mungkin tidak terpikirkan karena kita sibuk dengan urusan siang ini mau makan di mana, mau mampir ke mal mana, belanja apa, atau ke rumah nenek dan lain sebagainya.
  • Saya akan selalu mencintaimu
    Hal yang paling penting, yakinkan kepada mereka bahwa apapun yang terjadi, seburuk apapun mereka, kita akan selalu membuka tangan dan merangkulnya dengan hangat. Orangtua akan tetap sayang dan mengasihi anak-anaknya dengan sepenuh hati. Jika ada masalah, pulang ke rumah dan kembali ke pelukan orang tua adalah sikap yang paling bijaksana.

Sebagai sahabat, semestinya orangtua akan bisa menjadi teman yang menyenangkan buat anak, membantumenyelesaikan masalah, mengingatkan kalau berbuat salah atau hanya sekadar tempat menumpahkan keluh-kesah, bertukar pengalaman dan sebagainya. Adakalanya teman yang dipilihanak bukan teman yang baik, kadang malah menjerumuskan anak. Bersahabat dengan anak, membuatkita sebagai orangtua akan semakin mudah memahami sifat dan karakter anak, kekurangan dan kelebihannyaserta kebiasaan baik dan buruk anak. Dengan begitu kita bisa mengoptimalkan potensinya dan memperbaiki kekurangan anak. Bersahabat dengan anak juga akan meringankan orangtua karena biasanyaIa akan bercerita kepada kita tentang apa saja yang dialami.

Tips Menjadi Mompreneur

Istilah mompreneur pasti sudah tidak asing lagi bagi anda para pengusaha terkhususnya kaum Ibu. Mompreneur adalah istilah dari bahasa inggris yang terdiri dari dua kata, Mom yang berarti Ibu, dan preneur yang diambil dari kata Entrepreneur berarti wirausaha. Jika diartikan mompreneur berarti ibu yang berwirausaha.
Efek yang ditimbulkan oleh istilah inipun juga cukup besar. Efek ini lebih terasa daripada jika kita menggunakan istilah ibu-ibu penjual gorengan, ibu-ibu penjaga warung, ibu-ibu pembatik, atau ibu-ibu tukang cuci/laundry . Karena istilah demikian telah melekat pada pemikiran setiap orang, bahwa memang sudah menjadi fitrahnya seorang ibu bisa membuat gorengan, membatik, dan mencuci. Tetapi berbeda jika mereka dilekatkan dengan istilah mompreneur. Ada yang memandang bahwa seorang mompreneur layaknya wonder women yang mempunyai kekuatan super, karna tentu harus membagi waktu antara mengurusi keluarga dan bisnisnya. Terbayang kan, saat seorang ibu melayani pembeli di warungnya, sang anak merengek minta disuapi makan. Atau seorang ibu tukang laundry yang pelanggannya minta cucian diselesaikan segera, padahal masih ada segunung pekerjaan rumah tangga lain yang juga menanti untuk ditangani.
Tidak sedikit juga mompreneur yang patah semangat karena kewalahan menangani masalah serupa dan usaha yang dibangun kurang sukses. Sebenarnya masalah-masalah tersebut adalah masalah klise yang memang akan dialami seluruh pengusaha (baik bagi seorang ibu maupun bukan). Solusi-solusinya pun bisa kita temukan di berbagai buku entrepreneur, majalah, media sosial, maupun tulisan di blog. Beberapa solusi dan tips yang dapat kita pelajari adalah:

  1. Memulai usaha sesuai dengan passion.
    Memulai bisnis yang sedang happening memang memiliki peluang yang lebih besar untuk maju. Tetapi sekedar itu saja tidak cukup. Mengerjakan sesuatu yang Anda cintai tentunya akan membuat Anda bersemangat dan bergairah untuk memunculkan ide-ide kreatif usaha.
  1. Lakukan komunikasi yang baik dengan keluarga
    Hal ini penting, mengingat sang ibu harus membagi waktunya untuk mengurusi usaha. Namun keluarga tetap harus menjadi prioritas utama. Berikan pengertian kepada anak-anak dengan bahasa yang mudah dipahami bahwa ibu memerlukan waktu untuk mengerjakan hal lain. Jangan lupakan juga berbicara dengan pasangan, dan anggota keluarga lain yang mungkin tinggal di rumah, bahwa Anda memerlukan kesediaan anggota keluarga untuk bekerjasama agar bisnis/usaha dapat berjalan.
  1. Manajemen waktu dan skala prioritas.
    Bekerja memang penting, apalagi jika pilihan menjalankan usaha menjadi penopang perekonomian keluarga yang sangat membantu. Tetapi Anda tetap harus memastikan bahwa keluarga dan rumah telah selesai diurus sebelum Anda melayani pelanggan. Agar tidak berantakan, Anda harus memiliki manajemen waktu yang dibarengi prioritas. Walaupun bekerja di rumah, sebaiknya Anda mengatur jadwal tetap. Seperti jam berapa Anda akan memulai jam kerja sebagai mom dan jam berapa Anda menjadi seorang entrepreneur. Jika perlu catat di buku agenda harian, hal apa yang perlu Anda kerjakan menggunakan skala prioritas penting, sedang, dan tidak/kurang penting. But family always come first.
  1. Belajar dari kegagalan
    Setiap manusia yang berusaha pasti mengalami kegagalan. Jadikan kegagalan pelajaran, bukan sebagai alasan untuk berhenti menekuni usaha yang Anda lakukan. Tidak ada salahnya juga Anda catat kesalahan yang Anda lakukan (misal: kesalahan cara menjalankan SOP) beserta solusi apa yang harus Anda lakukan di masa mendatang.

Demikian sedikit tips yang bisa kami himpun. Selain tips-tips di atas Anda bisa belajar dari banyak mompreneur lainnya melalui forum-forum maupun seminar-seminar. Salah satunya Anda bisa mengikuti pelatihan online yang dikelola oleh ibu Saleha Juliandiyang telah menekuni dan terbilang sukses sebagai penulis dan mompreneur.

PMO ke-13
Program Pelatihan Menulis Online

Info mengenai PMO ini bisa Anda dapatkan melalui artikel “Be A Successful Writer”maupun pada “Be A Successfull Mompreneur”. PMO ke-13 akan dimulai pada bulan September 2016. Pendaftaran bisa dilakukan mulai sekarang dengan mengontak viaSMS/Whatsapp di 085-771-860-444 (Pena Nusantara), atau dapat juga via e-mail ke alamatpena.nusantara@yahoo.com.

Writers Block? Siapa Takut!

Pelatihan Online
Anda pasti sudah tak asing lagi dengan istilah writers block. Fenomena psikologis di mana seseorang merasa tidak mampu memulai atau meneruskan tulisannya secara sementara, itulah yang disebut writers block. Ketika Anda sudah di depan laptop atau komputer untuk menuangkan ide, tetapi jari Anda malah tersasar ke media sosial dan asyik chatting, tandanya Anda mengalami writers block.
Siapapun pernah mengalami writers block, tak terkecuali penulis besar sekalipun. Meskipun writers block diistilahkan sementara, tetapi bisa jadi maknanya berarti bulanan bahkan menjelma seperti penyakit menahun. Bukti nyatanya ialah Henry Roth, penulis novel Call It Sleep yang diterbitkan pada tahun 1943. Selang dalam waktu yang cukup lama tepatnya tahun 1979 novel keduanya yang berjudul Natures First Garden terbit. Roth membutuhkan 36 tahun! Mengapa bisa begitu? Tak lain karena Roth diserang writers block yang cukup parah. Namun, dalam kurun waktu 36 tahun tersebut, Roth berusaha bangkit dan menyingkirkan writers block akutnya itu.
Writers block ternyata bisa selama itu. Jangankan dalam waktu yang lama, terkadang writers block paling ringan saja sudah membuat kita putus asa bahkan berhenti menulis.
Lantas, bagaimana mengatasi fenomena menjengkelkan ini? Yuk, intip tips-tips yang mudah diterapkan berikut ini.

  1. Biasakanlah menulis hal yang Anda suka dengan cara Anda sendiri. Misalnya menulis peristiwa sehari-hari di blog atau buku harian Anda. Jangan jadikan proses menulis sebagai beban. Tulislah hal yang membuat Anda bahagia, atau membuat Anda merasa sembuh, ini akan membantu Anda melawan perlahan si writers block yang menjengkelkan. Siapa tahu peristiwa-peristiwa yang Anda alami bisa dijadikan sebuah cerita yang luar biasa.
  2. Segeralah tulis ide yang baru saja muncul. Misalnya Anda sedang tidak dalam kegiatan menulis, Anda bisa mencatatnya di note smartphone Anda agar tidak hilang di ingatan. Mungkin saja ide dadakan itu bisa menjadikan Anda sebagai penulis terkenal.
  3. Baca ulang buku kesukaan Anda. Karena dengan membaca, bisa memancing ide-ide baru, ataupun sekedar hanya menambah kosa kata baru yang masih jarang Anda gunakan.
  4. Menonton film bisa dijadikan alternatif. Anda bisa membuat review film tersebut di blog Anda. Cara yang satu ini bisa digunakan untuk melatih agar Anda terbiasa dengan menulis dengan diawali hal yang sederhana.
  5. Tirulah tulisan lain. Eit! Bukan asal meniru atau mencontek mentah-mentah. Melainkan Anda bisa meniru gaya bahasa, cara bercerita, ataupun mengadopsi tema yang bisa Anda kembangkan. Lama-kelamaan, jika Anda sudah terbiasa menulis, Anda akan menemukan gaya bahasa Anda sendiri.
  6. Carilah tempat yang membuat Anda nyaman dalam menulis. Misalnya Anda bosan menulis di kamar, Anda bisa pergi ke taman atau ke tempat yang Anda suka. Ini akan membantu Anda lebih fresh dalam menuangkan ide.
  7. Konsistenkan diri. Luangkan waktu untuk menulis meski itu hanya 15 menit dalam 1 hari. Menulis apa saja. Fiksi maupun non fiksi. Tapi, ingat. Saat Anda menulis, Anda harus memfokuskan diri. Jauhkan diri dari gadget yang membuat fokus Anda teralihkan. Karena mungkin saja writers block yang Anda alami hanyalah jelmaan dari sebuah rasa malas saja.
  8. Jika Anda suka berkompetisi, Anda bisa mengikuti lomba menulis yang tersebar di internet. Tentunya lomba menulis memiliki deadline. Dengan deadline, Anda akan terpacu untuk menyelesaikan tulisan dengan baik dalam kurun waktu tertentu.

Menulis memang membutuhkan kekonsistenan. Anda tidak akan bisa menyelesaikan tulisan jika bukan diri Anda sendiri yang memacu untuk menyelesaikannya. Menulislah yang Anda suka. Sehingga dengan demikian akan membuat Anda bahagia dan senang menulis. Ini akan memudahkan Anda dalam proses menulis.
Tips di atas bisa juga digunakan untuk menggali potensi menulis apa yang Anda punya atau genre tulisan apa yang cocok untuk Anda. Apabila Anda sudah menemukan genre yang cocok dan ingin memperdalam suatu genre tulisan, Anda bisa mengikuti kursus menulis offline maupun online. Dewasa ini, banyak tersebar kursus menulis online tanpa harus bertemu muka. Tentunya ini memudahkan Anda jika kebetulan berdomisili jauh dengan sang mentor. Salah satunya adalah Pelatihan Menulis Online yang dikelola oleh Ibu Saleha Juliandi. Anda akan dibimbing oleh para mentor berpengalaman. Selain murah, peserta mendapatkan fasilitas konsultasi tanpa batas dan jaminan pasti terbit.
Nah, bagaimana? Tips di atas mudah diterapkan bukan? Mari menulis! Jangan biarkan writers block menghalangi ide-ide cemerlang Anda.

Bagaimanakah Cara Merangsang Kreativitas Si Kecil?

creative
 

Sumber gambar: practutor.blogspot.com

=================================================================

Masa depan anak ditentukan oleh pendidikan kreatif yang mereka dapatkan dari sekolah dan orangtua. Masyarakat cenderung mengira kreativitas diterapkan untuk hal-hal artistik saja. Padahal, bukan hanya itu. Kreativitas bisa diartikan sebagai kemampuan berfikir dengan cara yang tak biasa sehingga permasalahan bisa dipecahkan. Tanpa adanya kreativitas, sebuah ide tidak akan bisa diwujudkan menjadi nyata.
Apakah kreatif ini bisa terbangun dengan sendirinya? Tentunya tidak. Peran orangtua dan guru sangatlah dibutuhkan dalam merangsang kreativitas anak-anak, terutama di usia yang kita kenal dengan periode emas (golden age). Menurut Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, pada usia 4 tahun kapasitas kecerdasan anak mencapai 50%, mencapai 80% saat anak berusia 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun. Pada usia inilah, Ayah, Bunda, beserta para guru harus gencar-gencarnya menstimuluskreativitas anak.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk merangsang kreativitas anak?
Banyak cara yang bisa kita lakukan. Misalnya, menyeimbangkan antara kegiatan mengenal huruf dan angka dengan mewarnai, menggambar, bercerita, maupun bernyanyi. Jangan terpaku hanya pada belajar membaca dan menghitung. Biarkan mereka mencoba hal-hal baru dengan bermain. Karena dunia anak sebenarnya adalah bermain. Bunda, Ayah, dan para guru perlu banyak melibatkan diri dalam dunia anak tanpa mengekang kebebasannya bereksplorasi.
Salah satu terobosan kegiatan untuk anak yang bisa merangsang kreativitas adalah dengan membuat kreasi Educolostick 3 Dimensi. Bukan hanya mewarnai, anak juga akan asyik menggunting serta menempel 75 gambar pop up 3 dimensi full color. Si kecil akan terpacu untuk membuat kreasi secantik mungkin agar hasilnya bisa digunakan sebagai hiasan dinding maupun meja.
Ecucolostick 3 Dimeni
Mengenal angka dan huruf juga bisa dilakukan dengan membacakannya buku-buku ensiklopedia ataupun dongeng-dongeng anak. Sebaiknya, pilihlah buku yang lebih banyak konten gambar dibandingkan dengan huruf maupun angkanya agar si kecil tertarik untuk membaca buku bersama Bunda/Ayah. Gunakan gaya bercerita yang menyenangkan untuk meningkatkan minat baca si kecil. Karena membaca sangat besar manfaatnya dalam meningkatkan kreativitas.
Selain itu, Bunda dan Ayah bisa memberikan anak mainan-mainan yang merangsang anak untuk berfikir dan tentunya mainan yang disukai si kecil. Boneka untuk anak perempuan misalnya, bisa melatih mereka dalam bermain peran. Dengan adanya alat bantu boneka, imajinasi mereka akan dilatih, mereka pun akan belajar berkomunikasi. Contoh lain misalnya lego yang bisa digunakan untuk membangun menara, robot, hingga mobil-mobilan. Jika anak senang bermain masak-masakan, Bunda dan Ayah bisa memberikan si kecil mainan play-dough. Biarkan si kecil membuat kreasi makanan yang mereka suka.
Sesederhana apapun hasil kreativitas yang dibuat si kecil, jangan ragu memberikan apresiasi untuk mereka. Dengan diberikannya apresiasi, mereka akan merasa terpacu untuk terus berfikir kreatif. Apresiasi bisa bermacam-macam bentuknya. Entah itu berupa hadiah atau hanya berupa pujian. Tapi, yang perlu Bunda dan Ayah ingat, memberikan hadiah mewah buat si kecil bukanlah hal yang tepat. Karena terlalu sering memberikan hadiah mewah bisa menumbuhkan sifat matrealistis dalam diri anak. Bunda bisa memberikan hadiah-hadiah sederhana seperti buku cerita yang anak suka, atau stiker yang mereka suka. Seperti yang terdapat pada perangkat My Fun Ramadan Diary. Perangkat ini cocok digunakan untuk melatih anak berpuasa dan melakukan kegiatan atau ibadah lainnya di bulan ramadhan. Si kecil bisa menempelkan stiker yang mereka suka di kolom-kolom diari. Agenda pun bisa ditempelkan di kulkas dengan menggunakan magnet kayu bertema alam. Di akhir ramadan, orangtua akan memberikan apresiasi berupa piagam yang ditandatangi orangtua untuk anak.
My Fun Ramadan Diary
Bagaimana Ayah, Bunda? Mudah bukan? Semoga Bunda dan Ayah makin bersemangat untuk bermain bersama si kecil dan merangsang motivasinya dengan cara-cara yang lebih positif.
Artikel ini berguna? Bagikan dan ikuti Facebook-nya di Saleha Juliandi

Tips Mudah Membuat Anak Tertarik Merapikan Mainannya

Toys Storage
Sumber gambar: www.discoveringlittlejms.com

=================================================================

Dunia anak adalah bermain. Si kecil bebas berekspresi, berkreativitas, dan bersenang-senang dengan mainannya di rumah. Bunda dan Ayah pun bisa mengawasi si kecil ketika mereka sedang asyik dengan mainannya di rumah. Namun, apakah setelah selesai bermain si kecil langsung membereskan mainannya yang berserakan?
Seringkali anak sulit diajak untuk membereskan mainannya. Akhirnya Bunda dan Ayah lah yang kerepotan membereskan mainan yang tumpah ruah. Dari mulai mainan yang bertekstur keras seperti mobil-mobilan, robot, hingga mainan yang terbuat dari kain seperti boneka.
Karena kesibukan di rumah, orangtua mungkin mencampuradukkan seluruh mainan tersebut dalam satu wadah. Hingga suatu saat si kecil merengek salah satu mainannya hilang karena tempat penyimpanannya yang tidak teratur.
Apakah Bunda dan Ayah mau si kecil terbiasa malas merapikan mainannya? Orangtua pasti tidak ingin kebiasaan kecil ini berdampak pada kemandiriannya ketika besar nanti.
Nah, tak perlu bingung menyikapi soal ini. Ada tips-tips sederhana dan murah yang bisa Bunda dan Ayah terapkan agar si kecil tertarik merapikan mainannya yang berserakan.
Pertama, sediakan minimal dua box yang sudah tidak terpakai. Mengapa dua box? Seperti yang kita ketahui, mainan anak ada yang berbahan kain dan bertekstur keras. Bunda dan Ayah bisa membedakan tempat penyimpanan kedua jenis mainan tersebut. Jika ingin membaginya  menjadi beberapa kategori, lebih baik lagi. Misal bisa ditambah beberapa box lagi untuk pernak-pernik kecil seperti perangkat Educolostick 3 Dimensi, lego, block, puzzle, cetakan clay, dll.
Educolostick 3 Dimensi
 
Agar lebih menarik, Bunda dan Ayah bisa menempeli box tersebut dengan stiker-stiker yang mudah ditemukan di pasaran. Ajak anak untuk memilih stiker yang mereka suka untuk ditempel di box tersebut. Anda juga bisa menggunakan stiker untuk membedakan kedua box tersebut. Penggunaan stiker sebagai pemberian tanda pada box sangat cocok untuk si kecil yang belum bisa membaca. Si kecil dapat menghafal box tempat mainan dengan hanya melihat stikernya. Jangan lupa beri arahan dan buat kesepakatan dengan si kecil mengenai tempat penyimpanan baru untuk mainannya. Cara ini juga diterapkan di sekolah-sekolah maupun rumah-rumah di Jepang seperti yang tertulis di buku Pendidikan Anak ala Jepang.

Pendidikan Anak Ala Jepang
Tak hanya stiker, Anda pun bisa menggunakan cat timbul warna warni untuk menghias dan memberi tanda pada box. Si kecil bisa turut serta membuat suatu gambar yang mereka suka dengan cat timbul tersebut. Bedakan warna antara box satu dengan yang lainnya agar mudah diingat.
Apabila Bunda dan Ayah tidak memiliki box yang tidak terpakai, jangan khawatir. Kardus bekaspun bisa jadi alternatif. Ukurannya bisa disesuaikan dengan jumlah mainan anak. Selain itu, dengan kardus bekas, Bunda, Ayah, dan si kecil bisa bebas berkreasi menggunakan origami untuk menghiasi kardus bekasnya. Jika si kecil hobi menggambar, kardus juga bisa dilukis menggunakan cat air. Biarkan si kecil membuat kardus tempat mainannya sesuai dengan keinginannya.
Satu hal penting lainnya adalah ajak si kecil merapikan mainannya bersama-sama Bunda dan Ayah. Anak-anak jauh lebih senang melakukan aktivitas secara bersama-sama dengan orang yang dicintai. Jika karakter cinta terhadap kerapihannya sudah terbentuk, maka mereka dapat melakukan dengan sendirinya.
Nah, Bunda, Ayah, tips sederhana ini mudah dipraktekkan, bukan? Selamat mencoba dan jangan menyerah melatih si kecil disiplin merapikan mainannya sendiri!