admin
admin

Tangan Kasar Akibat Cuci Piring: Mengganti Sabun Cuci Piring dengan Sabun Tangan, Sabun Mandi atau Shampo. Bisakah..?

sumber gambar: http://www.workingwonders.ca/
Sebagai mom and writerpreneur, keseharian saya disibukkan dengan urusan mengurus rumah, anak, menulis, hingga urusan bisnis. Karena sudah 2 bulan ini kami tidak memakai pembantu rumah tangga (PRT), sehingga semua urusan rumah kami lakukan bergotong-royong. Biasanya si sulung (1 SMP) mencuci dan menjemur pakaian. Anak ke-2, 3, dan 4 (4,5 – 6,5 tahun) membuang sampah dari dalam rumah ke tong sampah besar di depan rumah sebelum diambil oleh petugas kebersihan, menyiram tanaman, memberi makan ikan, mengisi toples2 air dan memasukkannya ke dalam kulkas. Suami melipat dan menyetrika baju. Sedangkan saya, menyapu, mengepel, memasak, dan mencuci piring.
Nah, untuk urusan cuci piring ini, saya paling enggak suka. Baru 2 bulan mencuci piring sendiri, tangan terasa panas dan kasar. Padahal yang saya gunakan adalah sabun cuci piring kategori mahal, hehe..
Kebetulan sekali kami bekerjasama dengan Elexmedia baru saja menerbitkan buku “Smart Mom in The Kitchen”, karya sahabat saya, Mbak Meilina Widyawati, Ph.D. Menurut buku tersebut dan hasil diskusi saya dengannya, berikut saya buat rangkumannya:
Sabun merupakan produk dari reaksi saponifikasi antara lemak/minyak dan senyawa alkali. Berdasarkan jenis alkali yang digunakan, dikenal 2 jenis sabun, yaitu ‘sabun keras’ & ‘sabun lunak’. ‘Sabun keras’, jika alkali yang digunakan adalah sodium hidroksida (NaOH). Sedangkan ‘sabun lunak’, jika alkali yang digunakan adalah potassium hidroksida (KOH). Contoh ‘sabun keras’ adalah sabun mandi batangan. Sedangkan ‘sabun lunak’ adalah sabun tangan cair, sabun mandi cair, atau shampoo. Kombinasi dari kadar NaOH & KOH yg digunakan akan menghasilkan sabun dengan tingkat kecairan yang bervariasi, misal sabun mandi bentuk gel.
Secara umum, sabun bersifat alkali. Dan sebagaimana sifat zat alkali yg bersifat iritan, sabun pun bisa mengiritasi kulit. Kulit kering dan panas adalah salah satu tanda iritasi akibat hilangnya kelembapan kulit. Sebab itu ke dalam sabun tangan/sabun mandi/shampo sering ditambahkan zat lain utk melembabkan dan sekaligus menurunkan tingkat alkalinitasnya.
Selain sabun yang kita bahas di atas, kita juga mengenal deterjen. Deterjen termasuk sabun sintetik. Jika sabun yang kita bahas sebelumnya terbuat dari lemak/minyak, maka deterjen terbuat dari senyawa-senyawa hidrokarbon rantai panjang yang merupakan senyawa-ssenyawa turunan (hasil pengolahan lanjut) dari minyak bumi, khususnya alkil sulfat/sulfonat.
Suatu deterjen, bisa terdiri dari satu campuran senyawa-senyawa Sodium Lauril Sulfat (SLS), Sodium Lauril Eter Sulfat (SLES) atau Linear Alkilbenzena Sulfonat (LAS). Senyawa-senyawa tersebut memiliki karakteristik sebagai surfactant (surface active agent) yang mirip dengan sabun dan merupakan komponen utama dari deterjen.
Secara fisik, deterjen bisa berupa serbuk atau cair. Contoh deterjen serbuk adalah deterjen untuk mencuci pakaian. Contoh deterjen cair adalah sabun cuci piring, walaupun tidak semua sabun cuci piring merupakan deterjen.
Dibandingkan sabun biasa, deterjen menghasilkan busa yang lebih melimpah. Selain itu, bahan aktif surfactant bersifat lebih mudah mengikat kotoran/lemak daripada sabun biasa. Ampuh membersihkan kotoran membandel di peralatan makan/alat dapur. Sebab alasan-alasan inilah, ‘sabun cuci piring’ yang beredar di pasaran umumnya berjenis deterjen.
Krn sifatnya yang mudah mengikat kotoran/lemak, senyawa-senyawa SLS/SLES/LAS pun sering ditambahkan ke dalam sabun tangan/sabun mandi/shampoo untuk meningkatkan daya bersihnya. Tentu saja, kadar SLS/SLES/LAS dalam sabun-sabun ini jauh lebih rendah daripada yg terkandung dalam ‘sabun cuci piring’ alias deterjen.
Namun dibalik daya bersihnya yang hebat, senyawa-senyawa SLS/SLES/LAS berpotensi mengiritasi kulit. Telapak tangan terasa panas atau gatal seperti yang saya alami setelah berulang memakai ‘sabun cuci piring’ adalah indikasi bahwa ‘sabun cuci piring’ yang saya gunakan telah mengiritasi. Meskipun, mungkin perlu dicatat bahwa ketahanan tiap orang tidak sama. Bagi orang lain, mungkin saja ‘sabun cuci piring’ yang saya gunakan tidak berefek sama.
Jika Anda mengalami hal yang sama dengan saya, berikut beberapa cara menyiasatinya:
1) Mengganti ‘sabun cuci piring’ dengan sabun yg tingkat alkali-nya lebih rendah, bisa dengan menggunakan sabun rendah sodium, atau memakai sabun pembersih jenis lain yang lebih lembut/lebih tidak alkali, misal sabun tangan, sabun mandi atau shampoo, dengan catatan:

a) Karena daya bersih sabun tangan/sabun mandi/shampoo lebih rendah daripada ‘sabun cuci piring’, mungkin diperlukan penyabunan berulang yang berakibat boros pemakaian.

b) Hanya gunakan untuk mencuci piring dengan tangan. Jangan gunakan sabun tangan/sabun mandi/shampo untuk pencucian dengan dishwasher.

c) Jika menggunakan sabun tangan/sabun mandi/shampo sebagai pengganti ‘sabun cuci piring’, tambahkan baking soda (jika perlu) untuk membersihkan lemak membandel (catatan: ‘sabun cuci piring’ atau deterjen biasanya sudah diberi tambahan anti lemak).

d) Pilih sabun tangan/sabun mandi/shampo yangg tidak mengandung cream moisturizer, supaya bersihnya di piring/alat dapur terasa kesat. Sabun badan atau shampo ber-conditioner mengandung moisturizer, sehingga kurang kesat digunakan.

e) Pilih yg bukan wangi bunga atau parfum, tapi wangi jeruk/sitrus yang segar.

Namun jika iritasi tangan tetap berlangsung setelah mengganti dengan sabun yang lebih lembut, kemungkinan besar disebabkan karena kulit tidak tahan terhadap alergen-alergen yang umumnya terkandung pada sabun ‘cuci piring’/ sabun tangan/sabun badan/shampo, yaitu:
– SLS (sodium lauril sulfat)
– SLES (sodium laureth sulfat)
– LAS (linear alkil sulfonat)
– alkohol & isopropril alkohol (senyawa glikol)
– pewangi sabun
– parrabean.
Solusinya adalah dengan menghindarkan tangan berkontak langsung dengan sabun (jenis apapun) yg mengandung zat-zat tersebut, yaitu bisa dilakukan dengan cara:
2) Mengganti dengan sabun yang tidak mengandung zat-zat alergen tersebut. Pilih sabun dari jenis “natural/organik” (karena zat-zat alergen tersebut merupakan zat sintetik hasil pengolahan minyak bumi).
3) Menggunakan pelindung tangan (misal: gloves karet) setiap kali mencuci piring dengan sabun pembersih.
Demikian kurang lebihnya.. Saya sudah 3 hari ini mengganti sabun cuci piring dengan shampo yang saya tambah baking soda saat membersihkan lemak/minyak membandel. Alhamdulillah, tangan kembali haluuus :).
Apabila Anda ingin mengetahui lebih lengkap tentang bahan-bahan berbahaya dan bermanfaat di dapur Anda, bisa mendapatkan buku Smart Mom in The Kitchen di sini
sumber gambar: http://www.workingwonders.ca/

6 Kesalahan dalam Menulis Buku dan Solusinya

Untuk menulis buku, ternyata modal semangat saja tidaklah cukup. Harus tahu ilmunya, biar proses penggarapannya bisa terarah, nyaman, dan cepat.
Sekarang, apakah Anda ingin menulis buku dengan baik dan benar? Lalu coba cek apakah Anda pernah melakukan enam kesalahan ini? Jika iya, segera cari tahu solusinya di tulisan berikut ini:
Kesalahan pertama adalah tidak merancang naskah atau konsep buku tidak dipikirkan sejak awal. Jadi langsung menulis saja sampai sepuasnya. Hasilnya, bahasan tulisan akan melebar dan tidak tahu akan berakhir pada pembahasan apa. Solusinya, tentukanlah outline terlebih dahulu. Buatlah kerangka tulisan, seperti daftar isi yang disertai pokok bahasan singkat setiap babnya.
Dari outline itu akan terlihat jelas batasan atau ruang lingkup pembahasan. Di sinilah Anda harus bisa lebih kreatif saat menyusun konsep bukunya. Bukan asal-asalan saja, asal nulis dan asal jadi. Pada tahapan ini juga, setidaknya kita sudah membaca beberapa buku setema sehingga bisa dijadikan rujukan sekaligus pembanding. Jangan sampai Anda mengulang-ulang bab/sub-bab (bahasan) yang sudah banyak dibahas di buku lain.
Jangan pernah beranggapan bahwa membuat outline hanya akan menghabiskan waktu Anda. Karena Anda akan memerlukannya kemudian untuk mempermudah pekerjaan Anda. Terlebih lagi, biasanya outline menjadi hal pertama yang akan dibaca oleh editor. Buatlah outline semenarik mungkin sehingga editor tertarik membaca naskah Anda. Apabila outline Anda tidak menarik, jangan berharap editor akan membaca naskah beratus-ratus lembar yang telah Anda kirimkan.
Kesalahan kedua, tidak fokus pada sasaran pembaca tertentu. Jadi saat merancang buku tidak ditentukan berbagai hal tentang pembaca sasarannya. Artinya buku tersebut seolah-olah bisa dibaca oleh semua usia. Padahal cara seperti itu akan berpengaruh pada minat baca dan gaya bahasa. Tentunya buku remaja dan buku dewasa akan berbeda gaya bahasa dan bobot materinya. Jika kita mencampur-aduk semuanya, maka yang terjadi justru buku tersebut akan menjadi tidak tepat sasaran dan terkesan “bimbang”.
Solusinya, tentukan terlebih dahulu apakah buku tersebut termasuk buku untuk anak-anak, untuk remaja, atau untuk dewasa. Klasifikasi usia pembaca tersebut akan lebih memudahkan kita untuk memilih diksi dan gaya bahasa. Terutama bobot materinya juga disesuaikan dengan sasaran pembaca. Selain itu juga memudahkan kita untuk mengirimkan naskahnya ke penerbit yang sesuai dengan naskah tersebut.
Kesalahan ketiga, Anda tidak menguasai bidang keilmuan/materi yang ditulis. Hanya berbekal akses internet saja. Alhasil, yang terjadi justru hanya copy paste. Sama sekali tidak menulis, justru menyusun tulisan orang lain. Memang tidak masalah jika mau jujur dengan mencantumkan sumber atau referensinya (footnote). Hanya saja, buku yang dihasilkan hanya terkesan seperti kliping! Efeknya akan buruk sendiri untuk nama baik Anda. Biasanya pihak editor dari penerbit akan langsung menegur jika ada naskah yang hanya disusun dari tulisan di internet. Sebab hal itu bisa menyalahi hak cipta tulisan orang lain. Selain itu juga tidak melatih kita untuk benar-benar menulis dengan benar. Sekali lagi ingat, bahwa copy paste itu bukanlah bagian dari teknik menulis.
Solusinya, mulailah menulis dari bidang keilmuan yang benar-benar dikuasai. Sesuai dengan keilmuan yang dipelajari di sekolah/kampus atau sesuai pengalaman Anda. Seperti buku Pendidikan Anak Ala Jepang dan Best of Kyoto, saya tulis bukan karena saya memiliki background ilmu kesastraan Jepang. Melainkan karena saya memiliki pengalaman di bidang pendidikan dan traveling selama menetap di Jepang. Jika Anda menguasai terhadap apa yang Anda tulis, tentu Anda akan lancar menuliskannya, dan pembaca pun akan semakin percaya kalau Anda memang kompeten di bidang tersebut. Begitu juga penerbit akan yakin menerbitkan buku tersebut sebab ditulis oleh orang yang benar-benar paham ilmu tersebut.
Kesalahan keempat, tidak punya jadwal menulis. Lalu apa artinya jika sudah merancang outline, sudah tahu sasaran pembaca, sudah menguasai keilmuannya, tapi tidak konsisten dalam menulis? Ya pasti naskah buku tidak akan selesai dan bahkan Anda lupakan. Sayang sekali. Seakan-akan menggarap naskah buku adalah pekerjaan sampingan yang kapan saja bisa disentuh dan kapan saja bisa dilupakan. Kalau memang begitu, maka urungkan saja cita-cita menulis buku itu.
Solusinya, buatlah tabel waktu penggarapan yang jelas. Tentukan batas waktunya (jadwal). Tuliskan juga di tabel itu tanggal berapa setiap bab harus diselesaika. Dengan begitu, kita akan termotivasi untuk menggarap per babnya sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Lalu jangan lupa berikan hadiah tersendiri jika kita bisa menepati jadwal itu. Misalnya akan membeli bakso 3 mangkuk jika Anda bisa merampungkan 1 bab :D. Hadiah itu untuk memotivasi kita dan mengobati rasa lelah.
Kesalahan Kelima, menulis sekaligus mengedit. Ini kesalahan paling sering dilakukan oleh siapa pun yang baru pertama belajar menulis naskah. Yakni dalam satu waktu sedang menulis lalu melihat tulisan di atasnya dan mengeditnya. Sehingga tulisan selesainya lama sekali. Ada rasa cemas jika tidak melihat tulisan yang sudah dibuat. Padahal cara menulis seperti itu akan membuat Anda mudah lelah dan capek sendiri. Bahkan menulis 2 halaman saja memakan waktu sampai berjam-jam.
Solusinya, menulislah dengan cepat dan jangan pedulikan dulu kesalahan ketik atau ejaan. Biarkan proses menulis berjalan dengan alami. Nanti setelah tulisan selesai, baru Anda edit. Jadi antara aktivitas menulis dan edit itu adalah dua aktivitas yang berbeda. Misalkan hari ini menulis, lalu besok mengeditnya. Dengan begitu, kita tidak akan kehabisan banyak energi dan waktu. Lagipula, jangan terlalu merisaukan masalah editing ini. Selama tulisan Anda mudah dipahami, tidak alay, dan tidak terlalu banyak salah ketik, no problem. Editor bisa menerima dan mereka akan mengeditnya sebelum naskah Anda diterbitkan.
Kesalahan Keenam, menginginkan buku Anda banyak yang membaca, namun Anda malu atau bahkan tidak mengerti cara berjualan. Tidak peduli buku Anda dijual di rak toko buku atau hanya dijual secara online/via sms, Anda harus gencar mempromosikan buku Anda jika ingin buku Anda banyak dibaca orang (read: laku). Jangan mengandalkan penerbit untuk mempromosikan buku Anda. Tugas utama promosi adalah Anda sendiri selaku penulisnya. Buku Pendidikan Anak Ala Jepang merupakan produk yang bisa saya contohkan. Buku ini bahkan bisa terjual setidaknya 1000 kopi dalam sebulan melalui penjualan non-toko (penjualan di toko malah kalah dengan penjualan non-toko. Melalui fakta ini, saya sekaligus ingin menyadarkan kepada siapa saja yang masih meremehkan penerbitan indie dimana buku hanya dijual online/via sms).
Sekali lagi saya sampaikan, bahwa “Tidak peduli buku Anda dijual di rak toko buku atau hanya dijual secara online/via sms, Anda harus gencar mempromosikan buku Anda jika ingin buku Anda laku. Karena penjualan buku Anda sangat tergantung dari proses promosi penulisnya”. Tapi tentu juga ditambah konten yang menarik ya… Meskipun promosi gencar, tapi kalau konten hancur, ya sama saja 😀
Nah, proses marketing buku tidak harus Anda lakukan setelah buku terbit. Anda dapat melakukan marketing bahkan sebelum buku terbit dan justru teknik inilah yang terbaik dalam promosi Anda. Siapkan pasar Anda sebelum buku Anda terbit. Baca selengkapnya tips marketing online buku Anda di artikel Strategi Pemasaran Online untuk Produk Anda
Apakah sekarang Anda sudah tahu letak kesalahan dalam menulis naskah buku dan tahu solusinya? Maka segera perbaiki cara Anda dalam menggarap naskah buku. Selamat berkarya!

Strategi Pemasaran Online untuk Produk Anda

Jika kita membicarakan tentang pemasaran, maka kita akan menemukan istilah Konten Marketing. Konten Marketing merupakan strategi pemasaran yang berfokus pada pembuatan dan distribusi konten yang bernilai, relevan dan konsisten. Konten marketing dibuat dengan tujuan untuk menarik serta mempertahankan perhatian audiens kepada produk kita bahkan bisa mendorong pelanggan melakukan keinginan kita. Konten dapat berupa artikel, video, audio atau gambar. Konten-konten tersebut dibuat selain untuk menarik traffic besar menuju website juga bertujuan untuk meningkatkan penjualan.
Konten Marketing yang hebat tidak hanya membawa bisnis memperoleh target penjualan sesuai yang diinginkan namun juga memberikan image baik kepada brand atau produk yang ditawarkan. Karena konten marketing yang hebat biasanya bisa memberikan informasi yang berguna, memberikan edukasi dan pencerahan, memberikan solusi yang dibutuhkan pelanggan dan kadang-kadang pula berisi konten ringan yang menghibur. Sehingga, konten promosi tidak melulu harus menyebutkan nama, harga, dan deskripsi produk Anda.
Konten Marketing dapat disebarkan melalui email marketing atau sosial media yang dimiliki oleh website Anda. Diantara sosial media yang kerap digunakan untuk menyebarkan konten marketing adalah Facebook, Twitter, Google+ dan Instagram dan lain-lain.
Manfaat yang didapat dengan menyebarkan konten marketing melalui sosial media adalah apabila konsumen atau audiens menyukai konten yang Anda bagikan, mereka bisa membaginya kepada teman dan follower mereka. Hal tersebut tentu saja dapat membuka celah pasar baru bagi produk yang sedang anda tawarkan. Jika mereka tidak membagikannya pun, Anda tetap akan beruntung. Karena mereka telah mengunjungi situs Anda dan mengetahui produk-produk Anda. Oya, yang disebut produk di sini bukan hanya produk dalam bentuk barang, ya. Namun juga bisa berupa jasa maupun diri Anda sendiri!
Meski ratusan konten marketing dapat Anda bagikan setiap hari, namun tetaplah harus memperhatikan timing atau waktu penyampaian, kualitas konten, dan target audiens yang akan Anda bidik sehingga konten marketing tersebut dapat memberikan hasil yang maksimal, baik untuk meningkatkan penjualan ataupun sebagai sarana pengikat audiens agar loyal menggunakan produk Anda. Dan ingat, jangan terlalu sering mengirimkan konten marketing karena justru akan membuat audiens Anda jenuh dan bosan, kecuali jika Anda memiliki konten marketing yang benar-benar berbeda dan inovatif.
Jumlah follower juga akan sangat mempengaruhi seberapa besar target pasar yang akan menerima konten marketing Anda. Agar memperoleh perhatian dan dapat menambah jumlah follower di sosial media Anda harus dapat menulis konten atau status yang menarik serta relevan dengan produk yang anda tawarkan. Tidak hanya itu, Anda perlu juga membuat kata kunci atau keyword yang dapat ditemukan oleh mesin pencari (search engine) seperti Google, Yahoo, Bing dan lain-lain.
Sudah saya sebutkan di atas tadi, bahwa menjual produk melalui tulisan tidak melulu harus menyebutkan spesifikasi barang atau produk yang Anda tawarkan, atau informasi yang berkaitan dengan produk tersebut, seperti fitur apa saja yang dimiliki, kelebihan produk, harga dan cara melakukan pembelian. Namun, Anda dapat menyajikan informasi atau artikel-artikel bermanfaat yang berkaitan dengan produk tersebut. Untuk dapat melakukan promosi tersebut, Anda perlu memahami teknik copywriting. Seperti artikel ini. Saya tulis artikel ini sebagai konten marketing untuk diri saya sendiri sebagai entrepreneur. Melalui artikel ini, Anda akan semakin mengenal saya, mengetahui aktivitas saya, hingga mengetahui produk-produk yang saya tawarkan. Tentu hal tersebut akan membuka lebar peluang Anda membeli produk saya atau bahkan peluang dalam menjalin kerjasama bisnis lainnya.
Apakah copywriting itu? Copy disini berarti teks yang digunakan dalam penjualan atau pemasaran sebuah produk. Teks tersebut dapat kita temui dalam reklame iklan, landing page media sosial, brosur dan sebagainya. Writing artinya penulisan. Secara garis besar, copywriting merupakan proses penulisan copy atau teks yang bertujuan sebagai iklan atau promosi.
Sebuah riset juga perlu Anda lakukan untuk perbaikan produk. Hal tersebut dapat dilakukan antara lain dengan membagikan kuis atau memancing reaksi audiens dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada kebutuhan riset Anda. Misal sejauh apa kebutuhan mereka akan produk Anda, apa kegiatan mereka yang kira-kira berhubungan dengan produk Anda, apa kepentingan mereka, dan apa harapan mereka. Sehingga, hasil riset tersebut bisa Anda gunakan untuk meningkatkan kualitas produk atau bahkan untuk menciptakan produk baru.
Anda harus memahami bahwa kebutuhan dasar manusia adalah money (uang), health (kesehatan), happiness (kebahagiaan) dan love (kasih sayang dan merasa dihargai). Sehingga, konten marketing yang Anda buat setidaknya bisa memberikan kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut.
Pada saat menulis konten marketing, Anda dapat menggunakan formula AIDA yakni Attention (buat headline yang dapat menarik perhatian para audiens), Interest (ketahui hal-hal yang menarik bagi audiens Anda sehingga mereka mau membaca penawaran Anda), Desire (ketahui keinginan mereka) dan Action (mintalah mereka melakukan apa yang Anda inginkan, apakah hanya sekedar membagi konten di halaman mereka, melakukan LIKE, SHARE, atau membeli produk Anda).

Unforgetable Gift

Sedikit berbeda dengan kebanyakan masyarakat kita, orang Jepang biasa memberikan hadiah kenang-kenangan berupa sesuatu yang mereka buat sendiri. Seperti syal yang mereka buat sendiri, boneka yang mereka buat sendiri, hingga album foto yang sangat cantik buatan sendiri, yang berisi foto-foto kebersamaan mereka.
Selain kenang-kenangan buatan sendiri, mereka juga biasa memberikan kenang-kenangan berupa benih tanaman. Benih tersebut berasal dari hasil bercocok tanam yang mereka lakukan beberapa bulan/tahun sebelumnya. Orang yang akan pindah kemudian menanam benih tersebut di tempat barunya.
Di sekolah Jepang anak saya dulu, pada akhir tahun ajaran sekolah, murid-murid yang lulus menghadiahkan bibit tanaman kepada adik-adik kelas. Bibit-bibit tersebut dirawat oleh adik-adik kelas di sekolah saat jam istirahat. Begitu pun saat adik kelas tersebut nanti lulus sekolah. Mereka akan menghadiahkan bibit tanaman kepada adik-adik kelasnya. Sehingga, kenangan tak hanya sekedar menjadi kenangan. Namun menjadi kenangan yang juga memotivasi anak lain produktif dan kreatif.
Foto di bawah adalah foto tanaman 朝顔 Asagao. Dulu sahabat Jepang-nya Si Sulung memberikan benih tanaman tersebut kepadanya sebagai kenang-kenangan sebelum kami pulang ke Indonesia. Walaupun lebar daunnya tak bisa selebar saat ditanam di Jepang, tapi pagi ini kami dapati bunga pertama mekar dari tanaman tersebut di halaman rumah kami
Tanaman tersebut benar-benar menjadi unforgetable gift baginya. Dia menyiram dan merawatnya setiap hari. Sehingga, kenangan bersama sahabatnya itu pun hadir setiap hari.
Tanaman Asagao

Teknik Sederhana Menulis Cerita Anak

Oleh’ Susanti Hara Jv
Masa kanak-kanak adalah dunia yang pernah seorang dewasa lewati. Masa di mana mereka memiliki kebebasan imajinasi untuk bermain peran bersama teman menjadi apa saja. Saya ingat ketika masih kecil bisa berperan menjadi penjahat, polisi, guru, dan seluruh teman saya menokohkan karakter lainnya. Kami menikmati semua permainan itu tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Saking asyiknya bermain. Begitu sekarang berada dalam dunia pendidikan anak luar biasa, rasanya masih tetap saja dunia anak adalah dunia bermain untuk memerankan karakter yang mereka lihat dan juga rasakan. Saya sering melihat peserta didik di sekolah saya memanfaatkan waktu bermain peran menjadi ayah, ibu, dan juga anak. Bahkan, seringkali mereka bermain peran menirukan beberapa profesi yang mereka baca dari buku, ataupun mereka lihat dari tayangan televisi. Semua itu bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Tetapi, bukan tulisan biasa jika ingin dimuat di media, terbit, dan dibaca milyaran anak Indonesia. Cerita di atas semoga bisa menjadi gambaran, betapa luasnya nanti teknik dalam menulis cerita anak. Sesuatu yang berawal dari diri sendiri, kisah masa kecil, bisa dituangkan menjadi cerita anak. Bagi penulis yang sudah malang melintang dalam dunia kepenulisan, mungkin akan banyak menemukan teknik menulis. Proses kreatif yang tentunya berbeda antara penulis yang satu dengan penulis lainnya. Namun, intinya adalah jika ingin menulis cerita anak, kita harus “liar” dalam menulis, dan menuangkannya. Sehingga kita punya banyak kreatifitas dalam mengungkapkan bahasa tulisan. Tulisan benar-benar berkesan bahkan berpengaruh bagi pembaca cilik. Contohnya saja untuk menulis tema “Keluarga”. Maka setidaknya ada beberapa orang yang kita ingat, seperti: “Ayah”,  “Ibu”,  “Kakek”,  “Nenek”, “Kakak”, “Adik”,  dst. Dari karakter di atas, tentu akan ditemukan berbagai fenomena berbeda. Seperti ide menuliskan “Kakek”, maka setidaknya ada beberapa hal terkait dengan ide itu, seperti: – Siapa Kakek? – Di mana tempat tinggalnya? -Seberapa jauh jarak rumah Kakek dengan Anak? – Apa pekerjaan Kakek? – Bersama siapa Kakek tinggal? – Adakah pengalaman mengesankan bersama Kakek?
– Adakah pengalaman memalukan bersama Kakek? – Cerita apa yang menarik tentang Kakek?  -dst Sangat sederhana, bukan? Benar-benar “liar” dan tanpa batas. Semakin banyak keterkaitan ide dengan peristiwa atau pengalaman, tentu semakin mudah menulis.
Pertanyaannya, bagaimana mulai menulis cerita anak? Bagaimana memulai kata atau kalimat di awal paragraph? Semoga beberapa teknik yang saya dapat dari beberapa guru, baik itu belajar secara langsung maupun media sosial, cukup membantu untuk mulai menulis cerita anak. Kalau masih dirasa kesulitan, sila kirim pertanyaan. Dengan senang hati akan saya berikan tanggapan. Inilah beberapa teknik yang menurut saya memudahkan untuk memulai menulis cerita anak.

  1. Teknik Deskripsi Waktu Ini bisa digunakan untuk menggambarkan keadaan tertentu dengan menggunakan setting waktu. Bisa menunjukkan detik, menit, jam, hari,tanggal, bulan, tahun, siang hari, tengah malam dan seterusnya seiring waktu berjalan. Misalnya: Malam semakin gelap, Ayah belum juga pulang. Kudengar jam berdentang sepuluh kali. Hatiku tidak tenang. Biasanya, pukul 06.00 WIB, Ayah sudah sampai rumah. Aku jadi bertanya-tanya, apakah terjadi sesuatu dengan Ayah di tempatnya bekerja?
  2. Teknik Deskripsi Tempat Memulai tulisan dengan menggunakan setting tempat, tentu akan cukup mudah. Banyak sekali tempat yang pernah kita lewati dalam kehidupan sehari-hari. Teknik ini berhubungan dengan di mana terjadinya kisah atau peristiwa. Tempat dalam cerita anak sangat luas. Bahkan, sampai ke negeri dongeng, peri, dan sebagainya. Tidak hanya melulu tempat itu sebuah rumah, bangunan, toko, pedesaan, kota, negara, lautan, dan seterusnya. Anak-anak perempuan pada masa kini, lebih menyukai kisah putri dan kerajaan. Hal ini tentu berhubungan dengan dunia mereka yang liar.  Misalnya: Di sebuah kerajaan yang tenang, Putri Anti duduk sendirian. Dia tidak mau ke luar kamar. Ketika Bi Asih, pengasuhnya datang, Putri Anti mengunci mulutnya. “Ada apa Tuan Putri?” tanya Bi Asih, “Kenapa mengurung diri terus?” Dst.
  3. Teknik Deskripsi Orang Teknik mulai menulis deskripsi orang ini digunakan dengan menggambarkan sosok tokoh. Baik itu tokoh utama maupun tokoh pembantu. Intinya, ada orang, hewan, tumbuhan, atau karakter lain seperti peri yang terlihat dalam dunia anak dan bisa digambarkan melalui kata-kata. Misalnya: Tangan Peri Para, peri pengantar debu memerah. Peri paling cantik di negeri Hijau itu terkejut bukan main. Dia berteriak, “Tolong!” Dst… 4. Teknik Memulai Cerita Anak dengan Konflik Konflik dalam cerita anak sebenarnya sangat banyak. Tetapi, dalam menuangkannya, terutama cerita pendek yang sekali duduk dibaca anak dapat tuntas, sebaiknya hanya menceritakan satu konflik. Tulislah konflik yang benar-benar berkesan meskipun hasil rekayasa penulisnya. Misalnya:  “Aku tidak mau berteman lagi sama kamu,” bentak Dita seenaknya saja. Anggi melongo tak percaya, “Tapi Dit, memangnya aku salah apa?” Dst…. 5. Teknik Memulai dengan Aksi Untuk teknik ini, saya yakin sudah banyak yang bisa menebaknya. Tokoh dalam cerita melakukan suatu tindakan, gerak, atau sikap yang berhubungan dengan aksi. Misalnya: Andi membelokkan sepedanya ke kiri. Dia menghindari tabrakan dengan sepeda Tito. Tapi, sayang, begitu berbelok, Andi tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya. Akhirnya, Andi terjerembap di dalam kolam ikan Pak Saswi. Dst….
  4. Teknik Memulai dengan Dialog Teknik ini saya anggap paling mudah di antara sekian banyak teknik. Menulis menggunakan teknik ini, rasanya dari awal sudah terbangun cerita, tinggal memoles deskripsinya. Misalnya: “Siapa yang membawa baju bergambar Ultraman ini, Dit?” tanya Anto. Bukannya menjawab, Anto malah bertanya, “Memangnya kenapa?” “Aku suka baju ini. Aku ingin membelinya, tapi belum punya uang.” Dst…

Itulah beberapa teknik memulai menulis cerita. Silakan gunakan yang mana saja. Seiring berkembangnya kemampuan, maka akan semakin terampil dalam menulis. Awalnya, mungkin akan terasa begitu sulit. Tetapi jika sudah sering menulis, tanpa melihat lagi teknik apapun, insya Allah menulis tinggal menuangkan isi kepala ke dalam bentuk cerita. Selamat mengaplikasikan. Mari terus berlatih, berlatih, dan berlatih. Berlatih untuk menghasilkan karya berkesan. Berpengaruh positif bagi generasi penerus bangsa.

Penerbitan Mayor Vs Penerbitan Indie, Lebih Baik Mana?

Ditulis Oleh: Saleha Juliandi
Seperti kita tahu, bahwa buku secara umum kita kenal sebagai kertas-kertas yang berisi tulisan dan dijilid menjadi satu dengan cover yang menarik. Walaupun kini sudah muncul buku versi digital (e-book), namun kehadiran buku cetak (buku yang dicetak di atas kertas) masih menjadi pilihan bagi mayoritas masyarakat di Indonesia.
Dahulu, dunia penerbitan hanya mengenal Mesin Cetak Offset untuk mencetak buku-buku. Karena biaya operasional mesin ini cukup mahal, sehingga oplah minimal cetak ditetapkan sangat besar, yaitu sekitar 2.000-3.000 eksemplar untuk sekali running mesin, untuk menutupi biaya operasional yang tinggi tersebut. Selain oplah yang besar, masalah lain muncul. Buku yang sudah dicetak dengan oplah besar tersebut seringkali tidak habis terjual di pasar dan akhirnya penerbit mengalami kerugian.
Mesin Offset ini digunakan oleh Penerbit Mayor untuk mencetak buku-bukunya yang kemudian didistribusikan ke toko-toko. Oleh karena itu, penerbit-penerbit mayor menyeleksi terlebih dahulu naskah-naskah yang masuk. Hanya naskah-naskah yang diprediksi laku saja, yang akan diterima dan kemudian diterbitkan secara mayor. Alasan utamanya tentu agar penerbit tidak merugi. Walaupun demikian, banyak juga buku-buku mayor yang tidak laku di pasar walaupun sudah melewati serangkaian seleksi oleh editor.
Berkembangnya teknologi, kini dunia perbukuan telah memiliki Mesin Cetak Digital. Biaya operasional mesin ini cukup murah, sehingga mampu mencetak walau hanya 1 eksemplar buku. Lahirnya mesin ini, kemudian mendorong lahirnya Penerbitan Indie. Melalui penerbitan indie, buku bisa dicetak  berapapun jumlahnya, sesuai permintaan pasar. Kalau permintaan hanya 1, ya hanya dicetak 1 eksemplar. Kalau permintaan 100, ya bisa dicetak 100 eksemplar, dan seterusnya. Sehingga, resiko kerugian pun sangat kecil karena tidak ada buku yang tersisa akibat tidak terjual. Hadirnya penerbitan indie juga menjadi angin segar bagi masyarakat. Masyakarat lebih mudah menuangkan ide pikirannya ke dalam buku tanpa adanya kungkungan idealisme dari pihak penerbit.
Lalu, lebih baik mana? Penerbitan Mayor atau Penerbitan Indie?
Jawabannya adalah relatif, tergantung pada tujuan setiap penulisnya. Ini saya coba ulas satu per satu:
Penerbitan mayor
Apabila tujuan yang dicari adalah prestige, maka penerbitan mayor pilihannya. Karena buku kalian akan dipajang di rak-rak toko buku di seluruh Indonesia. Keren dan membanggakan tentunya.
Jika kalian tipe orang yang tidak punya passion dalam marketing (promosi), penerbit mayor juga bisa kalian pilih. Sesial-sialnya, kalaupun akhirnya buku kalian tidak laku karena kalian ogah promosi, at least kalian sudah mendapatkanprestige. Minimal bisa mejeng bersama buku kalian di rak toko dan meng-uploadnya di sosmed :). Walaupun mungkin buku kalian hanya bertahan selama 1 minggu di rak tersebut karena harus digeser ke gudang toko.
Jadi, salah satu keuntungan menerbitkan buku melalui penerbitan mayor adalah penjualan buku kalian terbantu oleh sistem distribusi ke toko-toko. Namun, sekali lagi bukan berarti buku yang terdistribusi ke toko-toko dijamin sukses penjualannya. Obrolan saya dengan salah satu editor penerbit rekan kami, bahkan ada loh penulis buku mayor yang tidak menerima sisa royalti akibat bukunya tidak laku terjual. Seperti tadi yang saya katakan, bahwa buku yang peminatnya kurang, akan segera dipindahkan ke gudang. Mungkin kalian belum tahu, bahwa lebih dari 200 judul buku baru masuk ke toko setiap minggunya! Jadi, bisa kalian bayangkan bagaimana ketat persaingan para penulis di toko. Sehingga, toko pun sangat selektif dalam memilih buku-buku yang akan dipajang di rak toko. Buku yang kurang laku, akan segera dipindahkan ke gudang dan diretur ke penerbit.
Kerugian penerbitan ini adalah royalti penulis relatif kecil, yaitu sekitar 8 12%. Ya, hal ini wajar sekali. Karena penerbit harus mendanai biaya cetak buku dengan oplah ribuan, mendanai distribusi buku ke toko-toko secara nasional, hingga membayar gaji para karyawan yang terlibat dalam penerbitan buku tersebut.
Penerbitan Indie
Nah, setelah penerbitan mayor, sekarang kita bicara tentang penerbitan indie. Kalau tujuan kalian sama sekali bukan untuk mencari prestige, maka penerbit indie bisa dijadikan pilihan. Misalnya, bagi dosen/guru yang ingin menaikkan KUM-nya. Menerbitkan buku bisa menjadi salah satu cara karena memiliki poin besar dalam kenaikan pangkat. Sehingga, dosen/guru tidak perlu susah-susah menerbitkan melalui penerbitan mayor karena biasanya akan memakan waktu yang cukup lama. Sementara, jenis penerbitan tidak menjadi syarat dalam kenaikan kum tersebut. Asalkan penerbit bisa mengeluarkan ISBN yang tercatat di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), sudah sah dan bisa diajukan sebagai berkas kenaikan pangkat.
Selain untuk alasan kenaikan pangkat, bagi penulis yang menginginkan royalti yang lebih besar juga dapat memilih penerbitan indie. Melalui jalur penerbitan ini, semakin banyak buku dicetak, maka semakin besar royalti/keuntungan yang diterima oleh penulis. Tapi, tentu kalian harus cermat dan teliti dalam memilih penerbitan indie. Tanyakan pembagian royaltinya secara detil. Karena banyak penerbit indie yang kurang terbuka mengenai masalah ini. Bahkan, banyak bermunculan penerbit-penerbit indie gadungan akhir-akhir ini.
Karena buku terbitan indie tidak di-display di rak-rak toko, penulis buku indie harus memiliki upaya marketing dan promosi yang maksimal. Baik secara online maupun melalui komunitas yang kalian miliki. Jadi, jika kalian memiliki komunitas besar, akan sangat membantu dalam penjualan buku indie kalian. Jika kalian tidak punya semua hal tersebut, ya kalian tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali kepuasan telah menghasilkan karya itu sendiri.
Jadi, apabila kalian punya naskah keren, punya passion kuat dalam marketing/promosi, jago menjual di sosmed/blog, dan kalian punya komunitas besar, penerbit indie sangat cocok dan bisa sangat menguntungkan dari segi materi. Karena keuntungan penjualan buku tidak dibagi untuk toko, distributor, ataupun pihak-pihak lainnya. Penjualan buku terbitan indie walau tidak didistribusikan ke toko juga bisa tinggi, loh.. jika kalian memiliki beberapa aspek yang saya sebutkan di atas. Buku Pendidikan Anak Ala Jepang yang kami terbitkan bisa menjadi contohnya. Buku tersebut awalnya kami terbitkan secara indie. Selama penerbitan indie, buku tersebut mampu terjual lebih dari 2.000 eksemplar, mengalahkan penjualan di toko meskipun dalam rentang waktu yang sama.
Selain tujuan-tujuan di atas, terdapat juga tujuan lain beberapa penulis memilih penerbitan indie misalnya karena ingin belajar, ingin menerbitkan buku dengan idealisme tertentu tanpa adanya campur tangan pihak editor, dan lain-lain.
Nah, itulah beberapa hal mengenai penerbitan mayor dan indie. Baik penerbitan mayor maupun indie memiliki kelebihan maupun kekurangan. Kenali diri, tentukan tujuan, dan pilihlah jalur penerbitan yang sesuai dengan diri dan tujuan kalian masing-masing.
 

Writerpreneurship : Jenis Tulisan yang Banyak Dicari

Sebenarnya sejak hadirnya begitu banyak media social, tanpa kita sadari telah melahirkan banyak penulis baru. Lihat saja begitu banyak orang yang memiliki hobi nyetatus atau menulis di wall Facebook atau sekedar share cuitan di Twitter.,berbagi foto di Instagram dan lain-lain. Isi tulisannya pun beragam dari hal-hal sederhana yang membuat kita merasa senang, terkesan, senang, sedih, atau marah pada seseorang. Bahkan bisa pula mengomentari kondisi politik saat ini.
Apalagi sekarang banyak media sosial yang memberikan ruang untuk itu. Yang ingin lebih serius bisa dengan membuat blog. Yang ingin selfie dengan tulisannya, mereka pun bergabung dengan akun di media sosial berbasis news seperti detikblog, kompasiana dan sebagainya.
Lebih menyenangkan lagi bila ternyata hobi menulis ini kelak dapat menjadi sumber penghasilan. Bila beruntung tulisan anda dapat dibukukan dan diterbitkan sehingga dapat menghasilkan royalti dari hasil penjualan buku. Atau dapat bekerja sebagai penulis freelance dari website tertentu. Anda akan dibayar per artikel yang anda kirim. Lumayan, bukan?
Pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar
Lalu jenis tulisan apa saja yang dapat menghasilkan income dan banyak dicari ? Berikut adalah jenis tulisan yang banyak dicari serta menghasilkan pendapatan baik dari buku yang diterbitkan atau dibutuhkan oleh kebanyakan website.
1. Genre Sastra
Yang termasuk di sini antara lain cerpen ( cerita pendek ), cermin ( cerita mini ), puisi, novel dan karya sastra lainnya. Ada banyak website yang dimiliki oleh penerbit buku yang sering mengadakan lomba menulis cerita. Serta masih banyak majalah atau koran yang membutuhkan tulisan semacam ini. Penerbit Pena Nusantara merupakan salah satu penerbit yang sering mengadakan event lomba menulis. Informasinya bisa anda baca di website ini. Bahkan penerbit ini memiliki kelas-kelas menulis online yang memberikan pengetahuan menulis bagi penulis pemula. Kelas-kelas menulis online tersebut bisa Anda ikuti melalui Grup FB Pena Nusantara.
2.Review Product dan Buku
Bila anda suka menulis review sebuah produk atau gadget, anda dapat menulisnya di kaskus.co.id atau beragam situs tempat berjualan. Bahkan beberapa penulis yang saya kenal, selain menulis, mereka juga berjualan barangnya. Sehingga mendapatkan keuntungan yang berlipat. Mendapat bayaran dari situs yang menggunakan jasa mereka sekaligus keuntungan penjualan produknya. Menarik, bukan?
3. Travelling Notes atau catatan perjalanan
Punya hobi jalan-jalan, foto-foto dan suka menulis? Informasi yang anda tulis bisa mengenai tentang cara mencapai tempat wisata, makanan khas, biaya akomodasi dan keunikan tempat tersebut disertai dengan foto-foto yang menarik. Mengapa tidak membuat buku sendiri tentang perjalanan anda? Atau menjual tulisan dan foto anda ke biro wisata? Mereka akan membayar anda untuk tulisan yang telah anda buat dan menjadikannya sebagai paket wisata mereka.
4. Kuliner atau makanan
Hobi makan? familiar dengan bahan-bahan makanan? mengapa tidak mencoba membuat tulisan tentang review kuliner? hampir sama dengan review product, yang anda lakukan adalah mencoba makanannya, mengetahui bahan yang digunakan dalam masakan bahkan khasiat makanan tersebut bagi tubuh dan membuat foto sebagus mungkin. Tulislah 1-2 paragraf tentang masakan itu lalu posting. Anda bisa menjual hasil tulisan anda kepada restoran tersebut atau menawarkannya kepada tabloid masakan untuk dimuat.
5. Hal-hal teknis, tips dan cara membuat atau melakukan sesuatu
Pandai membuat blog? Cobalah untuk membuat tulisan atau buku tentang step-step cara membuatnya. Hobi membuat ketrampilan atau souvenir unik ? Banyak penulis yang telah melakukannya dan berhasil. Mereka membukukan hobi mereka membuat sesuatu yang bermanfaat. Selain itu mereka juga dapat menjadi pengajar dari ketrampilan yang mereka tulis.
Demikian jenis-jenis tulisan yang banyak dicari semoga dapat memberikan semangat untuk tetap rajin menulis.
Selamat mencoba

Penulis Konvensional VS Penulis Entrepreneur

Oleh: Trina Tri Nawangsih
Tidak hanya di dunia usaha, jiwa entrepreneurship juga seharusnya dimiliki oleh seorang penulis. Entreprenuer artinya adalah orang-orang yang memiliki aktifitas wirausaha yang dicirikan dengan bakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi atau langkah untuk pengadaan produksi serta memasarkannya.
Kebanyakan orang berpikir wirausahawan hanya terbatas pada orang-orang yang menjual produk dan ini sering dikaitkan dengan orang-orang yang berbakat menjual atau memasarkan produk fisik, bisa berupa bahan makanan, produk kosmetik dan fashion, otomotif, gadget dan sebagainya.
Padahal sebuah tulisan bisa juga menjadi barang yang bisa dijual. Bagaimana bisa?
Selama ini, yang orang pikirkan hanya cara-cara penulis konvensional, yaitu menulis, dikirimkan ke penerbit, dicetak dan diterbitkan. Maka buku yang kita tulis bisa masuk toko buku, dipajang, dibaca dan dilihat orang. Penghasilan yang didapat dari pekerjaan menulis buku disebut sebagai royalty, yang kenyataannya sering dibayarkan per 3 bulan, 4 bulan atau bahkan per tahun. Itu pun baru dirasakan sebagai benar-benar penghasilan setelah dikalikan per eksplempar buku yang laku di pasaran.
Lalu bagaimana orang-orang yang sebenarnya memliki bakat dan ketrampilan menulis yang tidak dapat menembus penerbitan buku atau belum bisa membuat self publishing atas bukunya sendiri?
Banyak penulis yang akhirnya menyerah lalu berhenti. Bahkan ada yang bilang, menjadi penulis di negeri ini tidak dapat menjadi sumber mata pencaharian yang utama.
Seorang penulis yang juga memiliki jiwa entrepreneurship tidak akan berputus asa, karena sebenarnya di luar sana begitu banyak orang yang membutuhkan penulis lepas untuk mengisi sebuah website, ghost writer atau asisten seorang penulis novel, maka pandai-pandailah mencari peluang siapa saja yang membutuhkan tulisan. Coba saja searching di Google dengan menggunakan keyword lowongan menulis di website, lowongan penulis lepas dan sebagainya, maka akan banyak ditemukan website yang sebenarnya sedang mencari orang-orang yang mau menulis sesuai tema website tersebut. Salah satunya adalah Kaskus.co.id. Imbalan yang ditawarkan pun beragam, ada yang memberikan pulsa, transfer uang ( biasanya akan ditransfer per 5 atau 10 artikel tergantung pemilik websitenya ) atau voucher membeli buku di website tersebut.
Apalagi bila anda mahir menulis dalam bahasa asing, misalnya Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Imbalannya pasti jauh lebih besar bila dibandingkan dengan menulis dalam Bahasa Indonesia. Kalau seorang wirausahawan, katakanlah menjual gadget memiliki sebuah toko untuk memajang barang dagangannya, maka seorang penulis yang belum mampu menerbitkan buku disarankan memiliki fanpage atau blog untuk menjual tulisannya. Dalam hal ini yang dibeli adalah jasa anda sebagai seorang penulis, anda membuat jasa penulisan penerbitan sebagai bisnis ide. Anda bisa membuat blog dengan tema sesuai dengan keahlian anda menulis.
Bila anda hobi membuat ketrampilan, buatlah blog atau website yang memajang hasil kerajinan tangan anda berupa foto dan deskripsi singkat tentang bahan dan cara pembuatannya. Yang hobi menulis cerita bisa mengupload cerita-cerita pendek dengan gambar ilustrasi yang menarik. Bila anda penggemar berita politik, anda bisa mencoba membuat analisa sendiri tentang berbagai peristiwa baik itu berita di tanah air maupun di luar negeri.
Saya sendiri telah membuktikan dengan menjadi ghostwriter di sebuah website travel haji dan umroh, sampai sekarang saya masih menulis di sana dengan honor yang lumayan untuk mengcover pengeluaran tambahan seperti pulsa internet 2 handphone dan 1 modem setiap bulan.
Jadi tetaplah menulis dengan banyak tema, buatlah blog sebagai CV ( curriculum vitae ) atau riwayat kepenulisan anda dan jadilah penulis entrepreneur.

Tips Menulis Cerita Anak

Oleh: Susanti Hara Jv
Dunia kanak-kanak kita, dunia yang penuh imajinasi. Sayangnya, makin beranjak dewasa dunia imajinasi pun perlahan terkikis logika. Hingga jalan pikiran yang masuk bernama logika ini lebih menguasai keseharian dengan pernyataan masuk akal atau tidak, maupun benar dan salah.
Cerita anak yang kita tahu cukup luas, berkembang dari ide imajinasi maupun pengalaman penulisnya ketika masih kanak-kanak. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk berkata, Saya tidak bisa menulis cerita anak. Toh, kita diberi akal pikiran, daya khayal, dan pengalaman masa kecil.
Dari pengalaman masa kecil setiap orang yang berbeda, tentu akan menghasilkan tulisan dan kesan berbeda pula. Perbedaan cerita pengalaman masa kecil inilah yang akan menjadi keunikan dan pembeda setiap tulisan cerita anak.
Untuk mempermudah menulis cerita anak, mungkin ada baiknya kita mengenal beberapa hal:
1. Bahasa atau kalimat dalam cerita anak haruslah sederhana dan mudah dimengerti. Sedewasa apapun penulis, harus ikhlas memasuki dunia anak dan menulis sesuai karakter dalam dunia anak-anak. Hingga anak-anak pun mudah memaknai apa yang dibacanya.
2. Cerita Pendek (Cerpen) Anak yang sekali tuntas dibaca anak, tentu akan berbeda dengan novel anak yang berlembar-lembar. Menulis cerpen hanya ada satu masalah dan selesai dengan pemecahan masalah.
Sedangkan menulis novel anak, penulis harus cerdas menuangkan beberapa masalah ke dalam cerita dan menyelesaikannya dengan cara yang cergas. Meski akhir cerita dalam novel dibuat menggantung sekalipun untuk terus mengasah daya pikir si kecil.
3. Ide atau tema cerita anak harus sesuai dengan anak-anak, meski mengangkat tema atau ide yang berhubungan dengan orang dewasa. Misalnya saja, perceraian kedua orangtua, harus dari sudut pandang anak.
4. Konflik atau masalah dalam cerita harus ada penyelesaian sebagai bahan pembelajaran untuk anak.
5. Kesan dalam cerita harus mendalam agar anak dapat memaknai cerita, merasakan adanya masalah hingga penyelesaian. Tanpa terasa mereka belajar pesan moral dalam cerita secara halus. Tanpa ada kesan cerita menggurui.
6. Dalam cerita anak harus diusahakan menggunakan kalimat positif, paragraf pendek, kejelasan tokoh, tempat, dan deskripsi pendukung lainnya, agar anak dapat membayangkan dan masuk ke dalam cerita yang sedang dibacanya.
Seperti dalam film anak-anak yang begitu banyak tayang di televisi. Karakter, latar dan ceritanya sangat jelas hingga anak menyukai tayangan tersebut. Meski sebenarnya, orangtua harus hati-hati dan mendampingi anak ketika menonton agar tidak meniru hal-hal negatif, serta terus belajar mengambil hikmah positif tontonan yang dilihatnya.
7. Cerita anak tidak hanya melulu cerita di sekitar keseharian mereka. Dunia mereka yang penuh imajinasi harus kita asah ke arah masa depan. Bukan hanya dengan fabel atau legenda, tetapi dengan cerita futuristik dan cerita misteri.
8. Cerita futuristik yaitu cerita yang dipenuhi dengan khayalan masa depan. Tidak ada sihir, bukan raksasa di tengah hutan yang banyak menelan korban penduduk sekitarnya, tetapi makhluk asing dari planet lain yang dikenal anak sebagai alien, ataupun cerita yang berhubungan dengan masa depan lainnya.
9. Cerita misteri, cerita yang mengandung sesuatu yang belum jelas, penuh dengan teka-teki, ada rahasia besar yang harus diungkap sehingga membuat pembaca penasaran.
Hal-hal tersebut mungkin akan dianggap sederhana. Ternyata menulis cerita anak tidaklah sesulit sangkaan kita. Cerita anak merupakan cerita kita di masa lalu. Cerita dimana seseorang belajar berbicara, berjalan, bergaul lebih luas dengan lingkungannya, serta memaknai kehidupan dengan sudut pandang kanak-kanaknya.
Diri kita sendirilah kunci menulis cerita anak. Kok bisa? Tentu saja. Kalau kita mau memasuki kepenulisan cerita anak, tetapi kita hanya diam saja tanpa melakukan apapun, tentu hanya menjadi khayalan belaka tanpa kerja nyata.
Jadi, mari kita bersama-sama menulis cerita anak dengan hati. Membuat cerita anak yang menginspirasi. Hingga menjejakkan pesan bagi anak dalam memengaruhi kehidupan positif mereka.
Semoga bemanfaat.
Salam.
Unlike

Write Me A Research Paper

Fotolia.com”> Approach the composition. The paragraphs in the torso should be arranged in a reasonable order or in a-by- order if you should be writing a how to dissertation. Why the topic is very important in conclusion should summarize your primary items and tell viewers. Create a thesis statement. Fifth-grade students are exposed to various variations and genres of writing, consequently their writing will begin to echo the varied buildings and purposes of writing. Jot down as you prepare to write the essay numerous suggestions that occur to you.

Law-school takes 3 years to accomplish.

Create any adjustments you think if you are write me a research paper pleased with it are essential to create your essay sharper and write out your ultimate variation. The center will support the information your ideas about this along with you located. Get records of what sustains the statement and is not unimportant. Documents within the fifth grade should be obvious, brief and move effortlessly. Like, if you are writing about the real history write me a research paper of the Sputnik satellite start in 1957, you can state in the finish that Sputnik helped to begin with the room race between your former Soviet Union and the United States plus it helped pave the way in which for your building of the International Space Stop that is contributed between your two places nowadays.